Banyak orang melakukan sesuatu dengan berharap agar mendapatkan kebahagiaan. Hanya saja tidak sedikit orang tidak tahu, di mana letak kebahagiaan itu. Orang mengira bahwa kebahagiaan itu ada di harta kekayaan. Karena itu, banyak orang mengejar-ngejar harta atau uang. Selain itu, orang juga mengira bahwa kebahagiaan itu ada di pangkat atau jabatan. Maka, orang pun juga mengejar jabatan atau pangkat itu. Atas keyakinannya itu, maka apapun dijalani asalkan harta, pangkat, atau jabatan itu diperoleh, agar kebahagiaan dapat diraihnya.
Pada kenyataannya kita dengan mudah menyaksikan, banyak orang kaya, tetapi tidak bahagia. Tidak sedikit orang berpangkat tinggi dan memiliki jabatan terhormat, tetapi hidupnya tidak bahagia. Sehari-hari mereka mengeluhkan terhadap kekayaan, pangkat, dan jabatannya itu. Seolah-olah dengan apa yang dimiliki, justru sehari-hari hidupnya terbebani oleh apa yang ada padanya itu. Kenyataaan seperti itu, akhir-akhir ini semakin dirasakan oleh banyak orang. Orang yang sudah memiliki banyak uang, pangkat dan jabatan tinggi ternyata justru gelisah. Tidak sedikit orang justru hidupnya celaka yang disebabkan dari apa yang dimiliki itu. Para pejabat yang akhir-akhir ini dituduh melakukan korupsi dan kemudian ditangkap, diadili, dan dipenjara, maka jelas tidak merasakan kebahagiaan dari apa yang dimiliki dan disandangnya itu. Artinya, harta, pangkat, dan jabatan tidak selalu berhasil mengantarkan seseorang meraih kebahagiaan. Tetapi tidak berarti bahwa kekayaan, pangkat, dan jabatan harus selalu dijauhi. Semua itu tetap penting dan akan memberi manfaat, tidak saja pada dirinya tetapi juga pada masyarakat, asalkan digunakan dengan cara yang benar atau semestinya. Harta, pangkat dan jabatan yang didapatkan secara benar dan digunakan secara benar pula akan mengantarkan pemiliknya meraih kebahagiaan. Demikian pula sebaliknya, jika disalah-gunakan, ditunaikan dengan tidak amanah, maka akan mengantarkan pemiliknya ke jurang kenistaan dan kehinaan. Belajar dari kenyataan hidup sehari-hari, sebenarnya kebahagiaan ada di mana-mana. Selain itu, kebahagiaan itu bisa diraih oleh siapapun dan di manapun. Kita lihat petani yang tanamannya tumbuh dengan subur, mereka melihatnya dengan penuh bahagia dan gembira. Apalagi tanaman itu sudah menghasilkan buah lalu dipanen. Seorang guru atau dosen akan merasa bahagia, tatkala mendengar atau menyaksikan keberhasilan para murid atau mahasiswanya. Seorang pedagang akan merasa bahagia tatkala memperoleh dagangan dan kemudian segera laku, serta mendapatkan untung. Kebahagiaan juga dirasakan oleh orang tua yang mendengar bahwa anak-anak mereka sukses dalam meraih cita-citanya. Seorang kepala sekolah merasa bahagia tatkala para guru-guru yang dipimpin menunaikan tugas-tugasnya dengan tekun dan berhasil maksimal. Seorang kyai, merasa gembira dan bahagia tatkala menyaksikan para santrinya mengikuti haflah akhirussanah yang dihadiri oleh orang tua dan masyarakat sekitarnya. Bahkan seorang pengemis tatkala diberi lembaran uang kecil saja, ia tampak tertawa dan gembira atas pemberian itu. Uang kecil baginya sudah dirasa besar dan dianggap0 sebagai keberuntungan yang luar biasa. Padahal sebaliknya, orang kaya tatkala mendapatkan sejumlah uang besar belum tentu menjadikannya gembira dan bahagia. Sebab bagi orang kaya menerima banyak uang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, berbeda dengan seorang pengemis tadi, sekalipun uang yang diterima cukup banyak, tidak selalu menumbuhkan suasana kegembiraan atau apalagi kebahagiaan. Jika demikian halnya, maka dimana sesungguhnya kebahagiaan itu. Jawabnya sederhana saja. Kebahagiaan itu ada di hati masing-masing orang. Yaitu di hati orang-orang yang berhasil mensyukuri terhadap apa yang diterimanya. Kebahagiaan itu ada di orang-orang yang berharta, berpangkat, berjabatan tinggi, di pegawai rendahan, bahkan juga ada di orang-orang miskin dan papa. Jangan salah paham, bahwa orang miskin pun tidak selalu susah. Suatu saat mereka akan merasakan kebahagiaan itu, tatkala sedang mendapatkan sesuatu dan berhasil mensyukurinya. Oleh karena itu, sesungguhnya kebahagiaan itu ada di mana-mana dan bahkan bisa dirasakan oleh setiap orang. Untuk merasakan kebahagiaan itu tidak selalu harus kaya, berpangkat, berjabatan tinggi. Kebahagiaan bisa diraih dan dirasakan oleh siapapun bagi mereka yang mampu mensyukuri terhadap apa yang diterimanya. Hanya saja, pada kenyataannya, sekedar bersyukur saja itu tidak mudah. Oleh karena itu hanya sedikit saja orang yang benar-benar berhasil meraihnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
