Thursday, 12 February 2026
above article banner area

Menyangkut Kepantasan

Apa saja yang dianggap kurang pantas dalam kehidupan ini akan mengganggu perasaan banyak orang. Orang selalu menyukai terhadap hal-hal yang pantas, wajar, atau sesuai dengan kebiasaan. Kepantasan itu menyangkut banyak hal, misalnya terkait dengan penggunaan pakaian, tutur kata, penampilan dan lain-lain. Menyimpang dari kepantasan  biasanya akan melahirkan komentar, kritik atau sikap lain yang tidak semestinya.

     Orang arif dan bijak biasanya mampu memilih sesuatu secara tepat. Pilihannya  tidak saja menyenangkan diri sendiri tetapi juga orang lain.  Orang arif dan bijak tidak sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya, mereka bisa melakukan sesuatu, termasuk mengubah keadaan, tanpa pihak-pihak yang diubah terasa sedang diubah.   Itulah ciri  orang yang disebut  arif dan bijak.  Akhir-akhir ini di kalangan para tokoh saling merasa terganggu hingga muncul semacam ketegangan. Hal itu terjadi, hanya menyangkut soal kepantasan. Mungkin substansi persoalannya bisa dipahami oleh masing-masing yang terlibat. Hanya saja, oleh karena menggunakan kata yang tidak dianggap pantas, maka kemudian melahirkan ketegangan itu.   Saling mengritik dalam alam demokrasi dianggap biasa. Dengan adanya kritik, dimaksudkan agar seseorang atau sekelompok orang tidak melakukan sesuatu yang salah, atau menyimpang hingga menyebabkan kerugian bersama. Akan tetapi kritik itu ternyata harus disampaikan dengan cara, pilihan bahasa, tempat dan waktu yang tepat atau pantas.   Kritik selama ini juga dilakukan di antara para tokoh, termasuk tokoh agama. Namun akhir-akhir ini kritik itu semakin keras dan pedas,  hingga menjadi tidak biasa dan dianggap mengganggu. Mungkin hal itu terjadi  karena persoalannya sudah dianggap keluar dari  kewajaran, hingga sangat menggelisahkan semua pihak. Itulah kemudian melahirkan hal yang tidak biasa itu. Maka ternyata,  sesuatu yang dianggap keterlaluan akan melahirkan sikap keterlaluan pula.    Apa yang dianggap terlalu kurang pantas itu misalnya, seorang pegawai pajak mengkorup uang negara hingga ratusan milyard rupiah. Menjadi  tidak pantas lagi, setelah ditangkap dan ditahan, ia dikabarkan   nonton pertandingan tenes ke Bali. Bahkan menjadi sangat aneh, lucu dan bahkan lebih tidak pantas lagi, tahanan itu, ——Gayus Tambunan,  bisa pergi ke luar negeri.     Persoalan tidak pantas itu ternyata tidak sedikit. Misalnya lagi, terdapat pejabat yang korup milyartan rupiah hanya dihukum singkat. Seorang tertuduh di pengadilan dilantik menjadi pejabat. Uknum gubernur, bupati, wali kota, dan wakil rakyat masuk bui. Sebaliknya, rakyat miskin, tua, hanya mencuri beberapa buah kakau diadili dan dimasukkan ke penjara. Wanita yang sedang mbobot 9 bulan, hanya diduga menggelapkan uang Rp. 150.000,- segera diadili.   Hal-hal lagi yang masih dianggap keterlaluan dan tidak pantas,  berita adanya oknuk jendral  memiliki rekening gendut, wakil rakyat berkunjung ke luar negeri berbiaya tinggi  tanpa maksud jelas, dan sebaliknya  ada  berita mengenaskan dan juga tidak pantas. Misalnya,  terdapat sekolah roboh karena lapuk, seorang miskin tidak mampu membayar biaya sekolah di tengah-tengah orang berkelebihan,  dan lan-lain yang semua itu dianggap kurang pantas.   Terakhir yang pada saat ini masih hangat dibicarakan, adalah muncul kritik dari para tokoh lintas agama terhadap pemerintah. Sebenarnya kritikan itu  dianggap wajar dan pantas. Namun  menjadi dirasa kurang pantas dan mengganggu suasana batin beberapa pihak, karena menggunakan kata yang dianggap bukan sepantasnya, yaitu kata kebohongan.   Kata bohong yang digunakan untuk mengkritik itu  diangggap kurang pantas disampaikan oleh para pemuka agama dan apalagi ditujukan kepada pejabat tinggi pemerintah. Kedua posisi itu, baik pemuka agama maupun pejabat tingi pemerintah adalah  sama-sama  sebagai orang terpandang, pilihan, dan selalu menjadi tauladan. Tentu sepantasnya tatkala menyampaikan sesuatu menggunakan kata-kata yang tepat.  Mungkin kata berbohong tersebut  dipilih, oleh karena para tokoh agama merasakan ada sesuatu yang keterlaluan. Sementara pemerintah sendiri merasa sudah menjalankan amanahnya secara maksimal. Maka, agar tidak menambah persoalan,  dalam keadaan apapun, siapa saja dituntut agar selalu arif.  Dalam memilih kata-kata misalnya, harus tepat, termasuk  tatkala  mengritik sekalipun. Demikian pula siapapun, —-apalagi pemerintah,  harus cepat tanggap terhadap sesuatu yang dirasakan terlalu tidak pantas.  Wallahu a’lam.       

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *