Friday, 1 May 2026
above article banner area

Mencintai Semua

Lawan kata dari mencintai adalah membenci. Islam mengajarkan pada umatnya agar selalu mencitai semuanya.  Kata mencintai, atau menyayangi sedemikian bayak disebut dalam kitab suci al Qurán. Di antara as’maul husna,  adalah  sebutan Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang.  Sekalipun kata itu disebut berkali-kali dalam kitab suci, akan tetapi   manusia banyak melupankannya, —–bahkan justru yang dikembangkan justru sebaliknya, adalah saling membenci antara sesamanya.

  Manakala kita berpikir agak mendalam, keberadaan jagad raya ini  sebenarnya hanyalah karena  sifat Allah yang mulia itu. Kasih sayang Allah saja yang menjadikan alam raya, dunia, dan bahkan  kita semua ini ada.  Kita tidak pernah merancang akan ada, tetapi diadakan oleh-Nya. Tanpa berdoa untuk menjadi ada, kita ternyata diciptakan oleh Allah, lantas menjadi ada.   Pernahkah kita membayangkan sejenak saja, andaikan Allah tidak menjadikan makhluk, termasuk manusia, maka manusia tidak ternah ada. Ketiadaan itu selama-lamanya, tanpa batas, tanpa awal dan juga tanpa akhir. Sehingga kita tidak pernah ada dan menyaksikan keindahan hidup dan kehidupan ini. Bahkan kata “äda” pun, ——jika dunia ini tidak ada,  maka tidak pernah akan ada. Sebaliknya, yang ada adalah justru ketiadaan. Sampai di sini,  mungkin siapapun sulit membayangkan. Karena tatkala tidak ada, tidak akan membayangkan apapun. Karena memang semua tidak ada. Tetapi ternyata, karena cinta dan  kasih sayang-Nya,  semua  ini menjadi ada.   Semua keberadaan  diawali  oleh kasih sayang Allah. Oleh karena itu  maka  semuanya  membutuhkan kasih sayang. Namun pada kenyataannya, kebutuhan mendasar itu  banyak dilupakan orang. Sedemikian pentingnya, sehingga  sifat Allah yang paling sering disebut dalam al Qurán adalah arrahman arrahiem, yaitu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Kita membaca dalam kitab suci al Qurán, kalimat basmallah selalu disebut pada setiap surat, kecuali surat at taubah. Hal itu memberikan makna, bahwa betapa pentingnya, sifat itu mendapatkan perhatian manusia dalam kehidupan ini.   Kasih sayang ternyata tidak hanya dibutuhkan oleh semua manusia, melainkan juga makhluk lainnya. Binatang, tumbuh-tumbuhan, dan apa saja memebutuhkan sifat kasih sayang, termasuk juga kasih sayang manusia. Cobalah kita perhatikan, binatang ternak kita, manakala sehari-hari kita perhatikan, kita tunjukkan kasih saying, maka binatang itu akan merespon secara berbeda bilamana dibandingkan dengan orang lain yang belum mengenalnya.   Demikian pula tumbuh-tumbuhan, selalu membutuhkan kasih sayang. Tanaman yang kita perlakukan secara baik, penuh kasih sayang, kita pelihara, atau dirawat,  dipupuk, diberi air secara cukup, maka akan menampakkan wajah yang segar. Kita perhatikan, para petani bunga, sehari-hari mereka merawat dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran, maka tanaman mereka akan tumbuh sehat dan seolah-olah menunjukkan kebahagiaannya. Bandingkan misalnya, jika bunga-bungan itu, ditinggalkan dan dibiarkan beberapa waktu saja, pertumbuhannya akan berbeda, seolah-olah menampakkan kesedihannya.   Manakala binatang dan tumbuh-tumbuhan saja memerlukan kasih sayang, maka apalagi manusia, jelas selalu membutuhkannya. Semua orang memerlukan uluran kasih sayang dari siapapun. Orang yang semula bertemperamen keras, kasar,  dan bahkan liar, lama-kelamaan akan berubah menjadi halus dan lembut,  jika mendapatkan kasih sayang. Kasih sayang menjadi sangat penting,  dan selalu memiliki kekuatan yang amat dahsyat.  Kasih sayang bisa merubah watak seseorang. Maka dengan berbekalkan kasih sayang, orang tua akan berhasil mendidik putra putrinya. Seorang guru atau dosen akan berhasil mempengaruhi para murid dan atau mahasiswanya.   Akan tetapi,  kasih sayang hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik. Diawali dari  perkenalan itu, selanjutnya seseorang akan merasa dipahami dan dihargai. Jika hal itu berlanjut, maka  akan membuahkan  suasana kasih sayang itu. Kasih sayang tidak akan muncul mendadak atau tiba-tiba. Suasana itu lahir dari sebuah proses yang kadang kala cukup panjang.             Tidak berbeda dengan seorang bapak, guru atau dosen, para pemimpin pun juga dituntut mampu memberikan kasih sayangnya kepada semua yang dipimpinnya. Memang untuk mengendalikan orang memerlukan peraturan, undang-undang,  dan bahkan juga hukuman. Akan tetapi, itu semua efektifitasnya tidak ada yang mengungguli  rasa kasah sayang. Kasih saying pemimpin akan menjadikan  masyarakat hidup  tenang, teduh,  dan  merasa terlindungi. Sebaliknya, jika mereka hanya dihadapkan oleh peraturan, undang-undang atau apa saja namanya, yang bersifat mengancam atau membahayakan dirinya, maka tidak  akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.   Oleh karena itu, kasih sayang seharusnya diberikan kepada semua, tidak pandang etnis, suku, bangsa, agama, aliran  atau apapun.  Diskriminasi terhadap orang atau sekelompok orang atas lainnya, hanya akan memunculkan rasa tidak adil,  merasa diberlakukan secara berbeda, sehingga  akan melahirkan sakit hati, yang kemudian akan menjauh, atau setidak-tidaknya  akan  melahirkan suasana batin  tidak  tenteram, karena kurang mendapatkan kasih sayang itu.   Bangsa Indonesia pada saat ini, rupanya sedang memerlukan kasih sayang antar sesama. Berbagi sembako memang perlu, tetapi berbagi-bagi kasih sayang  lebih penting dari semuanya. Sedangkan, berbagi  kasih sayang harus dimulai dari para pemimpinnya, elitenya,  atau para tokohnya  di semua level. Hubungan-hubungan transaksional dan apalagi yang bersifat formal dengan mengancam, menghukum, dan mencari-cari kesalahan, ternyata tidak banyak membawa hasil. Pendekatan kekerasan dalam banyak hal, tidak terkecuali mengajak pada jalan yang benar sekalipun, —–ber-Islam misalnya,  tidak akan membawa hasil. Yang terjadi jika pendekatan kekerasan itu yang dipilih, justru akan mengakibatkan kebencian dan bahkan juga citra buruk. Sehingga untuk menciptakan kebaikan dan kedamaian,  seharusnya ditempuh  lewat  kasih sayang dan bukan dengan cara membenci. Nabi Muhammad saw., hingga berhasil membangun masyarakat Madinah, karena beliau sanggup mencintai semua. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *