Thursday, 30 April 2026
above article banner area

Bertakziyah Ke Keluarga Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya bertakziyah ke keluarga yang terkena musibah, wafat. Pada umumnya, setiap orang yang datang bertakziyah merasa sedih. Saya pun sesungguhnya merasa hal yang sama. Tetapi di balik kesedihan itu, saya merasakan ada kebahagiaan tersediri. Kebahagiaan saya, ketika itu, bukan karena saya membenci terhadap orang yang meninggal, dan juga kepada keluarganya. Sama sekali tidak begitu. Saya justru menyenanginya. Keluarga tersebut di mata saya sedemikian bahagianya. Ibu yang wafat itu, menurut informasi yang saya terima, hafal al Qurán, lengkap 30 juz. Kegiatannya sehari-hari, semasa hidupnya, ibu ini adalah mengajar al Qurán kepada satri-santrinya. Tidak ada yang lain, selain itu. Cukup banyak anak belajar kepadanya, menghafal al Qurán. Selain itu, yang lebih membahagiakan saya lagi, bahwa kelima anaknya, semuanya juga hafal al Qurán. Lebih mengharukan lagi, ia sendiri yang mengajarkannya. Di tengah-tengah masyarakat global seperti ini, ternyata masih ada orang sholeh dan sholihah, yang mengukur keberhasilan hidup bukan dari banyaknya rizki yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari aspek lain yang lebih mulia, yaitu keberhasilannya memelihara kitab suci. Ketika itu, saya diminta untuk memberikan sambutan singkat pelepasan jenazah, sebelum diberangkatkan ke makam. Saya mengatakan bahwa, di tengah-tengah kesedihan ini sesungguhnya kita menyaksikan orang yang sangat mulia, dan jika kita renungkan secara mendalam, kita pun melihat kenyataan ini mestinya berbahagia. Selanjutnya saya mengatakan bahwa, ibu yang telah wafat ini sangat beruntung. Yaitu dipanggil oleh Allah swt., pada bulan yang mulia ialah di Bulan Ramadhan. Allah swt., memuliakan Bulan Ramadhan ini. Di Bulan Ramadhan, pertama kali diturunkan ayat al Qurán. Di Bulan Ramadhan pula, dipilih sebuah malam yang mulia, yaitu disebut dengan lailatul qodar. Di Bulan Ramadhan, Allah melimpahkan rakhmat, maghfiroh, dan menjauhkan orang beriman yang berpuasd, dari api neraka. Di bulan ini pula, Allah menutup pintu-pintu neraka, dan sebaliknya membuka lebar-lebar pintu-pintu surga. Saya ketika itu lalu mengatakan bahwa, ibu yang wafat ini, hidupnya diisi dengan kegiatan yang sangat terpuji dan sangat mulia. Tidak ada derajat yang lebih tinggi di muka bumi ini, kecuali memelihara dan mengajarkan al Qurán. Jenazah ini semasa hidupnya telah melakukan hal itu. Lalu, ia akhirnya juga dipanggil oleh Allah di bulan mulia, tanpa sebab sakit yang berarti, secara mendadak wafat. Itulah sebabnya, saya mengatakan bahwa di tengah kesedihan, kita merasakan bahagia, yakni mendapatkan tauladan, berupa kehidupan yang terpuji. Kiranya banyak orang menginginkan lahir dan kemudian mengakhiri hidup dalam keadaan yang mulia seperti ini. Kehidupan seperti ini adalah mulia, prestasi, dan merupakan keuntungan besar, dan tentu, tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Semoga peristiwa itu menjadi contoh dan atau tauladan bagi keluarga, kita, dan masyarakat pada umumnya. Semoga, kita dalam bentuk prestasi yang sama, atau juga bentuk yang lain, bisa menghiasi kehidupan dengan keimanan, amal sholeh, dan juga akhlakul karimah. Inilah bekal hidup yang sesungguhnya, insya Allah benar dan mulia. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *