Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Perayaan Idul Adha 1432 H yang Sedikit Ternoda

Udara Minggu pagi, 10 Dzulhijjah 1432 H yang bertepatan dengan 6 November 2011 itu terasa sejuk, kendati agak berawan. Kebetulan pada idul adha tahun ini saya tidak berkhotbah, sehingga bisa sholat bersama keluarga, kesempatan yang jarang saya lakukan beberapa tahun terakhir.  Sekitar pukul 05.30 bersama keluarga, saya  berangkat menuju masjid  yang hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk sampai dengan berjalan kaki.  Ketika saya datang, masjid sudah hampir penuh dengan jama’ah, bahkan hingga halaman luar masjid. Jumlah jama’ah hari raya idul adha jauh lebih banyak dibanding dengan jumlah jama’ah pada hari raya idul fitri. Ini bisa dimaklumi karena sebagian besar warga di wilayah kami tinggal merupakan warga pendatang. Di hari raya idul fitri umumnya mereka pada mudik ke kampung halaman masing-masing, sehingga kampung juga terasa sepi. Sedangkan pada hari raya idul adha mereka tidak mudik, sehingga masjid penuh.

Sejak matahari terbenam pada tanggal 9 Dzulhijjah, gema takbir bersautan di masjid berukuran besar tersebut. Begitu sampai masjid, saya bergabung dengan para jama’ah yang sedang khusu’ melantunkan takbir memuji kebesaran Tuhan. Saya melihat beberapa orang di kanan kiri saya meneteskan airmata meresapi makna takbir tersebut, tak terkecuali saya. Betapa kita tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebesaran Allah yang dilambangkan lewat kalimat takbir. Karena itu, jika direnungkan secara mendalam,  tidak ada sedikitpun ruang bagi manusia untuk berbuat sombong dan mengagung-agungkan diri karena kekayaan, pangkat, jabatan dan status sosial yang tinggi. Bukankah semua itu hanya titipan Allah semata yang sewaktu-waktu akan diambil? Bahkan nyawa yang membuat kita hidup pun pada hakikatnya juga titipan Allah, yang sewaktu-waktu kita harus rela melepaskannnya karena diambil Sang Pemberi. Tatkala saya sedang bertakbir, ada seorang pemuda dari Remaja Masjid membagi-bagi buletin dakwah masjid ke para jama’ah. Saya mengambil satu lembar. judulnya “KURBAN DAN PEMBEBASAN”, yang ditulis oleh Saiful Amien. Sambil menunggu giliran bertakbir, saya membaca tulisan tersebut. Isinya sangat bagus. Buletin tersebut diawali dengan sebuah ilustrasi dalam literatur tasawuf. Dikisahkan ada orang yang jauh-jauh datang ke Makkah untuk bertemu Allah di Baitullah di Masjidil Haram memenuhi seruan Nabi Ibrahim AS, yakni berhaji. Tetapi, sesampai di Masjidil Haram, malaikat menyuruhnya pulang  dengan alasan Tuhan tidak berkenan menemuinya. Sebab, kata malaikat, “kau orang kaya, tetapi tidak pernah peduli dengan orang miskin”. Tuhan, lanjut malaikat, saat ini bersama orang-orang miskin dan tidak sedang di Masjidil Haram. Kalau kau ke sana dan mau membebaskan orang-orang miskin, niscaya Tuhan akan mau menemuimu, kata malaikat lebih lanjut.  Mendengar nasihat malaikat tersebut, orang itu pulang dan akhirnya tidak ketemu Tuhan sebagaimana hasrat semula. Kisah tersebut sulit dibuktikan kebenarannya. Tetapi lepas benar atau salah, ada ajaran penting yang bisa kita petik maknanya, yakni nilai sosial yang menyertai ibadah kurban. Sebagaimana diketahui dalam Islam terdapat dua hari raya, yakni idul fitri dan idul adha (idul kurban). Keduanya memiliki makna simbolik yang sangat mendasar untuk mengukur ketakwaan manusia terhadap Tuhannya. Idul fitri merupakan sarana agar manusia kembali kepada kodrat atau fitrah sucinya, sebab semua manusia terlahir suci. Idul fitri dilalui dengan puasa selama bulan Ramadan sebagai wahana penyucian diri, sehingga akhir Ramadan dan ditutup dengan sholat idul fitri. Orang yang telah berpuasa semata-mata karena iman dan takwanya kepada Allah akan diampuni semua dosanya, sehingga usai Ramadan berada dalam keadaan suci. Sedangkan idul adha memiliki makna simbolik agar manusia bersedia berkurban demi kemulian hidupnya. Kesediaan berkurban berarti meneguhkan salah satu sifatnya sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, tidak satu pun manusia sanggup hidup sendiri. Dia pasti memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berkurban dalam arti luas merupakan manifestasi kemuliaan manusia dengan mengeluarkan sebagian rezeki yang dimiliki bagi orang lain. Dalam kehidupan sekarang, makna berkurban bisa dielaborasi secara lebih luas, tidak hanya dengan menyembelih binatang ternak, tetapi lebih dari itu adalah  berbagai aktivitas sosial seperti memberdayakan masyarakat dari berbagai keterpurukan, menciptakan harmoni sosial, menyantuni kaum papa, kesediaan untuk bertenggang rasa dengan sesama dan tindakan-tindakan sosial yang lain untuk menggembirakan orang lain yang bernilai positif. Setiap kali merayakan idul adha, kita selalu diingatkan untuk mengenang kembali sebuah peristiwa spektakuler dalam sejarah kemanusiaan, yakni kesediaan Ibrahim AS untuk menyembeleh putranya Ismail AS, semata karena ketaatannya kepada perintah Allah swt.  Ibrahim AS memang juga manusia seperti kita. Tetapi tentu beliau bukan sembarang manusia. Beliau adalah manusia pilihan yang ketaatannya sungguh luar biasa. Bagaimana tidak. Nabi Ibrahim sudah lama menikah, tetapi tidak punya anak. Di usia lanjut, Allah memberinya anak, yang diberi nama Ismail. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Nabi Ibrahim ketika itu karena dikaruniai anak yang sudah lama didambakan sebagai penerus keturunan. Tetapi putra yang mulai tumbuh itu diperintahkan untuk disembelih. Hebatnya, baik sang ayah maupun anak yang mengetahui bahwa perintah menyembelih itu dari Tuhan tak sedikit pun keduanya ragu, apalagi menolaknya. Ujian untuk Ibrahim dan Ismail benar-benar lolos. Ismail tidak jadi disembelih, karena Allah menggantinya dengan seekor domba. Berulang-ulang cerita ini kita dengarkan dan peristiwanya kita rayakan setiap tahun sepanjang sejarah manusia. Pertanyaannya adalah mampukah kita memetik nilai-nilai dasar dari setiap sejarah dan peristiwa kemanusiaan, termasuk kisah di balik peristiwa kurban yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan putranya tersebut dalam kehidupan ini?  Kita jawab pertanyaan tersebut dalam hati kita masing-masing. Sayang perayaan idul kurban di tempat saya tahun ini sedikit ternodai oleh sebuah peristiwa kecil. Kisahnya adalah sebelum sholat dimulai, salah seorang panitia perayaan hari raya kurban berdiri di mimbar dan mengumumkan jumlah binatang kurban berikut nama-nama orang yang berkurban. Satu demi satu dibacanya lengkap dengan jenis binatang kurbannya. Ada juga yang tidak mau disebut namanya. Usai pengumuman tersebut tiba-tiba ada salah seorang jama’ah (seorang ibu) yang berteriak dan marah-marah ke panitia karena namanya terlewatkan untuk dibaca. Dia menghujat panitia dengan menyebutnya ceroboh, tidak profesional, dan tidak menghargai dirinya. Ketika ada anggota jama’ah mengingatkan agar dia istighfar dan bersabar, dia malah-malah membentak-bentak dan mengatakan kesabaran sudah habis. Dia berjanji tidak akan berkurban melalui takmir masjid itu lagi untuk waktu-waktu yang akan datang. Tentu saja perilaku ibu itu menjadi pemandangan gratis bagi sebagian besar jama’ah yang kebetulan duduk tidak jauh dari tempat duduk ibu itu. Baru kali ini dalam sejarah hidup ini saya menemui peristiwa seperti itu. Usai sholat sambil mendengarkan khutbah saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi dan saya justru menaruh belas kasihan pada ibu itu karena tidak memahami substansi ibadah kurban yang ia lakukan.  Ibu itu berkurban untuk status sosial, bukan untuk memenuhi perintah Tuhan. Karena itu, dia marah besar tatkala namanya tidak dibaca sehingga tidak ada orang tahu bahwa dia berkurban. Dia beribadah karena riya’ agar memperoleh pujian orang. Secara fisik dan ritual dia berkurban, karena memang menyerahkan binatang ternak untuk disembelih. Tetapi pada hakikatnya dia tidak melakukan apa-apa kecuali mencari status sosial, tetapi itu pun tidak dia peroleh. Sebab, akhirnya malah dia hanya memperoleh cemoohan. Tetapi sebenarnya saya gelisah dan muncul pertanyaan dalam hati jangan-jangan perilaku ibu itu menggambarkan perilaku anggota jama’ah yang lainnya pada masyarakat kita. Mengapa saya sampai pada pertanyaan seperti itu? Kita lihat sejenak. Secara statistik Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Dan, kendati bukan negara agama, Indonesia menempatkan agama sebagai landasan hidup dan terukir dengan jelas dalam butir-butir falsafah bangsa, yakni Pancasila, pada sila pertama. Itu artinya setiap orang Indonesia mesti manusia beragama. Secara logika, masyarakat Indonesia mestinya merupakan warga terbaik di planet bumi ini. Sebab, agama, apa pun namanya, pasti mengajarkan kebaikan. Karena itu, jika masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama, maka Indonesia merupakan negara yang damai dan tenteram, karena di dalamnya bertaburan kebaikan. Tetapi kita semua tahu bahwa kenyataannya tidak begitu. Sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru dan masuk dalam kehidupan seperti sekarang ini, kita semua merasakan degradasi nilai-nilai moral dan sosial yang sungguh luar biasa dan masif. Kesantunan tidak lagi menjadi ukuran martabat masyarakat, kekerasan, penipuan, pembunuhan, saling hujat dan fitnah, lebih-lebih korupsi menjadi pemandangan kita sehari-hari. Masyarakat kita sepertinya tidak punya agama sebagai pegangan hidup. Agama seolah-olah hanya urusan kyai, ustad, pendeta, pastur, romo, dan para pemimpin agama, dan hanya berlaku di tempat-tempat ibadah, seperti masjid, mushola, gereja, pure, wihara dan sebagainya. Di luar tempat ibadah, agama tidak lagi diperlukan. Kita bisa melihat ibadah haji sebagai fenomena menarik untuk dicermati. Setiap tahun jumlah orang berhaji dari Indonesia selalu meningkat dan Indonesia merupakan negara pengirim jamaah haji terbesar di dunia. Untuk beribadah haji seseorang harus antri bertahun-tahun karena terbatasnya kuota. Pemerintah juga merespons dengan meminta tambahan kuota ke pemerintah Saudi Arabia. Jika setiap tahun lebih dari dua ratus ribu orang berhaji dan hanya dalam waktu lima tahun jumlah orang Indonesia yang berhaji mencapai angka jutaan, maka logikanya negeri ini aman dari berbagai persoalan sosial, berupa kemiskinan, kejahatan, kekerasan, pembunuhan, dan korupsi. Tetapi kenyataannya bentuk-bentuk kejahatan tersebut tidak berhenti, tetapi justru semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pertanyaannya di mana nilai haji yang diperoleh para jama’ah itu bagi masyarakat luas? Tampaknya para jama’ah itu hanya berhaji tatkala di Makkah dan Madinah, dan sepulang di Tanah Air predikat hajinya ditanggalkan. Sepertinya tidak ada korelasi positf antara jumlah anggota masyarakat yang menjalankan ritual keagamaan dengan perilaku kesehariannya di masyarakat. Pengetahuan agama tampaknya berhenti pada ranah kognitif masyarakat dan tidak mewujud dalam tindakan sosial kemasyarakatan. Tiba-tiba saya teringat tulisan Komaruddin Hidayat  yang dimuat harian Kompas (5 November, 2011) berjudul “Keislaman Indonesia”, yang mengutip hasil penelitian Scheherazade S.Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University dan hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Jurnal (Berkeley Electroni Press, 2010) menyatakan bahwa Indonesia berada pada ururan ke 140 dalam hal menjalankan nilai-nilai keislaman dari 208 negara yang diteliti. Urutan pertama ditempati Selandia Baru sebagai negara paling islami. Ada 5 indikator ‘islami’ yang dijadikan ukuran, dan semuanya diambil dari nilai-nilai al Qur’an dan hadis, yakni: ajaran Islam terkait hubungan seseorang dengan Tuhan dan sesama manusia, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial, sistem perundang-undangan dan pemerintahan, hak asasi manusia dan hak politik, dan hubungan internasional dan masyarakat non-muslim. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah  di antara negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) yang berjumlah 56, Indonesia berada pada urutan di bawah Malaysia (yang menempati urutan tertinggi, yakni ke-38), Kuwait (ke-48), Uni Emirat (ke-66), Maroko (ke-119), dan Saudi Arabia (131). Di bawah Indonesia adalah  Pakistan yang berada pada urutan ke- 147, dan negara anggota OKI yang paling bawah urutannya adalah Somalia. Dengan kata lain, hampir semua negara anggota OKI, kecuali Malaysia, berada pada urutan sangat bawah. Maka tidak mengherankan jika hampir di semua negara tersebut justru berbagai bentuk kejahatan terus saja terjadi hingga hari ini. Tetapi jika ukuran keislaman, menurut penelitian itu, adalah jumlah aktivitas keagamaan dan jumlah jama’ah yang hadir dalam setiap acara ritual keagamaan serta jumlah lembaga keagamaan dan sekolah agama, tidak diragukan bahwa Indonesia akan menempati urutan pertama.  Tetapi ternyata jumlah lembaga keagamaan, jumlah sekolah dan jumlah orang yang menjalankan ritual keagamaan tidak berbanding lurus dengan perilaku agamis yang mestinya dijalankan oleh setiap orang pemeluk agama. Pertanyaannya adalah mengapa hal demikian bisa terjadi? Menurut saya penyebabnya adalah pemahaman keagamaan masyarakat kita sangat lemah. Agama dipahami hanya sebagai aktivitas ritual semata dan tidak menyadari bahwa hampir semua ajaran agama (Islam) berdimensi personal dan sosial. Tampaknya sebagian besar masyarakat kita lebih berkosentrasi paa ibadah personal daripada sosial. Maka tidak mengherankan jika seorang muslim telah menjalankan semua rukun Islam, yakni bersyahadat, sholat, puasa, zakat,  dan haji, dirinya sudah merasa berislam dengan baik. Padahal, masih ada lagi tugas  lain yang tidak kalah pentingnya, yakni tugas-tugas kemanusiaan dan kemaslahatan yang berdimensi lebih luas. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah penutup (bukan kesimpulan) bahwa kejengkelan ibu, sebagaimana cerita di awal tadi, merupakan bukti konkret betapa lemahnya pemahaman agama masyarakat kita. Memang terlalu gegabah jika dikatakan perilaku ibu itu mewakili anggota jama’ah yang lain, tetapi setidaknya memantulkan sebuah persoalan tentang sedemikian rendah pemahaman keagamaan masyarakat kita. Karena itu, adalah tugas kita semua, tidak hanya para guru, pemuka dan pemimpin agama, untuk meningkatkan kualitas pemahaman ajaran agama, sehingga tidak terjebak pada acara keagamaan yang bersifat ritual dan seremonial belaka. Sebab, akibat dari kedangkalan pemahaman agama adalah kondisi seperti yang kita rasakan saat ini, yakni masyarakat beragama, tetapi dalam praktik kehidupan justru nilai-nilai agama banyak terabaikan. ________ Malang, 14 November 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *