Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Identitas Ego
Keberhasilan individu dalam mencapai identitas ego, khususnya remaja akan dipengaruhi oleh beberapa faktor (Berzonsky, 1983; Fuhrmann, 1990; Marcia, 1993) sebagai berikut:
a. Adanya identifikasi dengan orangtua sampai usia remaja. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Schiaffino, dkk (2001) mengenai proses identifikasi melalui attachment mahasiswa kepada orangtua, ditemukan bahwa
secara signifikan para mahasiswa tersebut memiliki tingkat eksplorasi dan komitmen yang tinggi.
b. Gaya pengasuhan orangtua demokratis. Gaya pengasuhan memiliki dampak yang positif pada perkembangan identitas ego remaja. Orangtua yang demokratis dapat membantu perkembangan identitas ego yang sehat bagi remaja.
c.Adanya model untuk identifikasi. Adanya orang dewasa yang berperan sebagai model bagi remaja dapat mempengaruhi pembentukan identitas egonya. Model biasanya dari orangtua dan orang lain yang sukses dalam hidupnya.
d. Homogenitas lingkungan. Remaja yang tinggal di lingkungan yang homogen cenderung mempunyai identitas jenis foreclosure, yaitu identitas yang sifatnya “diberikan” oleh masyarakat di sekitar individu yang bersangkutan. Remaja yang tinggal di lingkungan yang relatif heterogen dihadapkan pada lebih banyak pilihan sehingga mereka pun lebih sering mengalami krisis dan dipaksa untuk memilih di antara alternatif-alternatif yang ada.
e. Perkembangan kognisi. Individu yang mampu berpikir secara operasional formal cenderung lebih mampu membuat komitmen terhadap alternatif yang dipilihnya.
f. Sifat individu. Sifat ingin tahu dan keinginan untuk eksplorasi yang besar dapat membantu pencapaian identitas.
g. Pengalaman kerja. Pengalaman kerja individu dapat menstimulasi pembentukan identitas ego.
h. Jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin mengarah pada perbedaan perilaku yang juga mempengaruhi perkembangan identitas ego remaja laki-laki dan perempuan.
i. Etnis. Identitas etnis dan harapan dari lingkungan etnis tempat individu berada dapat mempengaruhi identitasnya.
j. Locus of control. Oleh Rotter (dalam Berzonsky, 1981) dikatakan hal ini sebagai faktor yang mempengaruhi remaja dalam mencapai identitas egonya. Kontrol yang bersumber dari dalam diri dan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu serta kesuksesan memecahkan krisis identitas bertendensi pada kemampuan remaja untuk mengatasi pertanyaan yang berkaitan dengan identitas ego.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, faktor lain yang turut mempengaruhi perkembangan identitas ego adalah peran jenis (Orlofsky, dalam Young dan Bursik,2000). Hasil penelitian Orlofsky menemukan bahwa baik laki-laki dan perempuan yang skor sifat maskulin dan androgininya tinggi mampu mencapai status identity achieved dibandingkan sifat feminin dan tak tergolongkan. Lebih lanjut disebutkan bahwa sifat maskulin dan androgini penting untuk mencapai identitas achievement pada mahasiswa laki-laki maupun perempuan dan sifat tak tergolongkan lebih kepada identity diffuse (dalam Marcia,1993).
Dari sejumlah faktor yang telah disebutkan di atas, hanya pola asuh demokratis, peran jenis dan jenis kelamin yang digunakan dalam penelitian ini.
Arabiyatuna Arabiyatuna
