Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Doktor-Doktor Di Lingkungan NU

Hal yang agaknya baru di kalangan NU adalah semakin banyaknya jumlah penyandang gelar Doktor di berbagai bidang keilmuan. Putra putri warga NU yang dulu biasanya dikirim ngaji ke pesantren, sejak beberapa tahun terakhir banyak yang dikuliahkan ke kampus-kampus. Maka jadilah mereka itu bergelar sarjana, master, dan mulai banyak yang bergelar Doktor, dan bahkan profesor.

Dulu mencari anak muda NU yang bergelar Doktor amat sulit. Tetapi sekarang dengan sangat mudah dapat ditemui. Bahkan mereka itu tidak saja Doktor di bidang ilmu-ilmu keagamaan, lulusan timur tengah misalnya, tetapi juga Doktor di bidang ilmu-ilmu umum. Sebelumnya, jika terdapat orang NU bergelar Doktor, mereka itu adalah lulusan Timur Tengah, sepert Doktor di bidang Ilmu Hadits, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, dan semacamnya. Pada saat sekarang ini, fenomenanya amat lain. Banyak Doktor dari kalangan NU lulusan perguruan tinggi umum, baik dari dalam negeri atau bahkan juga luar negeri. Banyak pengamat politik, bergelar Doktor ternyata adalah anggota NU atau simpatisannya. Doktor di bidang ekonomi, Sosial, hukum, pendidikan, teknik, dan ilmu-ilmu modern lainnya ada di organisasi NU. Para Doktor itu tersebar di berbagai lapangan pekerjaan. Ada di antara mereka yang mengajar di perguruan tinggi, sebagai birokrat, lembaga legislative, eksekutif, yudikatif dan lain-lain. Sekalipun mereka tidak secara resmi terdaftar sebagai anggota NU, tetapi memiliki keterikatan emosional dengan organisasi Islam ini. Gambaran seperti itu, di masa lalu tidak banyak ditemukan. Umumnya orang-orang NU adalah lulusan pesantren, dan biasa diberi gelar kehormatan atau sebutan Gus atau kyai. Sampai sekarang pun sebutan kehormatan itu masih tetap ada, tetapi menjadi lebih komplit setelah mereka juga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Kita baca nama-nama pengurus NU bergeral sarjana kyai haji, master kyai haji, Doktor kyai haji, dan juga profesor Doktor kyai haji. Banyaknya para akademisi yang masuk pada pusaran NU ini jelas akan berpengaruh pada dinamika organisasi keagamaan ini. Organisasi Nadhlatul Ulama akan semakin modern dalam berbagai halnya. Apalagi kalau para Doktor itu berpeluang masuk dalam struktur organisasi, tanpa mengurangi peran-peran para sesepuhnya, yaitu para kyai, maka NU akan sangat dinamis dan menjadi kebanggaan bagi generasi penerusnya. Saya membayangkan, jika perkembangan itu berlanjut akan terjadi kekuatan dan sekaligus keindahan yang luar biasa. Dua entitas yang berbeda menyatu dalam sebuah gerakan organisasi Islam. Para ilmuwan yang biasanya memiliki sifat terbuka, bebas, dan berani menyatu dengan sosok kyai yang memiliki kedalaman spiritual, kearifan, dan selalu menjaga nilai-nilai akhlak yang mulia. Kumpulan dari orang-orang yang menyandang sifat-sifat itu, terasa lebih utuh atau komprehensif. Hadirnya para ilmuwan modern di NU yang bergelar Doktor itu, maka banyak pihak berharap agar lembaga pendidikan di NU yang jumlahnya sedemikian banyak akan berhasil ditingkatkan kualitasnya. Para petani, pedagang kecil, nelayan, buruh, dan bahkan jumlah penganggur yang sekian besar, yang mereka itu juga adalah anggota atau simpatisan NU akan mendapatkan berkah dari para Doktor itu. Demikian pula, tanpa menggeser peran para seniornya, mereka akan tampil di berbagai bidang lainnya, baik di pemerintahan, pendidikan, politik, ekonomi, dan tentu juga dalam pengembangan pesantren-pesantren. Hal yang perlu dicatat dan tidak boleh dilupakan oleh para Doktor di kalangan NU, sekalipun mereka berlatar belakang pendidikan umum, adalah mereka masih tetap dituntut mampu memahami kitab-kitab rujukan ulama NU, setidak-tidaknya mampu secara fasikh membaca al Qur’an. Sebab dalam tradisi NU, apalagi mereka yang dianggap sebagai tokoh, tidak boleh menyandang kelemahan dalam hal itu. Para pimpinan NU, selalu dituntut memiliki kemampuan membaca kitab atau apalagi al Qur’an secara fasikh, dan tidak boleh banyak keliru. Para kyai, yang umumnya sangat menguasai kitab kuning, merasa terganggu jika mendengar bacaan al Qur’an secara tidak fasikh. Saya yakin semua itu telah dipahami oleh para Doktor-Doktor itu, apalagi mereka sesungguhnya juga bukan orang baru di NU, melainkan sebenarnya adalah juga lahir dari tradisi kehidupan Kyai atau pesantren. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *