Tuesday, 12 May 2026
above article banner area

Bahasa Tangan

Banyak cara orang saling berkomunikasi. Ada kalanya dengan menggunakan bahasa lisan, bahasa tulis, bahasa tubuh, dan juga dengan bahasa tangan. Tentu masih banyak lagi cara lainnya untuk menyampaikan pesan itu. Tulisan singkat ini mengajak untuk memperhatikan bagaimana tangan  digunakan untuk berkomunikasi.

  Tangan tatkala dijadikan sebagai alat menyampaikan pesan, fungsinya hanyalah  menggambarkan pikiran dan atau batin pemiliknya. Jika pemilik tangan itu ingin menyampaikan pesan, untuk mengajak kedamaian, maka tangan itu akan dibuka lebar-lebar. Sebaliknya, jika pesan yang disampaikan adalah kebencian, marah, permusuhan, maka tangan akan diangkat dengan posisi mengepal.   Ketika seseorang berdoa misalnya, maka kedua tangannya dibuka, sebagai symbol permohonan dan sekaligus penghormatan. Membuka tangan, artinya memohon dan  sekaligus menghormat. Mengawali sholat, dengan membaca  takbir, kedua tangan seseorang  dibuka,  diposisikan di atas bahu, sebagai pertanda hormat, mengagungkan, dan memuliakan.   Begitu pula seorang tentara, polisi, atau lainnya, tatkala memberikan hormat juga demikian. Tangan kanannya diangkat, dalam posisi terbuka di atas bahu, persis di sebelah telinga. Biasanya penghormatan itu juga dijawab dengan cara serupa oleh orang yang dihormati. Dengan begitu, tangan  bisa digunakan sebagai  bahasa komunikasi untuk menggambarkan penghormatan dan atau sebaliknya kebencian atau permusuhan.     Islam sebagai agama yang menganjurkan agar terbangun keselamatan, kasih sayang,  dan kedamaian,  menganjurkan umatnya agar selalu membuka kedua tangannya. Sehari-hari, paling tidak lima kali dalam sehari semalam, kaum muslimin dibiasakan membuka tangannya untuk menyembah, mengagungkan, dan memuliakan Tuhannya. Pada setiap kali sholat, —-tergantung jumlah rakaátnya, berkali-kali kaum muslimin membuka kedua tangannya, untuk maksud tersebut.   Demikian pula, selesai sholat kaum muslimin saling berjabat tangan, sebagai tanda kedamaian antar sesama. Islam tidak  menganjurkan untuk  saling mengepalkan tangan sebagai tanda saling permusuhan atau membenci.  Dalam Islam tidak dibangun saling memusuhi, membenci, atau merusak, apalagi membunuh. Sebaliknya, Islam justru menganjurkan agar saling mencintai, menolong, menghormati,  dan menyelamatkan.     Kepada orang yang membenci dan juga memusuhi pun,  Islam tidak menganjurkan membalas dengan permusuhan dan kebencian, melainkan,  supaya dibalas kebaikan dengan cara  arif dan hikmah.  Mereka yang membenci dan memusuhi itu agar diajak untuk memasuki alam kedamaian, ialah Islam. Oleh karena itu, dakwah sebagai konsep mengajak kepada siapapun harus dilakukan dengan hikmah dan nasehat yang baik. Cara itu dipandang lebih baik dan mulia dibanding dengan mengepalkan tangan.   Bahkan bahayanya, jika kepalan tangan itu yang seringkali  ditunjukkan, maka bisa jadi,   bagi orang yang belum mengenal Islam secara baik, mereka akan mengira bahwa  Islam sebagai agama  mengajak saling mengepalkan tangan. Padahal sebenarnya tidak begitu, Islam justru mengajak umatnya untuk selalu membuka kedua tangan, sebagai bahasa kasih sayang, kedamaian, dan penghormatan. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *