Friday, 17 April 2026
above article banner area

Kebangkitan Islam dari Indonesia

Dalam kunjungan saya ke Saudi awal Juli 2009 berhasil ketemu dengan beberapa orang ulama’, pimpinan perguruan tinggi, pengusaha, dan juga aktifis Islam lainnya. Setiap pertemuan itu yang biasanya bersifat informal, dengan mengambil tempat seperti di kantor, hotel, atau di rumah mereka, saya mencoba memperkenalkan konsep tentang pendidikan Islam yang pada saat ini saya kembangkan di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Kebiasaan orang Arab yang saya tahu, jika kedatangan tamu dari luar, maka mereka akan menyambut dengan mengundang beberapa koleganya untuk berdiskusi di rumah, di kantor atau di tempat lain yang memungkinkan. Mereka suka ketemu sekalipun setidak-tidaknya sebatas memberikan ucapan selamat datang. Dalam kunjungan bebeberapa hari, tidak kurang dari lima kali pertemuan. Pada pertemuan yang berbeda itu, saya selalu memperkenalkan tentang perguruan tinggi yang sedang saya pimpin dan segala bentuk pembaharuan yang saya lakukan. Hal yang saya perkenalkan adalah tentang integrasi keilmuan yang selama ini saya bersama teman-teman saya gagas dan implementasikan. Saya memperkenalkan bahwa tidak tepat jika Islam selama ini hanya dipahami sebagai sebuah ajaran agama. Islam harusnya dilihat sebagai konsep kehidupan yang utuh, yaitu meliputi agama, ilmu pengetahuan, dan peradaban secara menyeluruh. Namun selama ini perbincangan tentang Islam hanya sebatas menyentuh aspek-aspek agama. Karena itu maka pemikiran tentang agama menjadi sempit dan bahkan terkesan mandeg. Jika Islam hanya dipahami sebatas agama, maka sebagai akibatnya perbincangan Islam hanya menyangkut tentang hal-hal yang bersifat ritual dan spiritual. Berbicara Islam kemudian hanya sebatas perbincangan tentang akidah, fiqih, akhlak, tasawwuf, akhlak, tarikh dan bahasa Arab. Akibatnya terbangun kesan bahwa ajaran Islam terasa menjadi terbatas, yaitu hanya mengenai soal-soal ritual seperti sholat, zakat, puasa, haji, masjid, dzikir, pernikahan, dan kematian. Saya memberikan pandangan bahwa Islam yang digali dari al-Qur’an dan hadits selalu meliputi berbagai aspek kehidupan. Bahwa jika al-Qur’an itu dipandang sebagai al-huda, al-tibyan, al-furqan dan seterusnya, seharusnya Islam dimaknai sebagai sebuah ajaran yang luas, yakni seluas kehidupan ini. Pandangan lain yang saya kemukakan bahwa Islam harus ditampilkan sebagai sosok ajaran yang terbuka, memuat tentang konsep-konsep kehidupan yang menyeluruh, kokoh dan logis dalam makna yang luas. Islam adalah rakhmat bagi seluruh kehidupan ini. Islam tidak perlu dibela, tetapi harus dijadikan pegangan hidup. Ajaran Islam harus ditampakkan sebagai konsep yang tidak perlu dikhawatirkan akan runtuh hanya oleh kekuatan akal manusia yang lemah. Islam bisa jadi menjadi kalah dan bahkan merosot di suatu tempat atau oleh orang-orang tertentu, tetapi hakikat Islam itu sendiri tidak akan bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun. Oleh karena itu lembaga pendidikan Islam harus terbuka, berani berdialog dan menerima dari kalangan manapun untuk mengkaji dan mempelajarinya. Pada umumnya dari berbagai pertemuan dan diskusi, mereka sangat menghargainya. Lebih dari itu mereka memberi apresiasi yang tinggi, dan bahkan bersemangat membantu untuk mencarikan peluang-peluang agar mendapatkan bantuan terhadap hal-hal yang sekiranya masih diperlukan. Mereka juga sanggup mencarikan bantuan buku-buku untuk koleksi perpustakaan, sebagai kelanjutan dari buku-buku dan journal yang telah dikirimkan sebelumnya. Bahkan mereka juga menawari untuk melakukan kegiatan bersama, baik berupa penelitian, seminar, pelatihan dan lain-lain. Dalam waktu dekat ini misalnya, mereka mengajak untuk melaksanakan diskusi tentang pembelajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Arab bagi orang-orang non Arab. Yang saya tidak sangka, mereka sangat tertarik dengan pendidikan Islam di Indonesia. Lebih-lebih tatkala mereka tahu, bahwa di Indonesia telah terdapat tidak kurang dari 50 perguiruan tingi Islam yang berstatus negeri. Mereka sulit mengerti, bagaimana sebuah negara bukan beridentitas Islam, ternyata negara membiayai perguruan tinggi Islam sebanyak itu. Mereka mengira bahwa lembaga pendidikan yang beridentitas agama tertentu, adalah berstatus swasta, dan dibiayai oleh umat agama yang bersangkutan. Di Indonesia disebutnya aneh, negara yang bukan berdasarkan agama, membiayai lembaga-lembaga yang beridentitas agama. Menurut beberapa orang yang saya temui, kasus Indonesia merupakan fenomena yang amat menarik. Selain itu, yang pada umumnya lebih menarik lagi lainnya adalah tentang konsep bangunan ilmu yang saya sampaikan. Saya menerangkan kepada mereka bahwa semestinya dalam Islam yang tidak saja memuat aspek keagamaan, melainkan juga meliputi ilmu pengetahuan dan peradaban, tidak membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama. Islam adalah agama dan sekaligus kehidupan secara umum ilmu, teknologi dan peradaban. Jika Islam dipahami seperti ini, maka kampus Islam terasa lebih universal, yakni meliputi apa saja yang terkait dengan kehidupan, mulai dari aspek spiritual, akhlak, ilmu pengetahuan, dan perilaku professional. Mereka juga lebih apresiatif lagi setelah saya perkenalkan bahwa, sekalipun kampus yang saya pimpin masih baru sekitar berusia 10 tahun sejak menjadi universitas, telah menghasilkan lulusan yang menggembirakan. Secara terus terang saya katakan, bahwa tiga kali kampus ini mewisuda sarjana S1, maka ternyata indek prestasi yang tinggi diraih oleh mahasiswa sains. Pada wisuda yang pertama Indek Prestasi terbaik diraih oleh mahasiswa jurusan fisika. Selain berprestasi akademik, ia berhasil menghafal al-Qur’an 30 juz, mampu memahami buku atau kitab yang berbahasa Arab maupun Ingris. Pada wisuda kedua, gambaran itu masih berulang. Mahasiswa yang berprestasi paling unggul diraih oleh mahasiswa jurusan matematika dan psikologi. Keduanya hafal al-Qur’an 30 juz. Demikian pula pada wisuda beberapa bulan yang lalu, lagi-lagi yang berprestasi unggul adalah mahasiswa matematika, mahasiswa jurusan akhwalus Sahsyiah dan Mahasiswa Fakultas Humaniora. Ketiganya, lagi-lagi hafal al-Qur’an 30 juz. Mendengar informasi itu, mereka menyatakan apresiasinya yang tinggi, dan bahkan berharap agar dari Indonesia suatu ketika terjadi kebangkitan umat Islam. Mereka berpandangan bahwa, jika lembaga pendidikan yang saya ceritakan tersebut berhasil berkembang dan berkelanjutan, tidak mustahil sejarah terbangunnya kota Madinah akan muncul kembali justru dari Indonesia. Bangsa Indonesia yang mereka kenal sebagai bangsa yang religious sangat mungkin mampu membangun peradaban itu. Negeri yang luas dan subur, ditambah dengan masyarakatnya yang memiliki jiwa maju, majemuk, dan saling menghormati sesamanya, maka akan sangat mungkin lahir peradaban yang tinggi. Hanya saja, mereka berpandangan bahwa gambaran ideal itu tidak akan mungkin lahir secara alami. Prestasi yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam sedunia itu harus diusahakan atau direkayasa kehadirannya. Pilar utama untuk membangun peradaban itu adalah lembaga pendidikan Islam yang konsepnya benar dan maju. Oleh karena itu mendengar informasi yang saya sampaikan, mereka berharap agar kampus Islam di Indonesia berkembang secara istikomah dan berkelanjutan. Mereka menunggu muncul peradaban Islam yang ideal itu dari nusantara. Berdiskusi dengan mereka yang tidak pernah kita dengan mengenal tentang pluralisme, kebebasan, keterbukaan, dan seterusnya, ternyata mereka memahi Islam juga sebagai ajaran yang berdimensi luas dan terbuka. Saya merasa bangga dan sekaligus juga berharap, apa yang dibayangkan oleh teman-teman dari Saudi tidak lama lagi menjadi kenyataan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *