Konstruksi Realita Dalam Media Massa
Penyajian citra remaja perempuan di media massa merupakan salah satu wujud fungsi media massa untuk menyajikan realitas yang siap dinikmati oleh khalayaknya. Isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan bahasa bukan saja sebagai alat mempresentasikan realitas, namun juga menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut.
Istilah konstruksi realitas menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, melalui bukunya The Social Construction of Reality: A Treatise in the Socialogical of Knowledge, yang dikutip oleh Alex Sobur. Dalam buku tersebut mereka menggambarkan “proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu secara intens menciptakan suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif”.[1]
Realitas sosial yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann yang dikutip Burhan Bungin dalam bukunya Imaji Media Massa ini terdiri dari:
- “Realitas objektif
realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia ojektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan
- Realitas Simbolik
merupakan ekspresi simbolik dari realitas objektif dalam berbagai bentuk
- Realitas subjektif
adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas objektif dan simbolik ke dalam individu melalui proses internalisasi”.[2]
Berger dan Luckmann menjelaskan realitas sosial dengan memisahkan pemahaman “kenyataan” dan “pengetahuan”. Mereka mengartikan “realitas sebagai kualitas yang terdapat didalam realitas-realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak bergantung pada kehendak kita sendiri. Sementara, pengetahuan diartikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik secara spesifik”.[3]
Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara objektif, namun pada kenyataannya semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi. Objektivitas baru bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subjektif yang sama. “Pada tingkatan generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolik yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupan”.[4]
Menurut Berger dan Luckmann, realitas sosial dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivitasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial dalam pandangan mereka, tidak berlangsung dalam ruanghampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.
Jadi sebenarnya yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann adalah telah terjadinya dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Dialektika ini terjadi melalui tiga tahap peristiwa :
- “Eksternalisasi
Usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Ini sudah menjadi sifat dasar manusia, ia akan selalu mencurahkan diri dimana ia berada. Manusia tidak dapat kita mengerti sebagai ketertutupan yang lepas dari dunia luarnya. Manusia berusaha menangkap dirinya, dalam proses inilah dihasilkan suatu dunia, dengan kata lain, manusia menemukan dunianya sendiri dalam suatu dunia.
- Objektivitas
Hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut.
- Internalisasi
Berlangsung didalam kehidupan masyarakat secara simultan dengan cara membentuk pengetahuan masyarakat”.[5]
Menurut Debra H Yatim yang dikutip Idi Subandy-Hanif Suranto dalam Wanita dan Media mengatakan “bahwa isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan bahasa bukan saja sebagai alat merepresentasi realitas, namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut”.[6]
Disatu pihak, betul media menjadi cerminan bagi keadaan di sekelilingnya. Namun dilain pihak, ia juga membentuk realitas sosial itu sendiri. Lewat sikapnya yang selektif dalam memilih hal-hal yang ingin diungkapkannya dan juga lewat caranya menyajikan hal-hal tersebut, media memberi interpretasi, bukan membentuk realitasnya sendiri.[7]
Realitas media berbeda dengan realitas sosial. Perbedaan mendasarnya adalah bahwa realitas media diperoleh khalayaknya melalui penyajian media massa, sedangkan realitas sosial dapat diketahui dan juga dapat dialami langsung tanpa perantaraan media massa. Namun dengan terbiasanya khalayak mengkonsumsi pesan-pesan media massa dan kurangnya pengalaman langsung khalayak dengan realitas akibatnya media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang di konstruksikan.
Menurut Dennis McQuail dalam buku yang berjudul Teori Komunikasi Massa mengatakan bahwa:
“Media massa memiliki fungsi kontrol sosial yang lebih luas, yaitu mencakup segala proses yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak, bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma-norma serta nilai-nilai yang berlaku. Media massa cenderung merendahkan para pembelot, baik dalam informasi maupun isi fiktif.”[8]
Lebih lanjut Dennis McQuail dalam buku teori Komunikasi Massa mengatakan bahwa :
“citra yang ditampilkan media massa biasanya mengalami perubahan (distorsi) sebagai akibat adanya segi yang ditonjolkan karena masyarakat menyukainya, mencelanya, atau menghakiminya. Sebaliknya, media massa juga mampu menutupi kebenaranuntuk tujuan propaganda atau pelarian diri dari suatu kenyataan”.[9]
Realitas yang ditampilkan di media dengan demikian merupakan realitas yang telah disederhanakan.
[1] Alex Sobur, Analisis Teks Media: suatu pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal. 91.
[2] Burhan Bungin, Imaji Media Massa : Konstruksi dan Makna Realitas Social Iklan TV dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta, 2001 hal. 13.
[3] Alex sobur, Op Cit., hal. 91.
[4] Alex Sobur, Loc Cit.
[5] Burhan Bungin, Op. Cit., hal. 6.
[6] Idi Subandy-Hanif Suranto, Wanita dan Media Massa: Wanita dan Media, remaja Rosdakarya, Bandung, 1998, hal. 134.
[7] Alex Sobur, Op. Cit., hal. 56.
[8] Dennis McQuail, Op.Cit., hal. 187.
[9] Ibid., hal. 53.
Arabiyatuna Arabiyatuna
