Monday, 1 June 2026
above article banner area

Mengajak Merenungkan Kembali Kehadiran UIN Maliki Malang

Pada  hari Selasa tanggal 28 Juni 2011, diselenggarakan upacara dies maulidiyah UIN Maliki Malang yang ke 7. Acara itu dikemas dalam bentuk sederhana, yaitu diisi dengan pidato rektor dan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Hamid Awaludin, Ph.D., Duta Besar Republik Indonbesia untuk Rusia.   Peringatan hari lahir kampus UIN Maliki Malang  semestinya jatuh pada setiap tanggal 21 Juni, tetapi  untuk menyesuaikan dengan kegiatan lainnya, maka  puncak acara sekaligus menutup rangkaian panjang berbagai kegiatan peringatan itu,  dilaksanakan pada tanggal 28 Juni  2011. Dalam kesempatan yang baik itu, saya selaku pimpinan,   mengingatkan kembali tentang cita-cita luhur yang ingin diraih  oleh kampus ini ke depan.

  Hal penting yang perlu selalu diingatkan  bahwa,  hingga menjadi UIN Maliki Malang,  kampus ini dikenal sebagai perguruan tinggi yang telah beberapa kali berganti nama. Hal itu memang benar. Pada awal  berdirinya,  yaitu pada tahun 1960 an,  bernama Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang sebagai  bagain dari IAIN Sunan Ampel di Surabaya. Pada tahun 1997, kampus ini diubah  oleh pemerintah, bersamaan dengan fakultas cabang lainnya di seluruh Indonesia,  menjadi STAIN Malang.   Belum begitu lama status sebagai sekolah tinggi disandang, kampus ini diubah lagi statusya oleh   kementerian agama  untuk  mengimplementasikan   MoU dengan kementerian pendidikan tinggi Sudan, menjadi Universitas Islam Indonesia Sudan.  Dalam sebuah kunjungan menteri agama ke kementerian pendidikan tinggi Sudan, ditandatangani MoU yang  di antaranya  disepakati,  secara bersama-sama akan  membangun perguruan tinggi Islam, yaitu Universitas Islam Indonesia Sudan di Indonesia dan Universitas Islam Indonesia Sudan di Sudan. STAIN Malang, —–ketika itu, ditunjuk sebagai pelaksana MoU,  diubah menjadi universitas sebagaimana direncanakan  itu.         Perubahan STAIN Malang menjadi UIIS didasarkan atas SK Menteri Agama,  dan juga telah diresmikan oleh dua wakil presiden, yaitu Wakil Presiden RI, —–Hamzah Haz, dan wakil presiden Sudan dan disaksikan oleh beberapa menteri danb para rektor  dari kedua negara tersebut. Akan tetapi, oleh karena pendirian UIIS  tersebut  belum didasarkan atas surat keputusan presiden, maka peresmian tersebut dianggap tidak ada atau batal.  Untuk mengatasi persoalan  tersebut, maka  STAIN Malang diusulkan kembali  kepada pemerintah,   berubah menjadi UIN Malang  dan akhirnya keluarlah SK Presiden nomor 50 tahun 2004,  pada tanggal 21 Juni 2004.      Sebagaimana yang tertulis pada Surat Keputusan Presiden  tentang perubahan kelembagaan dari STAIN Malang menjadi Universitas Islam Negeri Malang, terdapat klausul yang menyatakan bahwa perubahan kelembagaan  tersebut  diharapkan  menghasilkan bentuk bangunan  integrasi antara kajian Islam dengan ilmu-ilmu umum. Bahwa selama ini terjadi  pandangan dikotomik terhadap ilmu pengetahuan. Secara kelembagaan terdapat perguruan tinggi yang mengkaji ilmu agama Islam sementara lainnya mengkaji ilmu-ilmu umum. Kategorisasi itu juga melahirkan serbutan sekolah umum dan sekolah agama, perguruan tinggi umum dan perguruan tinggi agama.   Selama ini kategorisasi ilmu, —–agama dan umum, khususnya dalam Islam, selalu melahirkan perdebatan. Hal itu terjadi  karena   Islam dianggap bukan sebatas agama, melainkan juga peradaban secara luas.  Islam yang bersumber pada al Qurán dan hadits berisi ajaran tentang ilmu pengetahuan, konsep  tentang bagaimana membangun manusia unggul, keadilan, tuntunan ritual dan konsep tentang amal saleh. Cakupan Islam seperti itu,  selalu  melahirkan pandangan bahwa Islam adalah ajaran yang bersifat universal.   Berdasarkan pandangan  tersebut, maka   pemisahan Islam  dari  ilmu pengetahuan dianggap tidak tepat. Dalam Islam terkandung perintah untuk mengkaji ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Perintah itu sedemikian jelas,  terdapat dalam berbagai ayat dalam al Qurán. Maka,  apa yang disebut sebagai ilmu pengetahuan, yaitu ilmu alam, sosial dan humaniora, sebagaimana dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan selama  ini,   sebenarnya adalah hasil dari upaya mengkaji  ciptaan Allah baik di langit maupun di bumi. Itulah sebabnya, kategori ilmu agama dan ilmu umum, dalam perspektif Islam,   tidak relevan dikembangkan.     Selain itu, kehadiran UIN Maliki Malang diharapkan menjadi lembaga transformative, yaitu lembaga yang memiliki kekuatan pengubah pribadi siapapun yang bersentuhan dengan institusi ini. Transformasi itu,  tentu diharapkan mengarah pada manusia  type ideal  sebagaimana yang diajarkan oleh Islam yang bersumberkan pada al Qurán dan Asunnah.  Diharapkan siapapun yang ada di kampus ini, dari  semula belum berpengetahuan luas menjadi kaya ilmu, dari SDM rendah menjadi SDM unggul, dari  berkarakter suka berebut untuk menang sendiri menjadi orang yang menyukai keadilan, memiliki kedalaman spiritual dan selalu bekerja secara professional. Dengan demikian, maka diharapkan lahir manusia yang berkualitas,  sehat secara  lahir  maupun  batin, hingga  meraih kebahagiaan dunia dan akherat.   Dalam suasana  gembira,   memperingati dies maulidiyah tersebut, selaku pimpinan kampus ini,  saya juga mengajak bersama-sama   bertasbih dengan  memuji asma Allah dan  beristigfar.  Islam mengajarkan bahwa pada setiap mendapatkan kemenangan dan pertolongan Allah, maka sikap-sikap  mulia seperti itulah yang seharusnya dibangun.  Kufur terhadap nikmat  adalah pintu lebar datangnya adzab dari Allah. Warga UIN  Maliki Malang telah mendapatkan  pertolongan dan kemenangan, maka  sepatutnya  mensyukuri bersama. Dengan cara itu, perguruan tinggi Islam  ini akan meraih cita-citanya ke depan dengan gemilang,  dan lebih dari itu insya Allah akan selalu mendapatkan ridha-Nya. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *