Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Beberapa Kemuliaan Dan Nilai Pendidikan Bulan Puasa

Bulan Ramadhan dipandang sebagai bulan yang mulia di antara bulan-bulan lainya. Pada Bulan Ramadhan beberapa ayat al Qurán pertama kali diturunkan di Gua Hira’, Jabal al-Nur. Tidak itu saja, ternyata kitab-kitab suci lainnya yaitu Taurat, Zabur, dan Injil juga pertama kali diturunkan pada Bulan Ramadhan. Kemuliaan lainnya, pada Bulan Ramadhan ditetapkan oleh Allah terdapat satu malam yang disebut sebagai lailatul qadar, yaitu satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Tidak ada malam selain itu yang lebih istimewa dari malam lailatul qadar. Siapapun yang mendapatkannya, akan mendapatkan keuntungan dan kemuliaan yang amat tinggi dari Allah. Selain itu, pada Bulan Ramadhan Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Pintu-pintu sorga dibuka dan sebaliknya semua pintu-pintu neraka ditutup. Orang yang melakukan amal sholeh di bulan mulia ini akan dilipatgandakan pahalanya. Berbagai keistimewaan itu, diterangkan baik melalui kitab suci al Qurán maupun hadits Nabi. Pada bulan yang mulia ini, kaum mukminin diwajibkan menjalankan ibadah puasa dan memperbanyak amal sholeh lainnya. Menjalankan puasa di bulan Ramadhan diwajibkan hukumnya, artinya harus dilakukan bagi orang yang beriman. Sedangkan bagi mereka yang tidak dapat menjalankannya, maka agar mengganti puasa pada hari di bulan lainnya. Kecuali mereka yang tidak mampu, karena usia sudah udzur misalnya, maka bisa diganti dengan membayar fidiyah. Pada Bulan Ramdhan dianjurkan untuk memperbanyak amal sholeh, tadarrus al Qurán, qiyamul laili atau sholat malam, dan di waktu akhir bulan, agar puasanya disempurnakan dengan membayar zakat fitrah. Bulan mulia ini kemudian diakhiri dengan sholat idil fitri. Selanjutnya, dengan menjalankan ibadah puasa secara sempurna, maka seseorang disebut telah kembali ke asal kejadiannya, ialah dalam keadaan fitri. Kewajiban berpuasa, sebagaimana dapat dibaca dalam al Qurán telah diwajibkan pula terhadap umat terdahulu, sebelum ummat Muhammad. Ibadah puasa dengan demikian bukan barang baru, diperuntukkan khusus bagi umat Nabi Muhammad. Ummat sebelumnya pun telah diwajibkan untuk menjalankan ibadah ini. Informasi ini sesungguhnya juga menggambarkan bertapa pentingnya risalah puasa dalam proses kehidupan manusia untuk meraih kualitas yang sebenarnya. Selanjutnya, sedemikian istimewa Bulan Ramadhan, sehingga pada bulan itu kaum yang beriman diwajibkan untuk berpuasa, agar mereka meraih derajat taqwa. Dijelaskan dalam kitab suci al Qur’an, bahwa ada kaitan yang erat antara menjalankan ibadah puasa dengan pintu meraih kualitas kehidupan manusia, yang disebut taqwaan itu. Puasa dipandang menjadi jalan dan bahkan pintu meraih derajat tertinggi, yaitu taqwa. Oleh karena itu Bulan Ramadan disebut sebagai bulan pendidikan, atau syahru at-tarbiyah. Derajat taqwa sedemikian mulia. Bahkan disebutkan di dalam al Qurán, bahwa derajat yang paling mulia di hadapan Allah adalah derajat taqwa itu. Sedangkan untuk meraih derajat itu, harus ditempuh melalui bulan pendidikan, —-syahrut at-tarbiyah, yaitu Bulan Ramadhan. Pendidikan jika dikaitkan dengan Bulan Ramadhan, menjadi tidak sederhana. Para pakar pendidikan selama ini secara konseptual merumuskannya, sudah tepat. Yaitu menjadikan peserta didik agar meraih kedewasaan, menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berpengetahuan, terampil dan bertanggung jawab. Namun dalam tataran praksis, ternyata makna itu tidak begitu tampak mewujud. Rumusan tujuan pendidikan, agar bangsa ini beriman dan bertaqwa belum mengejawantah dalam pelaksanaannya. Diyakini bahwa tujuan pendidikan itu bisa diraih melalui proses persekolahan yang sederhana. Di sana oleh guru, para peserta didik diperkenalkan dengan sejumlah pengetahuan, pelatihan, dan kegiatan lainnya. Mereka yakin, bahwa dengan cara itu, maka peserta didik berkembang menjadi lebih baik, di antaranya beriman dan bertaqwa. Padahal jika mau sedikit saja menggunakan daya kritisnya, bukankah banyak orang yang memahami sesuatu, —–artinya kaya informasi, tetapi perilakunya jauh dari pengetahuan yang disandangnya. Berbeda dengan konsep tersebut, ternyata Tuhan dengan risalah puasa, dalam mendidik manusia tidak sebatas memberikan informasi, dan bahkan informasi berupa ayat suci al Qur’an sekalipun, yang harus dibaca pada bulan itu, melainkan masing-masing individu diberi tugas untuk mengurangi hawa nafsunya. Di sinilah letak perbedaan, antara konsep pendidikan yang diajarkan oleh Islam, dengan konsep yang dikembangkan oleh akal manusia selama ini, yang keduanya ——setidak-tidaknya dalam rumusan tujuannya, adalah meraih taqwa itu. Puasa semestinya menjadi bahan renungan bagi para penyusun konsep pendidikan, agar hasil pendidikan benar-benar sebagaimana yang diharapkan. Akhir-akhir ini terasa, para penyusun konsep pendidikan telah kehilangan arah. Berbagai macam konsep disusun, tetapi hasilnya masih belum tampak. Para lulusan berbagai jenis lembaga pendidikan, jangankan meraih derajad iman dan taqwa, sebatas memberi bekal pada lulusannya agar berhasil mendapatkamn pekerjaan, ternyata tidak seluruhnya berhasil. Lebih dari itu, puasa agar membawa hasil —–meraih derajat taqwa, tidak saja sebatas mencegah makan dan minum serta hal lain yang membatalkan puasa, tetapi juga harus meninggalkan hal yang merusak hati, akal, dan sekaligus anggota jasmani. Semestinya demikian pula pendidikan. Tidak saja sebatas memberikan informasi dalam jumlah durasi waktu dan bahan tertentu, melainkan harus ada etos, semangat, motivasi, dan juga ada proses membangun kepribadian yang utuh. Sayangnya misi pendidikan yang sangat mulia, seringkali tereduksi dalam pemaknaan yang sederhana, yaitu sebatas hanya mengikuti birokrasi pendidikan, hingga akibatnya, peserta didik tidak mendapatkan apa-apa, kecuali ijazah tanda tamat belajar. Semestinya bagi para pendidik, Bulan Ramadhan ini dijadikan bahan renungan, bagaimana mengkonsep dan sekaligus menjalankan tugas pendidikan yang tepat. Pendidikan tidak cukup hanya dimaknai sebagai proses menstransfer informasi dan bahkan pengetahuan, lebih dari itu seharusnya meliputi proses kegiatan menstransfer dan membangun kepribadian. Sedangkan membangun kepribadian harus dilakukan secara utuh, yaitu menyentuh aspek jiwa, spiritual, akhlak, ilmu pengetahuan, dan juga ketrampilan sekaligus, sebagaimana ibadah puasa dijalankan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *