Beberapa hari ini, saya selalu mengikuti tulisan-tulisan Pak Zainuddin lewat fecebook tentang apa yang dilihat selama di Jerman sekarang ini. Saya rasakan sangat menarik, karena saya pernah, walaupun hanya satu bulan, berkunjung ke negara itu. Bersama beberapa teman sesame pimpinan perguruan tinggi, —–atas biaya DAAD, saya berkesempatan mengunjungi banyak perguruan tinggi di sana. Sama dengan Pak Zainuddin, saya
mendapatkan gambaran tentang kultur akademik yang hidup di negeri itu. Kampus-kampus di Jerman memang tampak hebat. Perpustakaan dan laboratorium sedemikian komplit dan selalu diperbaharui menyesuaikan kebutuhan. Terasa benar bahwa perguruan tinggi, dengan perpustakaan dan laboratoriumnya sebagai pusat pengembangan ilmu. Orang-orangnya terasa sekali, sangat menyukai ilmu pengetahuan. Semangat ingin tahu dan usaha menjawabnya melalui penelitian dapat dilihat dan dirasaan. Mereka tekun bekerja di laboratorium untuk menemukan sesuatu yang baru. Saya ketika itu juga ketemu banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Mereka juga menjadi seperti orang-orang Jerman dan juga orang yang berasal dari negara-negara lain yang sedang belajar di sana, memiliki semangat akademik yang tinggi. Mereka pulang dan pergi ke kampus, ke perpustakaan, dan juga ke laboratorium. Mahasiswa Indonesia, menurut informasi yang saya dapatkan, prestasi akademiknya juga tidak beda dengan mahasiswa lain di Jerman, bahkan beberapa disebut lebih unggul. Saya ketika itu senang sekali mendengarkan informasi yang demikian itu. Setiap mengunjungi kampus-kampus di kota-kota yang berbeda, dan juga ketemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana, kesan yang saya tangkap adalah sama. Mereka menceritakan bagaimana perpustakaan yang bisa diakses pada setiap waktu, mendapatkan bimbingan dari para profesornya, dan bagaimana harus lama-lama berada di laboratorium, mereka menulis makalah untuk memenuhi tugas-tugas dari para profesornya. Semangat akademik mahasiswa Indonesia yang saya lihat ketika saya berkunjung ke negeri itu, sekalipun hanya selama satu bulan, adalah luar biasa besarnya. Pada setiap kali mendengar pembicaraan mereka, saya sangat senang sekali. Selanjutnya yang terbayang pada pikiran saya adalah alangkah hebatnya bangsa Indonesia nanti, setelah mereka pulang kembali dan berhasil mewarnai suasana akademik di perguruan tinggi di Indonesia. Menyaksikan keadaan itu, saya memiliki keyakinan dan optimisme yang sedemikian tinggi terhadap masa depan bangsa. Hal yang tampak dari keadaan fisik pada kampus-kampus di Jerman, seperti bangunan atau gedung-gedung, baik untuk perkuliahan, perkantoran dan pelayanan administrasi, sebenarnya tidak terlalu mengagumkan. Mungkin kampus-kampus di Indonesia pada saat sekarang ini sudah banyak yang menyamai. Mungkin kalau dicari bedanya, beberapa kampus di Jerman, saya lihat sedemikian luas, seperti satu kota tersendiri. Akan tetapi rupa dan suasana bangunannya tidak banyak yang terlalu mengagumkan. Dengan demikian soal penampilan fisik, umpama akan meniru, kiranya tidak sulit dilakukan. Atau bahkan selama ini sudah ada beberapa kampus di Indonesia yang sebenarnya sudah menyamainya. Sebab, sebagaimana di Indonesia dan juga di negara-negara lainnya, kampus-kampus di Jerman juga variatif. Ada beberapa kampus yang berukuran besar, tetapi juga ada yang kecil. Gambaran seperti itu sama dengan di Indonesia yang juga bervariasi. Adapun hal yang saya rasakan berat ditiru dari banyak perguruan tinggi di Jerman adalah yang terkait dengan pengembangan akademiknya. Semangat belajar, bertanya, meneliti, rasa ingin tahu dari orang-orang Jerman dan bahkan mahasiswa Indonesia yang sedang di sana, yang sedemikian tinggi itu, kiranya tidak mudah ditiru oleh perguruan tinggi di Indonesia. Membangun gedung, perkantoran dan fasilitas lainnya, tidak sulit meniru kampus-kampus di Jerman. Akan tetapi, dalam hal meniru pengembangan suasana akademik yang tidak mudah dilakukan. Apa yang saya gambarkan bahwa, sepulang dari Jerman para sarjana akan memberikan pengaruh besar terhadap iklim akademik di kampus-kampus di Indonesia, ternyata juga tidak semua bisa dibuktikan. Bahkan tidak sedikit lulusan dari Jerman, ketika sudah pulang ke kampusnya, justru kembali ke aslinya, sebagaimana mahasiswa yang tidak pernah ke sana. Bagi mereka yang menjadi dosen, kegiatannya hanya rutin, sehari-hari pergi ke kampus, mengajar, menguji dan pulang. Sedangkan kegiatan riset, atau tulis menulis, kebanyakan juga tidak terlalu aktif. Kalaupun ada perbedaan dengan lulusan dalam negeri, maka perbedaan itu seperti tidak signifikan. Itulah sulitnya membangun akademik di negeri ini. Orang yang sudah tinggal di Jerman yang sedemikian maju akademiknya hingga beberapa tahun, ternyata setelah pulang, maka kembali lagi ke aslinya. Padahal ketika masih di negara maju itu, mereka juga berhasil beradaptasi persis seperti orang-orang Jerman. Mereka juga bersemangat dan memiliki etos akadmik yang tidak kalah dari lainnya. Keadaan seperti itulah yang sering mendatangkan pertanyaan, apa sebenarnya yang salah dari lingkungan di negeri ini, sehingga membangun ilkim akademik sedemikian sulitnya. Namun anehnya tidak saja menyangkut akademik yang sulit dikembangkan, tetapi juga kegiatan ritualnya. Kita lihat misalnya, para jamaáh haji. Tatkala masih di Masjidil Haram atau di Madinah, mereka sangat giat shalat berjamaáh di masjid. Bahkan ketika pondokannya jauh dari masjidil haram atau masjid nabawi, mereka mengeluh karena tidak bisa shalat berjamaáh secara rutin. Mereka mengejar agar bisa arbain, atau shalat berjamaáh sebanyak 40 kali tanpa jeda. Akan tetapi, umumnya semangat berjamaáh itu kendor setelah mereka pulang ke tanah air, dan kembali ke aslinya, tidak terlalu suka ke masjid. Maka ternyata kedua-duanya, baik mengembangkan akademik dan juga spiritual, di negeri ini sama-sama sulitnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
