Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Marah, Aniaya, Dan Musibah

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan  pertanyaan dari beberapa teman, di antaranya dari seorang kyai lewat tilpun. Pertanyaan itu semua serupa, yaitu tentang kejadian beberapa tahun terakhir terkait dengan banyaknya musibah yang terjadi. Munculnya tsunami, gunung meletus di mana-mana, banjir, putting  beliung, berbagai penyakit seperti flu burung, folio, flu babi, demam berdarah, dan lain-lain yang seolah-olah tidak mau berhenti,   menimbulkan banyak pertanyaan, yaitu ada apa sebenarnya dengan musibah itu semua.  

  Belum lagi akhir-akhir ini, entah sebab apa, banyak orang bertengkar.  Konflik itu mulai dari antara KPK dengan kejaksaan dan kepiolisian, eksekutif dengan legislative terkait dengan  Bank Century, konflik antara polisi dan mahasiswa di Makassar, perang antar  suku di Papua, konflik yang dipicu oleh makam Mbah Priuk,  tawuran di mana-mana, konflik dengan Malaysia, dan hampir-hampir salah paham dengan Belanda, dan masih banyak lai. Demikian pula akhir-akhir ini terjadi tsunami di kepulauan Mentawai, gunung merapi meletus, dan masih apa lagi yang akan terjadi.   Terjadinya musibah, atau bencana alam sebenarnya adalah hal biasa. Di manapun dan kapan pun   bisa terjadi. Hanya yang  menjadi bahan pertanyaan oleh banyak orang adalah,  mengapa hal itu  terjadi secara beruntun dan susul menyusul. Keadaan seperti itulah kemudian  diangap  sebagai sesuatu yang tidak biasa.  Memang dalam  puluhan  tahun, musibah secara beruntun yang menelan banyak korban, baru beberapa tahun terakhir ini.  Itulah sebabnya, banyak  orang bertanya-tanya dan tidak  ada seorang pun yang bisa menjawab secara pasti.   Pertanyaan itu, tidak saja berasal dari orang pada umumnya. Beberapa hari terakhir, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang kyai melalui tilpun. Sudah barang tentu saya tidak menjawabnya, dan justru saya meminta penjelasan balik dari kyai dimaksud. Saya ketika itu ingin mendapatkan penjelasan dari pespektif kyai. Sekalipun kyai tidak segera  bersedia memberikan penjelasan, tetapi setelah saya desak, ternyata jawaban itu akhirnya  diberikan.   Kyai mengajak saya, ——-masih lewat tilpun,  untuk merenungkan kembali tentang kejadian di negeri ini,  sejak  belasan tahun yang lalu hingga sekarang. Dimulai sejak awal  reformasi, banyak  orang marah. Kemarahannya itu   ditumpahkan dengan  berdemonstrasi di mana-mana.  Banyak orang ketika itu menghujat siapapun, terutama adalah para pemimpinnya. Suara mereka tidak terkendali, seperti mengumpat, mencaci maki, menjek-jelekkan orang lain. Yang terjadi di mana-mana adalah kemarahan. Seolah-olah negeri ini hanya dihuni oleh orang marah, dalam waktu yang cukup lama.   Belum lagi selesai peristiwa itu, dengan dalih  untuk menghukum  terhadap  orang-orang yang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN),  maka di mana-mana digelar pengadilan. Siapapun yang salah, dan kapanpun kesalahan itu dilakukan, jika terdapat orang yang melapor,maka siapapun diadili dan dimasukkan ke penjara. Siapapun yang dianggap salah,  tidak peduli diberlakukan sama. Akhirnya banyak pejabat tinggi, seperti oknum  menteri, gubernur, DPR, BUMN, Bank, bupati, wali kota, DPRD, hingga rektor, kepala sekolah, dosen, guru, pengusaha dan lain-lain,  diadili dan dimasukkan ke penjara.   Kejadian itu, ——oleh kyai tersebut,  dianggap  mengakibatkan banyak orang sakit hati. Dengan pengadilan itu, banyak orang yang merasa teraniaya. Sebab orang yang dituduh tersebut   juga tahu bahwa, mereka yang memproses pengadilan itu, seperti polisi, jaksa, hakim, pembela dan lain-lain juga terlihat telah melakukan kesalaha yang sama. Maka kemudian dirasakan sebagai telah terjadi ketidak-adilan yang luar biaya. Banyak orang menjadi merasa teraniaya. Mereka sebenarnya setuju bahwa, keadilan perlu ditegakkan, akan tetapi harus dilakukan secara adil. Jangan sampai, justru mereka yang memasukkan ke penjara adalah orang-orang yang telah melakukan kesalahan yang sama, dan bahkan bisa jadi  kesalahan itu lebih berat.   Selain itu,  fitnah pun terjadi di mana-mana. Akibatnya,  banyak orang yang hatinya tersakiti, gelisah, jengkel, marah, frustasi , karena ketidak-adilan itu. Kata kyai tersebut, jika di suatu negeri, atau di mana saja, terdapat banyak orang yang merasa teraniaya, dan diperlakukan secara tidak adil, dipermalukan, maka tempat atau bumi  yang dihuni oleh orang-orang tersebut,  akhirnya juga berontak dan marah. Kyai akhirnya juga menjelaskan, bahwa terjadinya bencana alam yang bertubi-tubi, pertengkaran yang tidak pernah berhenti, penyakit yang muncul di mana-mana, semua itu adalah bentuk dari protes alam ini.   Akhirnya, kyai memberikan solusi, bahwa agar bangsa ini tenang kembali, musibah demi musibah   berhenti, maka  sebaiknya segera  dilakukan taubah bersama.  Kyai menyebutnya,  perlu melakukan colling down, dan memohon pertolongan kepada Allah, berdoa secara bersama-sama.  Bahwa semua saja sebenarnya dianggap telah melakukan kesalahan, dosa, dan kerusakan,  sehingga  cara yang tepat adalah harus saling menjalin silaturrahmi lagi dan saling memaafkan.  Kesalahan, dosa, dan kerusakan itu, kata kyai,  telah dilakukan bersama-sama. Maka, tidak semestinya di antara mereka saling menganiaya. Doa orang-orang teraniaya akan dikabulkan oleh Allah swt.   Demikian Inilah hasil analisa dan usulan penyelesaian terhadap persoalan bangsa yang datang dari orang yang selalu berdzikir dan menggunakan mata hati. Apakah analisa tersebut betul,  maka jawabnya,  juga tidak ada yang tahu. Akan tetapi, kyai telah  mencoba untuk memberikan penjelasan, yaitu  mengkaitan antara kemarahan massal, berbuat aniaya,  dan musibah yang terjadi. Setidaknya, bagi kita semua, hal itu  bisa dijadikan bahan renungan,  agar semuanya tidak berbuat aniaya kepada siapapun.  Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *