Saturday, 20 June 2026
above article banner area

Idul Fitri Dan Keterbatasan Kesadaran Bereksistensi

Seringkali saya merenung, mengapa saya sedemikian tidak peduli pada waktu. Padahal waktu sedemikian berharga. Allah swt., mengingatkan betapa tinggi dan mahalnya waktu, hingga bersumpah dengan waktu. Wal ashri, atau demi waktu. Hidup ini sangat sebentar waktunya, artinya sangat sedikit orang yang berusia hingga seratus tahun. Andaikan usia itu sampai 100 tahun pun biasanya sudah pikun, sehingga ingatan dan kesadarannya juga sudah berkurang dan bahkan hilang. Banyak waktu justru saya lupakan untuk memikirkan tentang keberadaan ini. Seolah-olah saya telah ada sejak lama, yaitu sejak jagat raya ini ada. Padahal yang benar tidak demikian. Saya baru ada terhhitung sepanjang umur saya. Selama itu pun harus dikurangi selama sebelum muncul kesadaran tentang keberadaan saya. Ternyata kesadaran tentang keberadaan itu tidak serta merta muncul, melainkan baru setelah seseorang berumur beberapa tahun kemudian. Kapan mulai sadar itu tentu orang juga tidak akan ingat, apakah sejak usia lima tahun, enam tahun, tujuh tahun atau lebih dari itu. Apa yang terjadi pada diri saya sejak umur lima tahun misalnya, memori itu sulit direproduksi kembali. Saya masih ingat, apa yang terjadi tatkala pemilihan umum pada tahun 1955. Peristiwa itu saya ingat, orang banyak berkumpul memilih tanda gambar partai politik. Saya ketika itu, baru berusia lima tahun. Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya, saya juga tidak mengetahui. Saya sampai sekarang ingat peristiwa itu, tetapi ketika itu saya belum mengetahui siapa sesungguhnya saya ini, serta sedang berada di mana, akan kemana, dan menjadi apa. Sebelum itu, saya juga ingat bahwa banyak orang diliputi oleh suasana takut, karena khawatir ada serangan belanda. Ada rencana-rencana kemana akan mengungsi jika secara mendadak datang tentara Belanda dan menyerang. Saya ingat sekalipun serba terbatas memori itu. Hal yang demikian tetap saja, saya selalu merasa bahwa dunia ini mulai ada bersamaan dengan keberadaan saya. Padahal ternyata, dunia ini sudah ada sejak ribuan dan bahkan milyardan tahun. Sudah berjuta-juta dan bahkan milyardan orang yang telah hidup sebelum saya. Ketika itu saya belum ada, karena itu saya belum tahu sejarah adanya kejadian itu. Saya selama itu tidak ada. Ya tidak ada. Saya tidak pernah berpikir tentang ada, karena saya tidak ada. Setelah saya sadar tentang keberadaan saya, pertanyaan selalu muncul, saya ini sesungguhnya siapa, apa yang seharusnya saya lakukan. Saya hidup dan selalu berkeinginan untuk hidup. Semangat hidup, menjadikan saya selalu menjauh dari apa saja mengancam kehidupan saya ini. Saya tidak mau jatuh dari tempat yang tinggi, tidak mau masuk ke kobaran api, tidak mau terseret oleh banjir bandang, saya juga tidak mau mendekat binatang buas, dan segala macam yang membahayakan lainnya. Itu semua karena didorong oleh semangat mempertahankan hidup itu. Masih dalam rangka mempertahankan hidup, saya harus makan ketika lapar. Saya juga harus berteman untuk memenuhi kebutuhan hidup itu. Saya juga harus memiliki sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, seperti makanan, pakaian, rumah, dan seterusnya. Ternyata kebutuhan itupun berkembang, saya memerlukan rasa aman, saya juga memerlukan diakui aku saya, saya membutuhkan orang-orang yang baik di sekitar saya, dan bahkan saya membutuhkan orang yang saya cintai. Kebutuhan itu ternyata berkembang dari waktu ke waktu tidak pernah mengenal henti. Selanjutnya, perasaan saya juga berbicara bahwa seolah-olah saya akan tetap ada sepanjang masa. Padahal sesungguhnya tidak akan demikian. Saya pada saatnya akan menjadi tidak ada lagi di pentas kehidupan ini. Jika ada siklus kehidupan, dimulai dari sejak lahir, tumbuh, berkembang, kemudian dewasa, dan kemudian menua, maka ternyata sebagaimana makhluk biologis lainnya, saya sudah sekian lama memasuki masa menua itu. Secara biologis saya sudah tidak berkembang lagi. Sudah sekian lama, yang terjadi saya justru hanya bertahan, yaitu mempertahankan hidup. Sampai kapan, tentu jawabnya tidak pernah saya ketahui. Panjang umur manusia bisa diperkirakan dengan mudah melalui pengalaman dan kenyataan yang ada selama ini. Tetapi ternyata perasaan selalu membohongi diri sendiri hingga menjadikan diri ini lupa, bahwa suatu saat, dan itu pasti, umur akan berhenti. sebab kebanyakan orang pada usia tujuh puluh tahun, sampai delapan puluh tahun, akan tampak tua. Rasulullah sendiri, seorang yang paling dicintai oleh Allah hanya berusia 63 tahun. Sepanjang itulah, rata-rata usia manusia di muka bumi. Hanya saja semangat hidup, atau perasaan ingin tetap ada inilah yang menjadikan orang lupa akan keterbatasan eksistensi itu. Keterbatasan kesadaran itu, menjadikan sementara orang lupa bahwa dirinya akan mengakhiri hidupnya. Semangat akan tetap menjadi ada, juga mendorong setiap orang mengumpulkan apa saja sebagai kelengkapan atau penyempurna keberadaannya. Apa yang dikumpulkan itu, berupa harta dan juga kekuasaan. Manusia tetap ingin berada bersama dengan apa saja yang telah dikumpulkan itu. Bahkan tidak sedikit orang yang lebih mencintai barang yang berhasil diperoleh dan dikumpulkan itu daripada eksistensi dirinya. Orang yang berpendirian seperti itu, seolah-olah lebih merelakan diri dan harga dirinya sendiri daripada kehilangan apa yang telah dimilikinya. Oleh karena itu seringkali kita melihat fenomena aneh, yaitu seseorang sedemikian kokoh mempertahankan harta dan atau jabatan, jauh melebihi tatkala mempertahankan eksistensi dirinya. Mempertahankan hak milik seringkali diserupakan dengan mempertahankan harga dirinya. Kita melihat misalnya, orang sanggup dihukum di penjara berlama-lama hanya dalam rangka mempertahankan harta kekayaannya. Kesadaran eksistensi yang terbatas itu juga menjadikan seseorang merasa akan hidup selama-lamanya. Pdahal sesungguhnya, semua yang ada akan kembali lagi menjadi tidak ada. Keberadaannya atau hidupnya akan berakhir. Jasatnya akan kembali menjadi tanah. Semua harta yang berhasil dikumpulkan pun akan kembali bukan menjadi miliknya lagi. Dikatakan sebagai milik, hanya tatkala yang bersangkutan masih ada. Sebaliknya, ketika sudah tidak ada, —-seseorang meninggal, maka kepemilikan itu tidak akan ada lagi. Bahkan jika seseorang sudah mati, jangankan harta, kata milik atau bahasa apa saja, menjadi sudah tidak diperlukan lagi. Islam melalui kitab suci al Qur’an memberikan petunjuk dan penjelasan tentang kehidupan ini secara sempurna. Hidup ini disebutkan hanya sebatas permainan. Dunia ini bukan sebagai rumah yang kekal, keberadaannya sangat sebentar dan atau hanya dalam waktu yang amat pendek. Apa lagi masa hidup seseorang tidak akan lama, hanya sementara saja. Disebutkan dalam kitab suci, bahwa rumah yang sesungguhnya adalah di akherat. Oleh karena itu, di dalam kitab al Qur’an banyak disebut istilah daar al-akhir, atau rumah di akhirat. Rumah itu lebih kekal dari sebatas waktu di dunia yang hanya sementara. Dalam Islam ditunjukkan pula bahwa akan terjadi kehidupan kembali, yang segala kebahagiaan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dikumpulkan di dunia, melainkan atas dasar keimanan, amal sholeh, dan akhlakul karimah. Keterbatasan kesadaran eksistensi ini menjadikan orang lupa akan hakekat kehidupan. Orang akan merasa dan menganggap bahwa hidup ini akan berlangsung sepanjang masa. Kelupaan terhadap eksistensi, waktu, umur, dan segalanya inilah sesungguhnya yang menjadikan seseorang juga melakukan apa-apa saja yang mereka bisa lakukan. Oleh karena sifat manusia yang demikian, Allah swt., melalui al Qur’an memberikan tuntunan agar siapapun selalu memohon metunjuk di sepanjang waktu dengan mengucapkan kalimat ihdinashirathal mustaqiem. Kalimat ini, juga sesungguhnya sekaligus mengingatkan akan keterbatasan dari kesadaran eksistensi itu. Sehingga Iedul Fitri ini rasanya sangat tepat dijadikan momentum untuk membangun kembali kesadaran yang terbatas dan sangat mahal harganya itu. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *