Tidak sedikit tokoh agama mengkhawatirkan adanya gejala yang mereka lihat, yaitu semakin berkurangnya para peminat bidang studi ilmu-ilmu agama Islam. Perguruan tinggi Islam yang selama ini mengembangkan bidang studi ilmu-ilmu ke Islaman, seperti ushuluddin, adab, syariáh, tarbiyah, dan dakwah semakin tidak diminati lagi. Umumnya hanya fakultas/jurusan syariáh dan tarbiyah yang masih bertahan.
Kegelisahan itu tidak saja dirasakan oleh kalangan pengelola program studi itu, tetapi juga oleh para pejabat kementerian agama yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan agama. Kemerosotan peminat bidang studi itu, dianggap sebagai kemuduruan dan bahkan kecelakaan di kemudian hari. Atas dasar itu, maka sejak beberapa tahun terakhir, kementerian agama mengambil kebijakan khusus terhadap jurusan tersebut, di antaranya memberikan kemudahan dan bahkan beasiswa kepada siapapun yang mau masuk program studi itu. Cara ini dianggap efektif untuk mempertahankan eksistensi program studi agama itu. Padahal sebenarnya mereka juga tahu, bahwa justru dari fakultas-fakultas tertentu tersebut seringkali muncul pemikiran kontra produktif dari misi sebenarnya yang ingin diraih. Pikiran-pikiran yang dianggap liberal, —–yang umumnya tidak disukai para ulama’, justru berasal dari fakultas/jurusan langka peminat itu. Sehingga sebenarnya belum ada jaminan, bahwa lulusan dari fakultas agama, benar-benar bisa diharapkan akan memiliki semangat memajukan Islam di tengah-tengah masyarakat. Namun apapun alasannya, program studi yang disebut sebagai rumpun kajian agama, harus tetap hidup. Apakah para lulusannya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, dan bahkan juga oleh dirinya sendiri, tidak harus dipertimbangkan. Yang penting program studi tersebut harus tetap ada dan tidak boleh hilang, karena memiliki sejarah panjang. Namun umpama program studi itu benar-benar hilang, apakah Islam akan menghilang, tentu jawabnya tidak selalu akan demikian. Pada kenyataannya di banyak tempat, tanpa ada lulusan program studi agama, ternyata Islam tetap berkembang. Sehingga, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para perintis dan banyak orang yang telah berjasa dalam pengembangan program studi itu, ternyata Islam bisa dipahami dan dikembangkan oleh orang-orang yang berlatar belakang ilmu lainnya. Orang yang berlatar belakang ilmu fisika, kimia, biologi, kedokteran, antariksa, psikologi, sodsiologi, ekonomi, dan lain-lain, ternyata juga bersemangat dan berhasil menjalankan dan menyebarkan agamanya dengan gigih. Para ilmuwan sebagaimana disebutkan itu juga berhasil memahami ajaran Islam, —-al Qurán dan hadits, secara baik. Pemahaman mereka tentang Islam juga banyak yang mendalam, dan bahkan dengan disiplin ilmu yang dimiliki justru menjadikan pemahaman mereka terhadap kitab suci dan tradisi kehidupan rasul (hadits) menjadi lebih mendalam. Demikian juga, dengan berbekalkan pengetahuan kitab suci dan hadits nabi, mereka berhasil mengembangkan disiplin ilmu secara lebih luas dan juga lebih utuh. Munculnya kesadaran itu, menjadikan di banyak tempat mulai dibangun pusat-pusat riset dan juga lembaga pendidikan yang memadukan antara kajian yang bersumber dari al Qurán dan hadits, dan sekaligus hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Kitab suci dan hadits nabi diposisikan sebagai ayat-ayat qawliyah, sedangkan hasil-hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis, sebagai ayat-ayat kawniyah. Pengembangan ilmu secara utuh tersebut ternyata menghasilkan pemahaman dan atau penjelasan yang lebih sempurna, comprehensive dan mendalam. Namun sayangnya gerakan ini, masih pada taraf perintisan, atau bahkan baru sebatas wacana, sehingga hasilnya belum banyak bisa dilihat. Atas dasar kenyataan-kenyataan itu, sebenarnya tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan gejala adanya peminat “program studi agama” yang semakin merosot. Sekalipun keberadaan jurusan-jurusan tersebut dianggap penting, maka tidak berarti bahwa kemerosotannya akan selalu diikuti oleh kemunduran Islam. Islam bersumber al Qurán dan hadits nabi, kapan dan di manapun akan bisa dikembangkan oleh mereka yang berlatar belakang disiplin ilmu apa saja. Sepanjang masih ada orang-orang yang mencintai al Qurán dan rasulnya, maka Islam yang dibawa oleh Muhammad saw., akan tetap tumbuh dan berkembang. Kiranya tidak ada pihak-pihak yang merasa memiliki otoritas lebih dalam mengembangkan kajian al Qurán dan hadits. Sebab pada hakekatnya, kitab suci tersebut diturunkan untuk semua manusia, sebagai petunjuk, pembeda, penjelas, rakhmat, dan bahkan juga sebagai ashifa’. Al Qurán dan hadits terbuka bagi siapapun yang mengkajinya. Apalagi jika kita jeli mengamati sejarah dan juga kenyataan-kenyataan yang ada selama ini, Islam berkembang di berbagai tempat juga atas usaha banyak orang dari berbagai latar belakang dan juga dari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, sepanjang al Qurán dan rasul masih dicintai, maka Islam akan berkembang dan maju. Kemajuan itu bukan hanya tergantung pada adanya jenis program studi tertentu, melainkan pada kecintaan banyak orang terhadap kitab suci tersebut, dan sosok pribadi pembawa risalah itu, yaitu Muhammad saw. Dengan demikian, semakin kecilnya peminat “program studi agama” sebagaimana dimaksudkan di muka, sesungguhnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi anehnya, mereka yang sering mengkhawatirkan itu pun, juga belum tentu anak atau keluarganya didorong untuk masuk atau mengambil program studi tersebut. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
