Sunday, 14 June 2026
above article banner area

Puasa Mengingatkan Tentang Musuh Yang Sebenarnya

Hidup ini selalu dihadapkan oleh keinginan untuk maju, berkembang, sukses, berhasil, dan akhirnya mendapatkan kemuliaan, dan kebahagiaan. Semua orang menghendaki untuk meraih cita-cita itu semua. Namun, ada sebagian yang berhasil, sedangkan lainnya gagal. Sementara orang berhasil karena telah menemukan jalan menuju keberhasilan itu. Jalan menuju keberhasilan yang dimaksudkan itu misalnya, mereka memiliki pikiran, mental, dan hati yang sehat, ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sahabat atau relasi yang cukup banyak, dan berbagai jenis modal lainnya yang mencukupi jumlahnya. Sebaliknya, ada di antara mereka yang gagal meraih cita-cita, karena tidak tersedianya potensi untuk meraih keberhasilan hidup itu. Selain itu, kegagalan tersebut juga disebabkan oleh adanya musuh-musuh yang selalu menggagalkannya. Oleh karena itu, musuh itu harus dikenali dan seharusnya juga disingkirkan jauh-jauh. Puasa di Bulan Ramadhan, jika direnungkan secara mendalam adalah memberikan kesadaran terhadap siapa sesungguhnya musuh yang sebenarnya itu. Di Bulan Ramadhan, bagi kaum beriman diwajibkan berpuasa. Dalam berpuasa, di siang hari dilarang untuk makan, minum serta menghindari hal lain yang membatalkannya. Selain itu juga dianjurkan untuk banyak beramal sholeh, menjaga diri dari melakukan hal yang tidak terpuji, banyak bersedekah dan lain-lain. Puasa dilakukan dalam sebulan penuh. Orang yang berhasil menjalankan puasa di Bulan Ramadhan dengan baik, berniat ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah, maka akan mendapatkan derajat sebagai seorang yang bertaqwa. Derajat taqwa di hadapan Allah adalah merupakan derajat tertinggi. Manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah mereka yang menyandang derajat taqwa itu. Tentu tidak semua orang yang berpuasa berhasil mendapatkan derajat itu. Sebagaimana yang disinyalisasi oleh Rasulullah, bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga. Puasanya tidak memberikan dampak apa-apa baik terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain. Mereka itu berpuasa sebagaimana orang lain berpuasa, tetapi tidak mampu menahan gejolak hawa nafsu. Mereka masih saja berkata bohong pada saat berpuasa, menyakiti hati dan belum bisa memberi maaf terhadap kesalahan orang, belum peduli terhadap penderitaan sesama, —–yang miskin dan yatim, dan seterusnya. Orang seperti ini gagal puasanya, dan tidak akan mendapatkan derajat yang mulia itu. Jika direnungkan secara mendalam, kegagalan itu disebabklan karena yang bersangkutan gagal melawan musuh yang sangat berat. Musuh itu tidak lain, kecuali berada dalam dirinya sendiri. Musuh itu tidak kelihatan, jenisnya sama untuk semua orang, menghadapinya tidak akan mungkin menggunakan alat-alat modern, semisal mesin alat pemusnah. Musuh itu adalah berupa hati yang tidak ikhlas dalam menjalankan puasa, masih bernafsu meraih kemenangan dan sebaliknya sekaligus selalu ingin mengalahkan orang lain, berusaha mencari untung di atas kerugian orang lain, mencari kenikmatan di atas penderitaan sesama, belum mampu mengurangi sifat-sifat tamak, dengki, iri hati, hasut, kufur nikmat, dan seterusnya. Setelah Bulan Ramadhan usai, orang menyebutnya sebagai hari raya. Hari raya disebut juga sebagai hari kemenangan, ialah kemengan dari melawan hawa nafsu. Perang melawan nafsu lebih berat dari pada perang melawan musuh secara fisik. Musuh dalam perang fisik, sasaran tembaknya jelas. Berbeda dengan itu, ialah musuh berupa hawa nafsu, ternyata ada pada diri sendiri. Perang melawan hawa nafsu disebut sebagai jihad besar, sedangkan peran melawan musuh secara fisik justru disebut sebagai jihad kecil. Berangkat dari uraian singkat ini, maka puasa mengingatkan tentang musuh manusia yang sebenarnya. Musuh itu adalah kufur nikmat, selalu ingin menang dan untung sendiri, sebaliknya selalu berusaha mengalahkan dan merugikan orang lain, mengembangkan sifat-sifat yang tidak produktif, misalnya su’udhon, takabbur, pelit, menyukai permusuhan, iri hati dan dengki, malas, tidak disiplin, dan sifat-sifat buruk lainnya. Melalui puasa di Bulan Ramdhan, semua musuh yang berada dalam diri sendiri itu berusaha dihilangkan, dan digantikan dengan sifat-sifat yang mulia, yaitu misalnya, selalu khusnudhon terhadap orang lain, mempercayai dan menghormati, mengasihi sesama apalagi terhadap mereka yang lemah, kaya rasa syukur, memberikan hak-hak terhadap orang lain yang memang menjadi hak mereka, dan lain-lain. Jika semua ini berhasil ditumbuh-kembangkan pada diri seseorang, maka itulah yang dimaksud dengan keberhasilan di Bulan Ramadhan, yaitu berhasil mengenali dan sekaligus menyingkirkan musuh-musuh yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *