Beberapa tahun terakhir ini, para elite bangsa dihadapkan oleh kerja tambahan, atau kerja ekstra. Sekalipun bersifat tambahan, ternyata tugas itu juga tidak mudah dan murah diselesaikan. Berbeda dengan tugas pokok, semua sudah dirancang termasuk anggarannya. Bagi siapapun yang mengerjakan tugas pokok itu tidak akan mengalami kesulitan. Sebab, apa saja yang terkait dengan tugas itu sudah terancang, baik bentuk, isi, penanggung jawab, dan bahkan juga anggaran yang dibutuhkan.
Berbeda dengan hal tersebut adalah kerja tambahan. Biasanya datangnya mendadak, bentuk dan jenisnya belum dikenali, cara penyelesaiannya masih belum jelas, dan apalagi anggarannya, masih harus cari-cari. Itulah sebabnya, kerja ekstra justru lebih sulit dihadapi dari pada kerja yang telah terancang sebelumnya. Oleh karena itu penanggulangannya memerlukan tenaga ektra, baik yang fisik maupu non fisik. Kerja ekstra itu cukup banyak dan berskala besar. Kita sebut saja misalnya, mulai dari penanggulangan akibat gempa dan tsunami di aceh, gempa bumi di pulau nias, gempa bumi di Yogyakarta, gunung meletus di mana-mana, bencana banjir bandang, angin keras yang disebut putting beliung terjadi di berbagai tempat, kelaparan. Persoalan itu cukup berat, tetapi masih ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam penyakit, baik jenis penyakit lama maupun jenis penyakit baru yang datang silih berganti. Peristiwa itu susul menyusul, seperti terencana, terjadi dari tahun ke tahun. Musibah itu benar-benar membikin bangsa ini capek dan menderita. Namun, terakhir atau terbaru, masih terjadi lagi yang cukup besar, yaitu gempa bumi di Padang dan sekitarnya. Ribuan bangunan hancur, dan banyak orang mati tertimbun reruntuhan bangunan. Tidak kurang mengerikan lagi, akibat gempa itu pula ada sebuah desa bersama seluruh penduduknya tertimbun oleh lelongsoran bukit, yang tidak m ungkin ada yang bisa diselematkan. Jadilah daerah itu, kuburan massal yang tidak terencana. Melihat dan merasakan peristiwa itu, orang kemudian bertanya-tanya, apakah semua peristiwa itu merupakan musibah, cobaan atau peringatan dari Allah, atau sekedar peristiwa alam biasa. Jika hal itu merupakan peristiwa alam biasa, yang mengherankan, terjadi secara susul menyusul sepanjang tahun, sehingga beberapa tahun itu menjadi tahun musibah, cobaan, atau peringatan Allah. Pertanyaannya, kenapa jenis penyakit silih berganti datang. Aneka kemungkinan jawaban itu tidak pernah tuntas terjawab, sehingga terserah saja manusia meyakini mana yang benar jawaban itu, sesuai dengan keimanannya masing-masing. Menghadapi berbagai peristiwa itu, tentu penanggulangannya tidak mudah dan murah. Menjadi sulit dan mahal, karena tidak sebagaimana jenis tugas pokok lainnya yang bisa dirancang, di antisipasi, dan dikalkulasi cara penyelesaian dan jumlah biayanya. Berbagai musibah itu, sama sekali tidak bisa diantisipasi, di daerah mana akan terjadi, apa, siapa dan jumlah korbannya, dan berapa anggaran yang diperlukan. Menyelesaikan akibat bencana besar itu semua sangat sulit dan mahal biayanya. Namun ternyata, berhasil teratasi, atau paling tidak bisa dilewati. Pekerjaan ektra itu, akhir-akhir ini ternyata berubah bentuk dan jenisnya. Berbagai musibah berupa bencana alam itu, ternyata berganti dengan bentuk lain yang sama-sama berat, dan bahkan bisa jadi lebih berat penyelesaiannya. Tugas ektra baru itu berupa menyelesaikan pertikaian, konflik dan atau permusuhan, baik bersifat politik, sosial, criminal, hingga budaya. Secara lebih jelas, bisa disebutkan mulai dari pertikaian antara kepolisian, kejaksaan, dan KPK. Lembaga pemerintah yang seharusnya bertugas menyelesaiakan persoalan penyimpangan dan pertikaian, tetapi ternyata justru bertikai sendiri. Belum mereda satu persoalan, sudah muncul persoalan baru, yaitu konflik antara lembaga eksekutif dan legislative terkait dengan Bank Century. Berbulan-bulan perhatian masyarakat dihabiskan untuk menyaksikan jalannya konflik yang tidak semestinya itu. Bagaimana persoalan itu bisa diakhiri, ternyata juga tidak mudah diselesaikan. Pertikaian itu dalam waktu lama disaksikan oleh rakyat, baik lewat media massa elektronika maupun surat kabar atau lainnya. Peristiwa itu menjadikan rakyat tahu bagaimana para elite bangsa saling bersilang pendapat dan bahkan bertikai. Konflik-konflik vertical dan horizontal ternyata datang silih berganti, sebagaimana datangnya musibah demi musibah yang digambarkan di muka. Kita lihat misalnya, konflik di Pulau Batam, lalu disusul dengan konflik di Priok, di kota Makassar antara massa HMI dengan polisi, konflik politik di Mojokerto terkait dengan pelaksanaan Pilkada. Belum lagi konflik berskala kecil, sebagai akibat penggusuran perumahan kumuh, pedagang kecil kaki lima di pasar, seperti terjadi di Surabaya dan tempat-tempat lainnya. Pertanyaan selanjutnya, peristiwa apa lagi yang masih akan terjadi, di mana dan kapan, tidak seorang pun tahu, tetapi rupanya bisa terjadi di semua tempat. Semua peristiwa yang mengerikan itu, sekalipun terjadi di mana-mana, dengan kemajuan teknologi informasi, menjadikan seolah-olah peristiwa itu berada di depan mata bangsa ini secara keseluruhan. Konflik antara Satpol PP dengan jamaáh makam Mbah Priok misalnya, segera diketahui oleh seluruh pemirsa dan pembaca Koran hari itu juga. Sudah barang tentu, kecaman terhadap pihak-pihak yangdiangga[p kurang arif datang dari berbagai penjuru. Mengapa pemerintah daerah, melalui Satpol PP yang seharusnya melindungi rakyat, malah justru mengusik ketenangan hati rakyat. Pekerjaan akstra itu, sebagiannya telah dilalui dan bisa diselesaikan. Oleh karena itu dilihat dari sudut pandang ini, —-penyelesaian musibah, maka sesungguhnya elite bangsa atau pemerintah telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Hanya persoalannya, apakah sebatas itu tugas yang diharapkan oleh rakyat. Tentu bukan. Tugas yang lebih mendasar adalah mensejahterakan seluruh rakyat, meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, penyediaan sarana dan prasarana umum, menjamin keamanan dan lainnya. Konflik-konflik disfungsional yang terjadi antar elite, seharusnya segera diakhiri, agar tidak menggelisahkan rakyat, dan juga agar pemerintah fokus dan berhasil menjalankan tugas-tugas pokoknya yang lebih urgen dan mendasar. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
