Saturday, 30 May 2026
above article banner area

Menjaga Persahabatan

Siapapun akan mengakui bahwa keberadaan sahabat adalah sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Nabi juga memberikan contoh nyata, bahwa dalam menunaikan amanah  untuk menyebarkan Islam, beliau memiliki banyak sahabat yang tulus dalam keadaan suka dan dukanya.

  Sedemikian mudah dipahami tentang betapa pentingnya  posisi sahabat ini dalam kehidupan bagi setiap orang.  Namun pada kenyataannya tidak semua orang menyadari dan  memahaminya secara mendalam, sehingga hal itu  harus dijaga dan atau dipelihara. Siapapun akan menjadi enak hidupnya dan akan berhasil cita-citanya manakala  memiliki banyak teman atau sahabat.   Tentang betapa pentingnya persahabatan ini, Rasulullah memberikan contoh bagaimana bersahabat yang baik dengan orang lain. Beliau memiliki banyak sahabat, di antaranya  adalah Abubakar, Umar, Ustman, Ali dan sangat banyak lagi lainnya. Mereka itu hidup dan  berjuang mendampingi  Nabi untuk memperkenalkan dan menegakkan ajaran Islam, mulai tatkala masih dari Makkah hingga sampai ke Madinah.   Selain  ketauladanan, Nabi memberikan nasehat tentang bagaimana menjaga persahabatan itu. Antar sesama muslim seharusnya  dibangunan hubungan yang kokoh, digambarkan bagaikan tubuh yang satu,  maka antara bagian satu dengan bagian lainnya hendaknya  saling memperkokoh. Manakala bagian tubuh ada yang sakit, maka bagian yang sakit  itu akan dirasakan oleh seluruh tubuhnya.   Ikatan persahabatan  itu sedemikian penting, hingga  dikaitkan dengan keimanan seseorang. Seseorang yang mengaku  dirinya beriman maka harus mencintai sesama saudaranya  atau sahabat-sahabatnya. Dikatakan oleh Nabi bahwa,  tidak sempurna iman seseorang hingga ia sanggup mencintai saudaranya sebagaimana  cintanya terhadap dirinya sendiri.  Begitu indahnya  ikatan yang seharusnya dibangun dan dijalin di antara sesama muslim dalam Islam. Namun demikian, ternyata tidak semua orang mampu menjalaninya. Semangat untuk menang atas temannya,  seringkali mengalahkan rasio dan juga ajaran Islam yang sedemikian indah itu. Temannya sendiri yang semula diajak bekerjasama dalam suasana suka dan duka,  tanpa merasa malu, mereka  sengaja disakiti, disinggung perasaannya,  dan bahkan juga disingkir-singkirkan.   Dalam Islam,  jika terdapat perbedaan,  mestinya harus dicari himkahnya.  Tidak selayaknya,  perbedaan itu dijadikan dinding pembatas, hingga saling tidak ketemu di antara sesama. Di antara sesama muslim  tidak mengapa membentuk organisasi sosial dan bahkan politik  berbeda-beda, tetapi  ummat tidak boleh dibiarkan bercerai berai.   Mereka harus tetap  dipersatuan  secara kokoh. Antar organisasi keagamaan yang berbeda seharusnya saling memperkokoh,  dan bukan sebaliknya,  saling menyalahkan dan bahkan  melemahkan.      Munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme seperti yang sehari-hari terdengar di negeri ini,  sebenarnya adalah oleh karena banyak pemimpin  yang tidak menghayati nilai-nilai luhur persahabatan  ini. Manakala seseorang selalu sadar akan  kebutuhan orang lain, maka tidak akan melakukan kesalahan,  berupa  mengambil sesuatu yang bukan haknya, apalagi  mereka tahu bahwa apa yang dilakukan   akan menganggu kehidupan bersama.    Tanpa ada kesadaran terhadap betapa pentingnya persahabatan, maka yang terjadi adalah saling mengintai kesalahan orang lain. Dicarilah bukti-bukti agar orang lain, sekalipun sahabatnya sendiri, agar masuk penjara. Tatkala orang lain menderita,  maka  merasa senang. Padahal  seharusnya bersikap sebaliknya, yaitu akan merasa senang tatkala teman, saudara,  dan para sahabatnya menjadi senang. Namun akhir-akhir ini ada sementara orang yang justru  sebaliknya, merasa senang tatkala teman, saudara, dan sahabatnya mengalami kesusahan.     Betapa sulitnya menjaga persahabatan,  hingga antara sesama pegawai atau profesi  yang berada di satu kantor dan bahkan satu ruangan tidak mampu saling menjalin hubungan yang harmonis. Namun betapapun beratnya,  persahabatan  harus dijaga, sebab tidak akan mungkin seseorang memetik keberhasilan tanpa sahabat yang  bisa diajak bekerjasama. Membangun dan menjalin persahabatan harus didasari oleh niat ikhlas, karena Allah,  dan bukan karena ikatan kepentingan  sederhana.   Persahabatan menjadi terjaga, manakala di antara  sesama terjadi  saling memahami, menghormati, dan menerima apa adanya. Setiap orang atas pembawaan, asal usul  lingkungan keluarga,  dan latar belakang pendidikannya memiliki karakter, watak dan perilaku yang beraneka ragam. Manakala semua perbedaaan itu bisa dipahami dan diterima seperti apa adanya, ——dan tidak selalu berpikir seharusnya, maka persahabatan  itu akan selalu terjaga.   Kekurangan  yang dimiliki  oleh teman, kawan,  dan sahabat,  tidak  dijadikan sebab untuk saling berpisah, tetapi sebaliknya  kekurangan itu seharusnya justru  segera ditutupi. Demikian pula kesalahan bukan segera dihukum, tetapi diingatkan, diluruskan,  dan bahkan segera dimaafkan. Itulah persahabatan sejati.  Tuhan  mengajarkan yang demikian, ialah  agar  menutrupi kekurangan orang lain, dan menjadi seorang pemaaf. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *