Pembentukan status identitas ego pada remaja tengah
Meraih status Identitas ego merupakan tugas yang harus dicapai oleh remaja berkaitan dengan perkembangan psikososial yang ada di masa tersebut. Pembentukan identitas ego ini memerlukan proses kematangan kognisi, emosi dan sosial dari remaja yang bersangkutan.
Menurut Erikson (dalam Marcia, dkk, 1993) pembentukan identitas ego melewati 8 tahap yang masing-masing tahap tersebut memiliki krisis yang harus dilewati oleh setiap individu. Adapun kedelapan tahap tersebut:
a.trust dan mistrust
b. autonomy dan shame c. initiative dan guilt d.industri dan inferiority
e. identity dan identity diffusion; f. intimacy dan isolation; g.generativity dan stagnasi h.integrity dan despair.
Pada trust dan mistrust digambarkan sebagai sebuah garis kontinum dengan dua titik yang berlawanan, yaitu titik positif untuk trust dan titik negatif untuk mistrust. Begitu pula ditahap-tahap berikutnya. Keberhasilan remaja dalam mencapai tahap trust, autonomy, initiative dan industry akan menentukan keberhasilan remaja dalam mengatasi masa krisisnya dan menemukan identitas egonya dengan sukses. Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Eisenberg (dalam Hurlock,1973) bahwa perkembangan optimal pada masa remaja
tergantung pada kesuksesan mereka menyelesaikan tugas perkembangan pada masa kanak-kanak. Selanjutnya kejadian-kejadian yang sifatnya klinis yang dialami saat remaja dan berlangsung cukup lama terkadang sulit untuk diselesaikan. Ini dapat diprediksikan kurangnya kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas perkembangan dengan tepat dan baik di masa sebelumnya.
Erikson (dalam Lerner, 1976; Muss, 1989; Santrock, 1999 dan Steinberg, 2000) menyatakan bahwa usia remaja adalah tahap awal mempertanyakan mengenai diri remaja tersebut yaitu “siapa dirinya” dan “apa yang akan dilakukan”, saat itu pula munculnya kesadaran mengenai identitas ego pada remaja tersebut. Remaja harus mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut karena mereka hidup di dalam lingkungan bersama masyarakat yang mana masyarakat juga mulai mempertanyakan keberadaan remaja tersebut. Misalnya, remaja harus memulai untuk membuat keputusan mengenai apakah dia harus melanjutkan kuliah atau bekerja, apakah dia melakukan hubungan seksual saat berpacaran atau menundanya dan dilakukan setelah menikah. Sebelum sampai pada keputusan yang dibuat atas pilihan- pilihan yang ada, masyarakat biasanya membenarkan remaja tetap berperilaku sebagai anak. Di dalam hal ini, remaja tersebut sambil mencoba menjadi orang dewasa atau istilah lainnya adalah gap antara sekuritas masa anak dan otonomi masa dewasa. Erikson menyebutnya sebagai psychological moratorium.
Pendapat yang sama ditambahkan oleh Konopka (dalam Pikunas, 1976) yang menyatakan bahwa remaja perlu untuk melakukan eksperimen dengan atau melalui ide-ide dan peran sebelum mengambil komitmen.
Kunci utama dalam menyelesaikan krisis antara mencapai identitas ego dan identitas diffusion adalah terletak pada interaksi remaja dengan individu lain. Peran individu lain sebagai model yang tepat adalah penting bagi remaja dalam proses mencari dan menemukan identitas egonya. Umpan balik berupa persepsi dan penilaian atau evaluasi dari lingkungan di sekitar remaja terhadap usahanya dalam menemukan identitas ego akan mendukung remaja tersebut dalam menemukan jawaban tentang siapa dirinya, akan kemana dan apa yang akan dilakukan nanti. Hal yang terpenting juga dalam mencapai identitas ego pada remaja adalah dibutuhkan kesadaran mengenai keunikan dan kemampuan yang dimiliki dan perbedaan maupun persamaannya dengan individu lain. Selanjutnya pengalaman remaja dalam menyelesaikan krisis ditahap-tahap sebelumnya dengan sukses akan memudahkan remaja tersebut dalam meraih identitas egonya.
Status identitas ego terbagi dalam empat tahap atau status, yaitu diffused, foreclosure, moratorium dan achieved. Keempat status tersebut akan ditandai dengan hadir atau tidaknya eksplorasi dan komitmen. Remaja harus dapat menyelesaikan krisis antara meraih identitas dan kondisi diffuse melalui bereksperimen dengan berbagai ide, pikiran dan sejumlah peran sebelum sampai pada komitmen (Pikunas, 1976 dan Erikson dalam Santrock, 1999). Keberhasilan remaja dalam meraih identitas ego achieved mengartikan bahwa makin menurunya status identitas ego diffused dan akan stabil identitas ego achieved seiring dengan bertambahnya usia (Waterman, dalam Santrock,
1999). Sejalan dengan pendapat Marcia (1993) yang menyatakan bahwa status identitas ego akan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
Adanya kesadaran remaja untuk mencapai status identitas ego yang diharapkan akan mendorong remaja tersebut untuk melakukan eksperimen atau bereksplorasi. Hal ini sebagai upaya untuk mengumpulkan informasi sehingga pada akhirnya memiliki komitmen pada aspek pekerjaan, agama, pacaran, kesukuan, sikap terhadap peran jenis dan persahabatan. Munculnya kesadaran untk meraih status identitas ego yang diharapkan diduga dipengaruhi oleh faktor pola asuh demokratis, peran jenis yang dimiliki dan jenis kelamin. Mussen, dkk (1979) menyatakan bahwa kesadaran terhadap identitas ego pada remaja tengah difasilitasi oleh sejumlah faktor, yaitu: reward atas kesuksesan usaha yang dilakukan, hubungan antara remaja dan orangtuanya, identifikasi remaja terhadap orangtua yang memiliki jenis kelamin yang sama.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Marcia (1993) membagi proses pembentukan identitas ego pada remaja menjadi tiga tahap yaitu; pada remaja awal disebut sebagai periode destructuring, maksudnya bahwa mereka masih mengalami transisi dari usia anak menuju dewasa sehingga perubahan dalam aspek kognisi, psikoseksual dan fisik masih alam proses transisi juga. Pada remaja tengah disebut dengan periode restructuring, yang mana mereka mulai mengorganisasikan dan membentuk keterampilan lama dan baru. Selanjutnya usia remaja akhir, disebut sebagai periode consolidation yaitu periode dalam rentang kehidupan waktu pertama kali identitas diri diperoleh. Namun berbicara mengenai identitas ego tidak dimulai dan berakhir pada usia remaja melainkan
telah berlangsung di usia sebelumnya seperti yang dikatakan Erikson melalui delapan tahap perkembangan psikososial.
Marcia (dalam Santrock, 1999) membagi status identitas ego berdasarkan hadir atau tidaknya eksplorasi dan komitmen. Eksplorasi adalah periode remaja masih mencari dan memilih di antara berbagai alternatif yang ada, sedangkan komitmen merupakan suatu periode waktu remaja telah memutuskan satu pilihan yang tepat di antara banyak pilihan. Adapun keempat status identitas ego sebagai berikut: Identitas diffusion merupakan status remaja yang belum mampu melakukan eksplorasi terhadap pilihan-pilihan yang ada untuk kemudian membuat komitmen. Contoh di dalam kehidupan seharian remaja, saat remaja tersebut belum dapat menentukan cita-cita, dikarenakan remaja tersebut tidak berusaha untuk mencari informasi yang berhubungan dengan cita-citanya tersebut, misalnya berdiskusi dengan orangtua, guru maupun teman atau remaja tersebut belum menemukan model untuk identifikasi Biasanya model adalah individu yang lebih dewasa yang telah berhasil dalam cita-cita.
Identitas foreclosure adalah status waktu remaja sudah membuat komitmen namun tidak didahului oleh eksplorasi dengan kata lain remaja dalam membuat komitmen terhadap apa yang dijalaninya tanpa disertai usaha mencari informasi atau mencoba-coba. Umumnya komitmen yang dibuat remaja adalah berasal dari orangtua. Misalnya, remaja yang telah berkomitmen atau meyakini agama tertentu, namun keyakinan terhadap agamanya tersebut tidak diikuti oleh usaha untuk menambah pengetahuan agamanya, memperbanyak ibadah dan lain
sebagainya. Keyakinan terhadap agama hanya mengikuti agama yang diyakini oleh orangtua remaja tersebut.
Identitas moratorium adalah status yang menggambarkan bahwa remaja telah melakukan eksplorasi terhadap alternatif yang ada, namun remaja tersebut belum mampu membuat satu keputusan atau pilihan untuk dijadikan komitmen dalam hidupnya. Remaja yang berada dalam kondisi ini masih bingung membuat satu keputusan setelah banyak mendapatkan informasi. Contoh yang dapat ditemukan di dalam kehidupan remaja adalah bingung memutuskan apakah pacaran boleh atau tidak boleh. Banyaknya informasi yang diperoleh remaja mengenai pacaran, sebagian individu membolehkan, namun sebagian individu lain tidak membolehkan pacaran. Remaja yang bersangkutan sulit untuk membuat keputusan berdasarkan informasi yang didapatkannya.
Identitas achievement adalah status yang menggambarkan bahwa remaja telah melewati krisisnya atau telah melakukan eksplorasi dan telah menentukan satu pilihan dan komitmen terhadap pilihan tersebut. Contohnya, remaja yang telah memutuskan dan berkomitmen untuk tidak terlibat dalam penggunaan alkohol dan obat terlarang. berdasarkan pengalaman mendapatkan informasi atau menyaksikan sendiri individu lain yang kecanduan alkohol dan obat terlarang. Selanjutnya mempertimbangkan baik dan buruknya serta manfaatnya bagi diri.
Akhirnya, pencapaian status identitas ego yang achieved adalah status identitas ego yang diharapkan di masa remaja. Status identitas ego yang achieved dibentuk melalui resolusi atau penyelesaian terhadap konflik yang
berkenan dengan aspek agama, pekerjaan, kesukuan, pacaran, peran jenis dan persahabatan sehingga pada akhirnya melakukan komitmen terhadap aspek- aspek tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas penelitian ini memfokuskan pembentukan status identitas ego pada remaja tengah melalui ada tidaknya komitmen dan eksplorasi pada aspek pekerjaan, agama, kesukuan, persahabatan, pacaran dan peran jenis.
Arabiyatuna Arabiyatuna
