Pada pagi hari ini, tidak kurang dari 500.000 peminat masuk perguruan tinggi mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Semua ingin lulus dan diterima. Namun hal itu tidak akan mungkin terjadi. Jumlah kursi yang disediakan oleh seluruh PTN tidak sebanyak itu. Pasti ada yang lulus dan diterima dan begitu juga sebaliknya ada yang tidak lulus.
Idealnya memang, pemerintah mencukupi semua peminat masuk perguruan tinggi. Akan tetapi karena keadaan, hal itu belum mungkin dipenuhi. Biaya pengadaan dan penyelenggaraan perguruan tinggi negeri sedemikian mahal, oleh karena itu jumlah perguruan tinggi masih terbatas. Itulah sebabnya para peminat masuk, harus berkompetisi dengan teman-temannya yang lain. Dalam seleksi itu, perguruan tinggi negeri telah berusaha mengakomodasi antara kepentingan pemerataan dan sekaligus juga penghargaan. Asas pemerataan ditempuh dengan menggunakan kebijakan bidik misi dan undangan. Bagi mereka yang secara ekonomi kurang mampu, maka pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional membebaskan seluruh biaya yang seharusnya dibayar oleh mahasiswa. Dengan kebijakan itu, maka tidak ada lagi calon mahasiswa yang kurang mampu tetapi berprestasi, tidak bisa kuliah. Selain itu, perguruan tinggi negeri juga membuka penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan. Mereka yang berprestasi secara akademik di masing-masing sekolahnya diundang oleh PTN tanpa melalui tes tulis. Seleksi dilakukan atas dasar prestasi yang diperoleh dari sekolahnya masing-masing. Strategi penerimaan mahasiswa baru seperti itu juga bermakna, selain menghargai siswa berprestasi, juga sekaligus sekolah yang bersangkutan. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau disingkat dengan SNMPTN diselenggarakan untuk menselekti secara terbuka dan obyektif bagi seluruh peminat tanpa mempertimbangkan latar belakang keluarga, asal sekolah, dan juga wilayah kelahiran calon mahasiswa yang bersangkutan. SNMPTN adalah seleksi terbuka bagi siapapun yang berprestasi dan dinyatakan lulus, mendapatkan penghargaan diterima masuk sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri yang diminati. Dalam kehidupan ini berkompetisi adalah lazim, artinya selalu terjadi. Mereka yang berprestasi dan memiliki keunggulan akan memenangkan kompetisi. Pada umumnya siapapun akan menerimanya hasil seleksi dengan catatan, penyelenggaraannya dilakukan secara terbuka dan obyektif. Panitia seleksi telah melakukan hal itu. Soal ujian dibuat dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan dan juga berbagai aspek penilaian, sehingga mereka yang unggul akan diterima lewat seleksi itu. Dalam Islam juga dianjurkan untuk berkompetisi. Al Qurán dalam satu potong ayat, menyebut fastrabiqul khoiraat, artinya berlomba-lombalah dalam kebaikan. Oleh karena itu siapapun dianjurkan untuk mengikuti perlomabaan atau kompetisi. Perlombaan dalam hal kebaikan tidak mengenal finish, sehingga bisa dilakukan secara terus menerus. Pemenangnya adalah hanya akan diketahui nannti di akherat. Penilaian tentang kebaikan dilakukan sendiri oleh Tuhan. Seseorang tidak akan bisa menilai masing-masing orang. Penilaian itu akan obyektif dan menyeluruh, termasuk aspek keikhlasan dalam melakukan kebaikan itu. Aspek keikhlasan itulah sehingga menjadikan tidak akan ada orang yang mampu melakukan penilaian secara obyektif. Bagi mereka yang memenangkan kompetisi dan lulus dalam SNMPTN, maka fase awal yang dilakukan adalah mengingat Tuhan dengan memuji-Nya dan beristighfar. Selain itu, adalah menata niat. Bahwa kegiatan belajar yang akan dijalani harus didasari oleh niat atau motivasi beribadah, memenuhi perintah Allah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kekeliruan dalam menata niat akan mengurangi nilai seluruh apa yang dilakukannya. Jika misalnya belajar di perguruan tinggi hanya diniatkan agar setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan rizki banyak, maka apa yang dilakukan itu menjadi bernilai rendah dan sederhana. Kegiatan mencari ilmu harus dikaitkan dengan tuntunan kitab suci, yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah. Mendekatkan diri pada Allah bisa dimaknai, sebagai upaya agar memiliki sifat-sifat mulia, —–dalam kadar tertentu, yang disandang oleh-Nya. Sifat mulia itu misalnya sabar, ikhlas, adil, arif dan bijak, kaya, luas, mulia dan seterusnya. Tatkala seseorang berusaha mendapatkan ilmu melalui belajar, —-di mana saja, maka harapannya adalah agar berhasil menyandang sifat-sifat mulia itu. Siapapun orangnya dan berprofesi apapun, jika berhasil menyandang sifat-sifat mulia tersebut, maka hidupnya akan memberi manfaat, baik bagi dirinya, keluarga maupun orang lain. Sedangkan bagi mereka yang kalah dalam berkompetisi, maka harus berkeyakinan bahwa pintu sukses di dunia ini terbentang luas. PTN bukan satu-satunya pintu sukses. Apapun yang dihasilkan harus dipandang, bahwa di belakang semua itu ada hikmah yang hanya Tuhan sendiri yang mengetahuinya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun yang gagal menjadi putus asa. Tuhan memberikan peluang sukses lewat berbagai pintu yang tidak terbatas jumlahnya. Pintu itu harus dicari dan dipilih. Dengan sikap dan pandangan seperti itu, maka sekalipun gagal akan tetap sehat dan tidak akan pernah merasa kehilangan apapun. Perlu diyakini bahwa sukses sebenarnya ada di mana-mana, dan apalagi pada saat dan situasi apapun telah selalu berusaha mendekat pada-Nya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
