Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Kelembutan Hati Ibu

Setiap ketemu banyak kyai, yang paling saya ingat terlebih dahulu, adalah wajah ibu saya sendiri. Sekalipun sudah sekitar tiga tahun yang lalu beliau wafat, tetapi perasaan dekat dan kasih sayangnya yang mendalam masih bisa saya rasakan. Hal itu mungkin terjadi karena, sebelum beliau wafat, setiap ia mendengar saya bersama banyak kyai, beliau selalu menangis, menunjukkan kegembiraannya yang mendalam. Rupanya, ia sangat gembira dan bahagia jika mendengar berita bahwa saya bersama para kyai. Kebahagiaannya itu, ia ekspresikan dengan menangis, atau setidak-tidaknya, tampak secara tidak disengaja mengeluarkan air mata. Suatu ketika, saya bertanya sendiri kepadanya, mengapa setiap mendegar bahwa saya ada kegiatan bersama banyak kyai, justru ibu menangis. Ternyata, sederhana jawabnya, ia menjadi teringat dengan ayah, suaminya yang selama hidup dicintainya, sekalipun sudah lama wafat. Ibu saya menceritakan, bahwa ketika masih hidup, ayah sangat senang dengan kehidupan para kyai. Ayah, —–kata ibu, menginginkan agar setidak-tidaknya, salah seorang di antara anaknya, dekat dengan kehidupan kyai. Syukur-syukur, kalau ada di antara anaknya yang meneladani kehidupan ulama atau kyai, yaitu sehari-hari berkhitmad hanya mengurus pendidikan agama. Teringat pesan masa lalu itulah, maka setiap mendengar bahwa saya bersama-sama kyai, apalagi kyai terkenal, ibu selalu membayangkan, alangkah bahagianya ayah saya, andaikan ia tahu dan mendengar sendiri berita itu, bahwa saya bersama-sama kyai yang diidolakan melakukan kegiatan bersama. Sayangnya, kata ibu, ayah sudah tidak bisa lagi menyaksikan peristiwa yang membahagiakan itu, karena sudah kedahuluan wafat. Keterangan ibu apa adanya, seperti apa yang pernah dituturkan itulah, selalu menjadikan perasaan saya ikut terpengaruh, selalu teringat ibu setiap saya bersama-sama melakukan kegiatan dengan para kyai. Kebetulan pada hari Senin, tanggal 8 Maret 2010, bertempat di kampus UIN Maliki Malang diselenggarakan halaqoh yang dihadiri oleh tidak kurang 150 kyai dari pesantren terkemuka di seluruh Jawa Timur. Peristiwa bernuansa spiritual seperti itu, bagi saya, menyadarkan tentang pesan-pesan orang tua, keinginan yang diharapkan olehnya dari para anaknya, termasuk juga apa yang digambarkan sebagai sesuatu kehidupan yang dianggap mulia dan ideal. Ayah dan ibu menganggap bahwa kehidupan yang mulia dan ideal itu adalah apa yang telah dijalani oleh rasaulullah, dan kemudian diwariskan kepada ulama’atau kyai, dan para umatnya. Bagi orang tua, setidaknya ayah dan ibu saya ketika masih hidup, menganggap bahwa kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang diliputi oleh akhlak yang luhur. Hal itu telah dijalankan oleh para ulama atau kyai. Ibu saya tidak pernah bicara dan membayangkan bahwa kehidupan selain itu, misalnya menjadi pejabat tinggi, pengusaha kaya, atau direktur bank, dan lain-lain sejenisnya, sekalipun mereka berpenghasilan tinggi, dipandang lebih mulia. Akhlak adalah ukuran kemuliaan seseorang. Kehidupan ulama atau kyai, apapun keadaan ekonominya, oleh ayah dan ibu dianggap sebagai yang terbaik. Karena itu selalu diidolakan olehnya, dan berharap agar anak-anaknya sendiri selalu dekat dengan kehidupan kyai. Rupanya inilah hati lembut seorang ibu, ia tidak pernah putus-putusnya berdoa, disertai cucuran air mata ia berharap agar anaknya selalu mendapatkan kehidupan yang terbaik. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *