Kemarin saya diundang berceramah di Pesantren Al Yasini Pasuruan, bersama Menteri Agama dan Prof.Dr.KH.Tholkhah Hasan. Kegiatan itu diformat dalam bentuk hakaqoh dan dihadiri oleh banyak kyai, baik dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Mojokerto, Jombang dan Malang. Halaqoh ini membicarakan Revitalisasi Pesantren Salafiah dan Diniyah yang ditengarai semakin lama jumlahnya semakin berkurang. Selain itu, ada problem mendasar yang dirasakan oleh para kyai, di antaranya ialah selama ini tidak ada pengakuan pemerintah terhadap lulusannya. Misalnya, sebatas mencalonkan diri sebagai kepala desa, lulusan pesantren Salafiah tidak diterima. Padahal, pesantren tersebut, selain usianya yang sudah melebihi usia negeri ini, keberadaannya dianggap sebagai penjaga tradisi keilmuan para ulama’. Memang pada akhir-akhir ini, banyak pesantren mendirikan sekolah umum. Akan tetapi jenis lembaga baru yang ada di pesantren itu, dimaksudkan hanyalah sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan atau tuntutan masyarakat. Sekolah umum yang didirikan oleh para kyai di pesantren, hanyalah dianggap sebagai tambahan, atau complementer sifatnya. Pendidikan yang dianggap inti bagi para kyai adalah pendidikan Salafiah dan Diniyah. Sehingga, keberadaan sekolah umum di pesantren jangan sampai mengganggu pendidikan yang dianggap sebagai inti itu. Ada hal yang sangat menarik bagi saya, setiap berkunjung ke pesantren Al Yasini tersebut, yaitu kegigihan para pengurus yayasan, pimpinan, dan guru-gurunya dalam mengurus pendidikan. Saya melihat di pesantren itu ada suasana perjuangan yang gigih, sungguh-sungguh, ikhlas, tanpa mengenal menyerah dalam memperjuangkan lembaga pendidikannya. Berbekalkan suasana batin tersebut, ——–setidak-tidaknya yang saya tangkap seperti itu, pesantren al Yasini berkembang sedemikian cepat. Hal itu saya saksikan sendiri, karena sejak beberapa tahun terakhir, saya diundang untuk ikut mengisi kegiatan yang diselenggarakan. Sarana fisik dan kelembagaannya berkembang cepat, termasuk jumlah para santrinya , menurut informasi yang saya peroleh, berjumlah tidak kurang dari tiga ribuan anak. Sebagai sebuah pesantren, lembaga ini berstatus swasta. Oleh karena itu seluruh pembiayaan pendidikannya ditanggung oleh yayasan. Pesantren tidak mendapatkan bagian APBN yang besarnya 20 %. Kalau pun memperoleh, sifatnya hanyalah insidental, dan bersifat sebagai sumbangan yang besarnya tidak bisa ditentukan. Akan tetapi bagi pesantren, ada atau tidak ada bantuan dari pemerintah, maka kegiatan pendidikan tetap berjalan dan tidak akan berhenti. Pesantren, semacam Al Yasini ini, sesungguhnya ada di mana-mana. Para kyai dan pengurusnya sedemikian gigih dalam memperjuangkan dan menyelenggarakan pendidikan. Usaha-usahanya itu didasari oleh semangat untuk beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan, melalui perjuangan dalam bentuk mewariskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai yang dipandang mulia yang diyakini benarnya, melalui pendidikan pesantren. Jika banyak orang serhari-hari sibuk mencari kekayaan untuk memperbanyak kekayaannya, maka banyak kyai pengasuh pesantren membelanjakan uangnya untuk lembaga pendidikannya. Melihat kenyataan itu, saya hanya berandai-andai atau membayangkan, umpama semangat membangun pendidikan yang dimiliki oleh para kyai pesantren itu, secara merata juga dimiliki terutama oleh mereka yang sedang mendapatkan amanah mengelola pendidikan di negeri ini, maka saya yakin, dengan anggaran sebesar 20 % dari APBN, pendidikan akan maju pesat. Akan tetapi sebaliknya, jika pengelolaan pendidikan hanya sebatas diwarnai oleh nuansa untuk menghabiskan DIPA, maka berapapun anggaran yang disediakan, tidak akan membawa hasil yang signifikan. Melalui bukti berupa perkembangan pendidikan yang dicapai oleh pengasuh pesantren Al Yasini, Pasuruan, saya hanya ingin menunjukkan betapa kekuatan semangat beribadah, niat ikhlas, motivasi, kesungguhan, dan ketulusan, sedemikian menentukan terhadap keberhasilan dalam mengembangkan lembaga pendidikan. Sebaliknya betapa besarnya anggaran, jika tidak diikuti oleh nilai-nilai luhur tersebut, hanya akan menyuburkan penyimpangan. Dan, itulah justru yang sebenarnya banyak terjadi di mana-mana. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
