Kondisi Fisik Tanah
Berbagai aktivitas dalam kegiatan penambangan menyebabkan rusaknya struktur, tekstur, porositas dan bulk density sebagai karakter fisik tanah yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi tanah yang kompak karena pemadatan menyebabkan buruknya sistem tata air (water infiltration and percolation) dan peredaran udara (aerasi) yang secara langsung dapat membawa dampak negatif terhadap fungsi dan perkembangan akar. Akar tidak dapat berkembang dengan sempurna dan fungsinya sebagai alat absorpsi unsur hara akan terganggu, akibatnya tanaman tidak dapat berkembang dengan normal.
Rusaknya struktur dan tekstur juga menyebabkan tanah tidak mampu untuk menyimpan dan meresap air pada musim hujan, sehingga aliran air permukaan (surface run off) menjadi tinggi. Sebaliknya tanah menjadi padat dan keras pada musim kering sehingga sangat berat untuk diolah yang secara tidak langsung berdampak pada kebutuhan tenaga kerja.
Kondisi Kimia Tanah
Dalam profil tanah yang normal lapisan tanah atas merupakan sumber unsur- unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah banyak seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan belerang dan mikro yaitu mangan, boron, tembaga, besi, zeng serta molibdenum yang sangat esensial bagi pertumbuhan tanaman (Soepardi, 1983). Selain itu juga berfungsi sebagai sumber bahan organik untuk menyokong kehidupan mikroba.
Hilangnya lapisan tanah atas (top soil) yang proses pembentukannya memakan waktu ratusan tahun (Bradshaw, 1983) dalam Badri (2004), dianggap sebagai penyebab utama buruknya tingkat kesuburan tanah pada lahan bekas pertambangan. Kekahasan unsur hara esensial seperti nitrogen dan fosfor, toksisitas mineral dan kemasaman tanah (pH yang rendah) merupakan kendala umum dan utama yang ditemui pada lahan pasca penambangan.
Lahan bekas tambang yang akan ditanami biasanya berupa campuran dari berbagai bentuk bahan galian yang ditimbun satu sama lainnya secara tidak beraturan dengan komposisi campurannya sangat berbeda satu tapak ke tapak lainnya. Hal ini tentunya mengakibatkan sangat bervariasinya reaksi tanah (pH) dan kandungan unsur hara pada areal-areal yang ditanami.
2.2.3. Kondisi Biologi Tanah
Hilangnya lapisan top soil dan serasah sebagai sumber karbon untuk menyokong kehidupan mikroba potensial merupakan penyebab utama buruknya kondisi populasi mikroba tanah. Hal ini secara tidak langsung akan sangat mempengaruhi kehidupan tanaman yang tumbuh di permukaan tanah tersebut.
Keberadaan mikroba tanah potensial dapat memainkan peranan sangat penting
bagi perkembangan dan kelangsungan hidup tanaman. Aktivitasnya tidak saja terbatas pada penyediaan unsur hara, tetapi juga aktif dalam dekomposisi serasah dan bahkan dapat memperbaiki struktur tanah.
Sebaran tanah di areal penelitian, ditetapkan dengan mengacu pada studi terdahulu yang pernah dilakukan (Dokumen AMDAL PT. Aneka Tambang Tbk,
2006). Klasifikasi tanah yang dilihat langsung dilapangan menggunakan sistem klasifikasi (USDA 1977). Sebaran tanah pada areal penelitian terdiri dari 2 Ordo tanah yaitu : Inceptisol dan Oksisol. Ordo tanah ini menurunkan tiga grieat group masing- masing Dystropepts, Haplortox dan Akrothox . Sifat fisik tanah meliputi struktur, tekstur, permeabilitas, berat volume dan porositas. Hasil pengukuran selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Sifat fisik tanah di lokasi penambangan nikel Tanjung Buli
Parameter Satuan
Dystropepts Haplortox Akrothox
1 2 3 1 2 1 2
Pasir (Sand) Lanau (Silt) Liat (Clay) BD
Ruang pori total
Struktur
Permeabilitas
%
%
%
g/cc
%vol
– cm/jam
40
40
20
0,94
64,5
–
5,4
44
40
16
0,82
69,1
–
5,54
26
42
32
1,11
58,1
–
1,34
22
36
42
1,25
52,8
–
1,22
24
32
44
1,23
53,6
–
1,15
30
44
26
1,14
58,4
–
2,24
46
36
1,16
57,5
4
–
2,32
Sumber : Dokumen AMDAL PT. Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel Daerah
Operasi Maluku Utara , 2006
Berdasarkan Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa sifat fisik tanah di areal penelitian bervariasi. Tekstur tanah yang merupakan perbandingan antara fraksi pasir, lanau dan liat menunjukkan variasi untuk masing- masing jenis tanah, demikian pula untuk sifat fisik tanah yang lain. Secara umum perbedaan sifat fisik
tersebut akan berpengaruh pada kemampuan tanah untuk menahan erosi. Menurut Handayani (2002), agregat tanah terbentuk diawali dengan suatu mekanisme yang menyatukan partikel-partikel primer (pasir, debu dan liat) membentuk gumpulan atau kelompok dan dilanjutkan dengan adanya komponen yang bertindak sebagai pengikat partikel-partikel tanah agar partikel-partikel tanah menjadi lebih kuat.
Arabiyatuna Arabiyatuna
