Monday, 20 April 2026
above article banner area

Berkompetisi Meraih Keberhasilan

 Pada pagi hari ini, tidak kurang dari 500.000 peminat masuk perguruan tinggi mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Semua ingin lulus dan diterima. Namun hal itu tidak akan mungkin terjadi. Jumlah kursi yang disediakan oleh seluruh PTN tidak  sebanyak itu. Pasti ada yang lulus dan diterima dan begitu juga sebaliknya ada yang tidak lulus.

  Idealnya memang, pemerintah mencukupi semua peminat masuk perguruan tinggi. Akan tetapi karena keadaan, hal itu belum mungkin dipenuhi. Biaya pengadaan dan penyelenggaraan perguruan  tinggi negeri sedemikian mahal,  oleh karena itu jumlah perguruan tinggi masih terbatas. Itulah sebabnya para peminat masuk,  harus berkompetisi dengan teman-temannya yang lain.  Dalam seleksi itu, perguruan tinggi negeri telah berusaha mengakomodasi antara kepentingan pemerataan dan sekaligus juga penghargaan. Asas pemerataan ditempuh dengan menggunakan kebijakan bidik misi dan undangan. Bagi mereka yang  secara ekonomi kurang mampu, maka pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional membebaskan seluruh biaya yang seharusnya dibayar oleh  mahasiswa. Dengan kebijakan itu, maka tidak ada lagi calon mahasiswa yang kurang mampu tetapi  berprestasi, tidak bisa kuliah.  Selain itu, perguruan tinggi negeri juga membuka penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan. Mereka yang berprestasi secara akademik  di masing-masing sekolahnya diundang oleh  PTN tanpa  melalui tes tulis. Seleksi dilakukan atas dasar prestasi yang diperoleh dari sekolahnya masing-masing. Strategi  penerimaan mahasiswa baru seperti itu juga bermakna, selain menghargai siswa berprestasi,  juga  sekaligus  sekolah  yang bersangkutan.  Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau disingkat dengan SNMPTN diselenggarakan untuk menselekti secara terbuka dan obyektif bagi seluruh peminat tanpa mempertimbangkan latar belakang keluarga, asal sekolah,  dan juga wilayah kelahiran  calon mahasiswa yang bersangkutan. SNMPTN adalah seleksi terbuka bagi siapapun yang berprestasi dan dinyatakan lulus, mendapatkan penghargaan   diterima masuk sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri yang diminati.   Dalam kehidupan ini berkompetisi  adalah lazim, artinya selalu terjadi. Mereka yang berprestasi dan memiliki keunggulan akan memenangkan kompetisi. Pada umumnya siapapun akan menerimanya hasil seleksi  dengan catatan,  penyelenggaraannya  dilakukan secara terbuka dan obyektif. Panitia seleksi telah melakukan hal itu. Soal ujian dibuat dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan dan  juga berbagai aspek penilaian, sehingga mereka yang unggul akan diterima lewat seleksi itu.    Dalam Islam juga dianjurkan untuk berkompetisi. Al Qurán dalam satu potong ayat,  menyebut fastrabiqul khoiraat, artinya berlomba-lombalah dalam kebaikan. Oleh karena itu siapapun dianjurkan untuk mengikuti perlomabaan  atau kompetisi. Perlombaan dalam hal kebaikan tidak mengenal finish, sehingga  bisa dilakukan secara terus menerus. Pemenangnya adalah hanya akan diketahui nannti di akherat.  Penilaian tentang kebaikan  dilakukan sendiri oleh Tuhan. Seseorang tidak akan bisa menilai masing-masing orang. Penilaian itu akan obyektif dan menyeluruh, termasuk aspek keikhlasan dalam  melakukan kebaikan itu. Aspek keikhlasan itulah  sehingga menjadikan tidak akan ada orang yang mampu melakukan penilaian secara obyektif.  Bagi mereka yang memenangkan kompetisi dan lulus dalam SNMPTN, maka  fase awal yang dilakukan adalah  mengingat Tuhan dengan memuji-Nya dan beristighfar. Selain itu, adalah menata niat. Bahwa kegiatan belajar yang akan dijalani harus didasari oleh niat atau motivasi beribadah, memenuhi perintah Allah untuk mendapatkan  ilmu yang bermanfaat. Kekeliruan dalam menata niat akan mengurangi nilai  seluruh apa yang dilakukannya. Jika misalnya belajar di perguruan tinggi hanya diniatkan agar setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan rizki banyak, maka apa yang dilakukan itu menjadi bernilai rendah dan sederhana.  Kegiatan mencari ilmu  harus dikaitkan dengan tuntunan kitab suci,  yaitu  untuk mendekatkan diri pada Allah.  Mendekatkan diri pada Allah bisa dimaknai, sebagai upaya agar memiliki sifat-sifat mulia, —–dalam kadar tertentu,  yang disandang oleh-Nya.  Sifat mulia itu misalnya sabar, ikhlas, adil, arif dan bijak, kaya, luas, mulia dan seterusnya. Tatkala seseorang berusaha mendapatkan ilmu melalui belajar, —-di mana saja, maka harapannya adalah agar berhasil menyandang sifat-sifat mulia itu. Siapapun orangnya dan berprofesi apapun, jika berhasil menyandang sifat-sifat mulia tersebut, maka hidupnya akan memberi  manfaat, baik bagi dirinya, keluarga maupun orang lain.  Sedangkan bagi mereka yang kalah dalam berkompetisi, maka harus berkeyakinan bahwa pintu sukses di dunia ini terbentang luas.  PTN  bukan satu-satunya pintu sukses. Apapun yang dihasilkan harus dipandang,  bahwa di belakang semua itu ada hikmah yang  hanya Tuhan sendiri yang mengetahuinya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun  yang gagal menjadi putus asa. Tuhan  memberikan peluang  sukses lewat berbagai pintu  yang tidak terbatas jumlahnya. Pintu itu harus dicari dan dipilih. Dengan sikap dan pandangan seperti itu, maka sekalipun gagal  akan tetap sehat dan tidak akan pernah merasa kehilangan apapun. Perlu diyakini bahwa sukses sebenarnya ada di mana-mana,  dan apalagi  pada saat dan situasi apapun telah selalu berusaha mendekat pada-Nya. Wallahu a’lam.            

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *