Tuesday, 21 April 2026
above article banner area

Kewibawaan Ka’bah

Tatkala memperhatikan ka’bah, yang saya tangkap adalah betapa bangunan yang didirikan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail itu, mampu menyatukan umat manusia yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Orang yang berasal dari berbagai  tempat yang berbeda,  bersuku bangsa yang beraneka ragam, warna kulit dan kewarga-negaraan yang bermacam-macam, ternyata bisa bersatu di tempat itu untuk melakukan kegiatan yang sama.

  Tidak pernah kelihatan di sana orang berebut dan merasa derajatnya lebih tinggi dari  yang lain. Semua sama. Mereka juga tidak berdebat tentang aliran yang diyakini paling benar, sekalipun mereka berasal dari aliran atau madzhab yang berbeda-beda. Mereka yang mengaku diri sebagai beraliran sunni, syi’i, wahabi,  dan tatkala di Indonesia yaitu  NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah Islamiyah dan apa saja, semuanya bersatu. Tatkala memulai shalat, imam sudah takbiratul ikhram, maka semua segera mengikuti dari belakang.   Begitu pula, tatkala sedang thawaf, sai, wukuf, melempar jumrah, dan lain-lain, semua orang  mengikuti cara-cara yang sama. Mereka berthawaf sebanyak tujuh kali dengan arah putaran yang sama. Tidak ada satupun yang sengaja melakukan hal berbeda. Umpama ada perbedaan itu, maka sebagian lain mengingatkan. Akan tetapi jika peringatan itu dihiraukan juga tidak dipaksa. Peringatan itu misalnya, soal kecil, seperti tatkala memilih tempat shalat, antara laki-laki dan perempuan  terlalu berdekatan. Umpama peringatan itu tidak dihiraukan juga tidak mengapa, artinya tidak sampai bertengkar.   Semua jamaáh haji melakukan kegiatan yang sama.  Pada tanggal 9 dzulhijjah semua jamaáh berada di Arafah untuk menunaikan wukuf.  Waktu pelaksanaan wukuf juga tidak ada yang berbeda. Mereka tidak mempersoalkan apakah waktu wukuf itu dari hasil hisab atau rukyat. Begitu pemerintah Saudi mengumumkan hari pelaksanaan wukuf, maka seluruh jamaáh haji taat mengikutinya. Tidak ada seseorang atau sekelompok orang menentukan sendiri, misalnya mengambil waktu sebelum atau sesudah yang ditentukan oleh pemerintah Saudi.   Kesamaan itu juga terjadi di antara para jamaáh yang berasal dari Indonesia, tidak terkecuali para tokoh-tokohnya. Mereka yang berasal dari NU, Muhammadiyah, Persis, Jamaáh Islamiyah dan apa saja aliran atau organisasi yang dianut, semua  melakukan wukuf pada hari yang sama. Tidak ada di antara mereka yang berbeda. Umpama para pemuka organisasi itu, datang ke tanah suci terlambat, karena harus mengikuti sidang isbath, ——sekalipun hasil sidang itu  berbeda,  maka masih akan  melakukan wukuf di Arafah  pada hari yang sama.   Kebetulan saya pernah mengalami hal itu tatkala bersama-sama haji dengan Pak Menteri Agama. Saya sudah lupa, pada hari apa idul adha waktu itu ditetapkan oleh pemrintah Indonesia.  Akan tetapi saya masih ingat bahwa hari raya  yang ditetapkan oleh pemerintah  dengan yang ditetapkan di Saudi Arabia tidak sama. Saya tidak tahu, kenapa ketika itu hari raya di Indonesia, semua organisasi sosial keagamaan menetapkan hari yang sama. Akan tetapi  semuanya berbeda dengan yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi. Hal itu berbeda  dengan sekarang ini, sebagian  berhari raya sama  waktunya dengan di Saudi dan sebagian berbeda.   Mengikuti kebiasaan itu, maka tentu sekarang ini, Pak Menteri Agama dan juga Ketua NU dan Muhammadiyah, ——jika mereka sedang berhaji, maka waktu wukuf akan mengikuti  hari yang  ditetapkan oleh   pemerintah Saudi. Padahal   sebenarnya  apa yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi berbeda dari  yang ditetapkan sendiri di tanah air.  Anehnya, sekalipun tatkala di Indonesia sangat sulit bersatu, akan tetapi jika sedang berada di tanah suci, para tokoh ummat itu dengan mudah dipersatukan. Mereka tidak akan bersikukuh untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing.   Maka itulah sebabnya, saya  selalu merenung,  sedemikian hebat wibawa ka’bah berhasil menyatukan umat yang berbeda-beda paham, madzhab, organisasi, suku, asal muasal, warna kulit dan sebagainya. Mereka patuh kepada keputusan pemerintah dan siapa saja yang memiliki otioritas mengatur jalannya ibadah baik, dalam ibadah sehari-hari seperti shalat berjamaáh maupun dalam menunaikan rangkaian ibadah haji.   Umpama sikap dan cara  berpikir seperti  tatkala sedang di hadapan Ka’bah itu juga digunakan ketika sudah pulang ke Indonesia, maka umat Islam akan bersatu padu, dan akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun sayangnya, sepeninggal dari Arafah, dari Minna dan juga dari thawwaf wadak, ternyata setelah  nyampai di tanah air,  mereka kembali pada aslinya masing-masing. Seolah-olah, mereka  tidak merasa bahwa baru saja telah mendapatkan pelajaran tentang persatuan dari Ka’bah.   Akhirnya, kiblat bagi umat Islam sedunia itu,  terkait dengan pesan persatuan, hanya diikuti tatkala sedang berada di dekatnya. Sebaliknya, manakala   sudah menjauh, maka pelajaran penting  itu menjadi terasa samar-samar.  Padahal  tatkala shalat sehari-hari, mereka  masih menghadap ke arahnya. Oleh karena itu, memang  menyatukan ummat, tidak terkecuali di tengah-tengah  para pimpinan dan tokohnya, ternyata amat sulit dilakukan.  Perintah  Tuhan melalui  al Qurán dan juga Sunnah Nabi,  agar ummat Islam selalu bersatu,  ternyata masih belum mendapat perhatian yang  memadai.  Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *