Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Ilmu dan Kearifan

Orang seringkali terlalu fanatik pada ilmunya. Ia mengira, ilmu dapat digunakan menyelesaikan semua persoalan. Pandangan itu didasarkan pada alasan, bahwa karena ilmu diperoleh dengan cara obyektif, rasional, terbuka, dan dapat diuji oleh siapapun. Pandangan yang bukan diperoleh dengan cara itu dianggap sepele dan karena itu harus ditolak. Benarkah pandangan itu ? Jika kita menengok al Qur’an, ternyata di atas ilmu masih ada lagi yang lebih tinggi, yaitu hikmah. Jika dibahasakan secara sederhana, hikmah adalah kearifan. Disebut sebagai orang arif, jika dia bisa mengimplementasikan ilmunya itu secara tepat. Kearifan tidak semua orang memilikinya. Dan ternyata, kearifan tidak selalu dimonopoli oleh orang berpendidikan tinggi saja. Orang arif dan bijak bisa dimiliki oleh kalangan manapun. Untuk memahami tentang kearifan ini, ada baiknya dikemukakan ceritera sederhana berikut ini. Seorang raja yang kebetulan hanya memiliki mata satu, —–sedang mata satunya lagi sejak kecil cacat, menghendaki dirinya dilukis. Sebagai seorang raja ia ingin agar lukisan tentang dirinya, dipasang di berbagai tempat yang dianggap penting. Maka, dipanggilah pelukis untuk melukisnya. Setelah selesai lukisan itu, diserahkanlah kepada sang raja. Tanpa diduga raja sangat marah melihat dirinya dilukis secara tepat, yakni matanya dikelihatkan tidak sempurna. Pelukis itu dimarahi dan akhirnya bahkan dihukum. Masih belum berhasil mendapatkan lukisan yang menyenangkan, dipanggilah pelukis lainnya. Pelukis kedua ini tahu kalau pelukis pertama, dengan sikap obyektif, dihukum maka ia mencoba melukis raja dengan wajah sempurna. Sekalipun matanya yang satu tidak sempurna, dilukis seolah-olah kedua matanya dalam keadaan sempurna. Selesai lukisan itu dibuat maka diserahkanlah lukisan itu, dan ternyata raja juga marah. Pelukis kedua ini dianggap menghinanya karena melukis yang tidak senyatanya. Pelukis kedua inipun akhirnya dipenjarakan. Raja masih tetap berkeinginan dirinya dilukis secara tepat. Maka, dihadirkanlah pelukis ketiga. Pelukis ini tahu bahwa sudah ada dua korban untuk memenuhi keinginan raja tersebut. Baik pelukis obyektif, yakni melukis apa adanya mapun pelukis subyektif, yakni pelukis yang mengubah gambar wajah yang tidak sempurna menjadi sesempurna mungkin, ternyata keduanya dianggap salah dan dihukum. Pelukis ketiga tidak ingin menjadi kurban berikutnya. Dia tahu bahwa sang raja memiliki kegemaran menembak. Maka sebelum melukisnya, ia bawakan sebuah senapan yang paling modern, yang belum pernah disentuh oleh tangan sang raja itu. Maka, diserahkankanlah senapan itu kepada sang raja, dan dengan cara yang sopan, pelukis memohon agar sang raja berkenan mencoba menggunakan alat berburu yang menjadi hobinya itu. Raja pun mau mencobanya. Tentu siapapun yang mencoba menggunakan senapan, tidak terkecuali raja, tatkala sedang mengintai sasaran dengan menggunakan senapan, pasti menggunakan mata satu. |Tatkala raja sedang mencoba untuk membidik sasaran tembak itulah oleh pelukis ketiga, penguasa negeri bermata satu itu dilukis. Akhirnya melihat hasil lukisan itu raja sangat bahagia, ia dilukis dalam keadaan sedang melakukan peran kegemerannya, yakni sedang menembak. Selain itu, dengan posisi itu raja tidak akan kelihatan bahwasanya ia bermata satu. Lukisan itu sangat pantas dipasang di mana saja, bahkan dengan posisi menembak, sang raja tampak dirinya dalam keadaan sempurna. Melalui gambaran dari cerita ini, hal yang bersifat obyektif ternyata dalam kehidupan sosial, justru tidak tepat digunakan. Sebaliknya, tidak juga berarti harus memilih yang bertolak belakang, yakni yang bersifat subyektif. Dalam kehidupan sosial, banyak hal yang menuntut agar pilihan-pilihan itu didasarkan pada kearifan. Wawasan ilmu yang luas, seringkali belum cukup jika tidak disepurnakan dengan kearifan. Maka, setiap pemimpin selain dituntut cerdas dan menyandang ilmu yang luas, juga harus arif dan bijak. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *