Monday, 20 April 2026
above article banner area

Tilawah Merupakan Bagian Tugas Kerasulan

Tilawah yang artinya adalah membaca, adalah merupakan tugas yang pertama di antara tugas-tugas kerasulan lainnya, yauitu tazkiyah, taklim dan hikmah.  Tugas membaca ayat-ayat Allah dipandang sedemikian penting, oleh karena membaca adalah merupakan pintu mendapatkan ilmu pengetahuan.  Tidak akan mungkin diperoleh ilmu pengetahuan tanpa melalui kegiatan membaca.

  Dalam bahasa ilmu pengetahuan, kegiatan membaca terhadap alam, sosial dan humaniora  disebut observasi, eksperimen, dan penalaran logis.  Apa yang dibaca atau dieksperimentasikan adalah ayat-ayat Allah, yaitu alam semesta. Sedangkan alam semesta,  dalam hazanah ilmu pengetahuan dibedakan menjadi tiga, yaitu pertama, alam fisik yang selanjutnya disebut  ilmu-ilmu alam, kedua, perilaku  manusia disebut ilmu sosial,  dan ketiga, humaniora.   Bagian dari ilmu alam adalah fisika, biologi, kimia dan matematika, sedangkan ilmu-ilmu sosial adalah sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi atau budaya  dan adapun yang termasuk dalam kategori  humaniora adalah filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Semua itu adalah ayat-ayat Allah yang diperintahkan untuk dibaca yang dalam bahaya al Qurán disebut dengan  tilawah.   Mengikuti pemahaman tersebut, maka sebenarnya tatkala para siswa di sekolah atau madrasah belajar biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, filasafat,  bahasa dan sasstra, dan  seni, manakala kegiatan itu  diniati untuk melakukan tilawah yang didasari oleh niat karena Allah,  maka kegiatan itu adalah mebjadi bagian penting dari menjalankan perintah Islam.      Bertilawah terhadap ayat-ayat Allah adalah  bagian dari menjalankan Islam. Di antara tugas Rasul pun  adalah mengajak umatnya  bertilawah. Oleh karena itu,  sebenarnya tidak ada yang harus dibedakan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu Islam. Islam sendiri mengajurkan umat manusia untuk membaca jagad raya ini. Bahkan juga,  ayat al Qurán  yang pertama kali diturunkan, adalah perintah membaca.   Perintah tersebut dalam riwayatnya diulang-ulang oleh Malaikat Jibril. Padahal saat itu, di sekitar Nabi tidak tersedia buku, atau bahan bacaan lainnya.  Sedangkan yang ada  adalah pemandangan yang luas yang dapat dilihat dari atas bagian gunung di mana utusan Allah itu sedang berada. Selain itu, betapa lagi terhadap pentingnya persoalan ilmu pengetahuan, maka di antara Nama-Nama Allah yang diperkenalkan pertama kali adalah juga Yang Maha Pencipta.   Kegiatan membaca adalah merupakan pintu atau awal bagi siapapun untuk memahami sesuatu, baik membaca tulisan yang telah dibuat orang lain, maupun membaca jagad raya ini. Sedangkan pada saat sekarang, ——oleh para ilmuwan, alam  raya telah diformulasikan dalam berbagai jenis ilmu sebagaimana dikemukakan di muka. Sehingga,  dengan kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, maka kegiatan membaca bisa dilakukan secara langsung,  melalui buku atau observasi di alam terbuka atau di laboratorium-laboratorium sebagai pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan.   Oleh karena itu,  pekerjaan para peneliti di berbagai bidang ilmu pengetahuan,  sebenarnya adalah sangat tepat  dimaknai sebagai wujud dalam memenuhi tugas-tugas,  sebagaimana dilakukan oleh Rasul Allah, yaitu bertilawah. Kegiatan dalam bentuk mengkaji  ilmu alam, ilmu-ilmu sosial,  dan humaniora seharusnya sampai hingga  berhasil mengantarkan seseorang untuk bertasbih. Hanya pada kenyataannya, selama ini kegiatan itu terputus atau berhenti pada tatkala sebatas tahu, dan atau sekedar dinyatakan lulus ujian.     Bertilawah untuk mengantarkan seseorang  pada kesadaran, hingga menyatakan pengakuan terhadap Ke-Maha  Sucian Allah atau bertasbih inilah sesungguhnya merupakan puncak atau buah dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, semestinya kaum muslimin dengan semangat  bertilawah tersebut,  selalu berada di depan,  menjadi pelopor pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak semestinya kaum muslimin, ——sebagaimana keadaannya sekarang ini, mengalami keter tertinggalan dari umat lain. Ketertinggalan itu, kiranya disebabkan oleh kurang atau  terbatasnya dalam bertilawah terhadap ayat-ayat Allah, berupa alam semesta. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *