Thursday, 22 January 2026
above article banner area

Organisasi Grafik

  1. Organisasi Grafik

Pengorganisasian grafik (Graphic Organizer) adalah peta yang merepresentasikan struktur kognitif dan proses berpikir siswa. Dapat pula disebut sebagai kartograf kognitif (Wandersee, 1990 dalam Doran dkk, 2002). Menurut Marzano dkk (2001), pengorganisasian grafik memiliki peran penting dalam membantu siswa dalam mempelajari suatu materi, terutama membantu mereka dalam melakukan “identifikasi persamaan dan perbedaan”, yang merupakan strategi instruksional pertama untuk mendukung pembelajaran yang berarti. Hasil riset menunjukkan operasi mental ini adalah dasar bagi pemikiran manusia (Gentner & Markamn, 1994; Markman & Gentner, 1993; Medin, Goldstone & markman, 1995 dalam Marzano dkk, 2001). Dan bahkan dapat dibilang sebagai inti pembelajaran. Bila siswa dapat memikirkan persamaan suatu permasalahan dengan permasalahan yang pernah dihadapinya, ataupun mengidentifikasi perbedaan yang ditemuinya antara satu konsep dan konsep lainnya, maka akan lebih mudah baginya untuk memahami konsep tersebut.

Menurut Marzano dkk (2001) dalam membuat suatu grafik, terdapat 6 pola umum organisasi grafik:

        1. pola deskriptif. Pola deskriptif dapat digunakan untuk merepresentasikan fakta mengenai hal spesifik seperti orang, tempat, benda dan persitiwa. Tidak ada aturan khusus bagaimana meletakkan hal-hal yang dijelaskan terhadap hal lainnya. Contoh dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Descriptive Pattern Organizer

Pola sekuensi waktu. Pola ini mengorganisasi peristiwa dalam urutan kronologis. Dalam biologi sebagai contoh, misalnya urutan proses transkripsi dan translasi dalam rangka ekspresi gen. Pola ini sekuensi waktu (Time-Sequence Pattern in Arbitration) sebagai berikut:

  1. Step 1; A dispute originates between two parties

  2. Step 2; Both parties agree another person listen to their anguments and make a decision for them

  3. Step 3; The court appoints an arbitrator

  4. Step 4; In a setting much less formal than a trial, the arbitrator listens to both sides

  5. Step 5; The arbitrator makes his or her final decision, and the parties must abide by it.

        1. Pola proses/sebab-akibat. Pola ini menuntut penyajian informasi menjadi jaringan penyebab yang mengarah pada akibat spesifik atau sekuen langkah yang mengarah menuju pada produk spesifik. Sebagai contoh, pengorganisasi informasi mengenai faktor yang menyebabkan pembentukan tubuh yang sehat (lihat Gambar 2).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Procces/Cause-Effect for Negotiation

        1. Pola episode. Pola ini meminta organisasi informasi mengenai suatu even/peristiwa khusus termasuk (1) setting waktu dan tempat, (2) orang yang spesifik, (3) waktu spesifik, (4) sekuen peristiwa yang spesifik, (5) sebab dan akibat yang khusus. Pola ini dapat diterapkan misalnya dalam mempelajari Revolusi Perancis (lihat gambar 3) (Marzano dkk, 2001).

Duration

Place

 

Time

 

Effect

EPISODE

 

Cause

 

 

 

Person

Person

Person

 

 

Gambar 3. Episode Pattern Organizer

 

        1. Pola generalisasi/prinsip. Pola ini mengorganisasikan informasi menjadi pernyataan umum dengan contoh yang mendukung. Marzano dkk (2001) mencontohkan aplikasinya misalnya untuk menyajikan pernyataan “fungsi matematika adalah hubungan dimana nilai satu variabel bergantung pada nilai variabel lainnya”. Pola ini dapat dilihat pada Gambar. 4.

Generalization Principle

Example

 

Example

 

 

 

Example

 

Gambar 4. Generalization/Principle Pattern Organizer

        1. Pola konsep. Pola konsep merupakan pola yang paling umum, mengorganisasikan informasi seputar kata atau frase yang merepresentasikan seluruh kelas atau kategori orang, tempat, benda dan peristiwa. Karakteristik atau atribut konsep termasuk contohnya harus terdapat dalam pola ini. Conoth pola ini dapat dilihat pada Gambar 5.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Concept Pattern for Voluntary Mediation

Sebenarnya menurut Marzano dkk (2001) terdapat 4 generalisasi dari teori dan riset mengenai membantu siswa dalam menguasasi pemahaman pengetahuan dan penggunaannya, yaitu melalui (1) memberikan arahan jelas (eksplisit) mengenai identifikasi permasalahan dan perbedaan misalnya melalui diskusi dan inquiry; (2) meminta siswa untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan secara independen; (3) mempresentasikan persamaan dan perbedaan dalam bentuk grafik atau simbol; (4) memberikan banyak cara bagi siswa untuk mencapainya, yaitu melalui membandingkan (comparing), mengklasifikasi (classifying), membuat metafora (creating metaphors) dan membuat analogi (creating analogies). Comparing adalah proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antar benda atau ide. Classifying adalah proses mengelompokkan sesuatu yang serupa kedalam kategori yang dibuat berdasarkan karakteristik mereka. Creating metaphors adalah proses mengelompokkan pola umum atau dasar pada topik khusus dan menemukan topik lain yang berbeda namun memiliki pola yang sama. Creating analogies adalah proses mengidentifikasi hubungan antara pasangan konsep atau dengan kata lain, mengidentifikasi hubungan diantara hubungan. Organisasi grafik dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan comparing, classifying, creating metaphora, maupun creating analogies.

Adanya pengorganisasian grafik, menurut Marzano dkk (2001) merupakan cara yang paling umum untuk membantu siswa dalam merepresentasikan pengetahuan mereka secara nonverbal/non linguistik walaupun sebenarnya organisasi grafik merupakan gabungan (kombinasi) dari model linguistik dan model non linguistik karena terdapat kemampuan keduanya dalam membuat suatu grafik. Misalnya penggunaan kata dan frase menunjukkan adanya kemampuan linguistik sedangkan adanya penggunaan simbol dan panah untuk merepresentasikan hubungan menunjukkan adanya kemampuan nonverbal. Sedangkan menurut Doran dkk (2002), melalui penggunaan organisasi grafik dalam pelajaran tertentu, dapat membantu guru untuk mengetahui apa yang siswa ketahui, dan memfasilitasi siswa dalam mendemonstrasikan pembelajaran mereka dengan variasi yang berbeda. Hal ini sesuai dengan konsep perolehan pengetahuan secara konstruktivis. Dalam hal ini organisasi grafik memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai format asesmen alternatif.

Menurut Marzano (2001) tipe grafik yang umumnya digunakan oleh guru untuk mendukung pembelajaran, terutama untuk komparasi (pembandingan) adalah diagram Venn dan matriks perbandingan. Keduanya memiliki perbedaan pada penyajiannya. Bila diagram Venn disajikan dengan lingkaran yang saling berpotongan pada sisi tertentu, matriks perbandingan disajikan dengan bentuk tabel (lihat Gambar 6). Sementara itu, Doran dkk (2002) menyebutkan tambahan tipe lain dari organisasi grafik yaitu peta konsep dan Vee heuristic. Peta konsep adalah penyajian grafik dalam bentuk hirarki, sedangkan Vee heuristic lebih mengarah pada pemolaan permasalahan-teori-pelaksanaan penelitian/eksperimen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Grapic Organizer for Classification

 

 

Diantara berbagai macam pengorganisasian grafik yang dapat digunakan sebagai format asesmen alternatif adalah peta konsep, diagram Venn dan Vee heuristic (Doran dkk, 2002).

 

  1. Diagram Ven

Pada asesmen, siswa dapat diminta untuk menggambar sketsa original dan representatif atau dapat pula diminta untuk menggunakan diagram yang ada, dalam kaitannya untuk menunjukkan hubungan antara yang mereka observasi antar beberapa konsep. Sebenarnya pengerjaan grafik/diagram ini mirip dengan paper and pencil test karena sama-sama hanya membutuhkan pensil dan kertas, namun bedanya asesmen dengan teknik diagram Venn meminta siswa untuk membuat atau menginterpretasi respon nonverbal-gambar. Karakter inilah yang memungkinkan diagram Venn digunakan untuk menginvestigasi aspek konsep yang tidak dapat dideteksi oleh teknik asesmen tradisional, dan karenanya digolongkan dalam asesmen alternatif (Doran dkk, 2002).

Penggunaan diagram ini didesain untuk mengukur pemahaman siswa terhadap hubungan yang mereka amati atau temukan pada konsep sederhana, daripada hanya sekedar untuk mengukur pemahaman dari seluruh situasi (Doran dkk, 2002). Hal ini senada dengan pendapat Marzano dkk (2001) yang menyatakan bahwa diagram Venn berfungsi untuk mendukung siswa dalam memberikan pengamatan visual dari persamaan dan perbedaan antara 2 item. Persamaan antara 2 elemen digambarkan sebagai bagian yang saling overlapping diantara 2 diagram/lingkaran. Idealnya, diagram Venn yang baru dilengkapi dengan setiap karakteristik sehingga siswa dapat melihat dengan jelas bagaimana persamaan dan perbedaan antar elemen untuk tiap karakteristik yang mereka gunakan dalam pembandingan.

Contoh konsep yang memungkinkan teknik ini dapat digunakan misalnya pada asesmen (mengukur pemahaman siswa) mengenai hewan, serangga, mamalia, reptil, dan amfibi pada bidang biologi atau demikian pula dapat digunakan pada bidang kimia misalnya untuk membedakan elemen (unsur), senyawa, logam dan alloy.

Meskipun terbatas pada satu aspek pemahaman-yakni hubungan antara 1 konsep dan lainnya dari tipe yang serupa-diagram Venn teknik asesmen sangat berguna dan mudah digunakan. Sebagai contoh hal itu dapat digunakan sebagai dasar untuk interview lebih mendalam pada tiap individu siswa. Asesmen dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan dapat diajukan mengenai mengapa siswa menggambar diagram mereka dengan cara tertentu tersebut dan apakah area dan derajat overlap yang ada dalam diagram tersebut berkaitan dengan kasus yang sebenarnya terjadi.

Contoh gambar diagram Venn yang digunakan sebagai salah satu bentuk asesmen di sekolah dapat dilihat pada Gambar 7.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Venn Diagram: Pioneer Days and Today

 

 

  1. Vee Heuristik

Diagram Vee (Vee heuristic; Gowin’s Vee atau knowledge vee) dinamakan berdasarkan bentuk “V”-nya. Pertama kali pembuatan dan penggunaan diagram ini adalah untuk kelas sains. Diagram ini menyediakan struktur untuk eksperimen atau studi, memastikan dasar yang kuat untuk teori dan konsep dan analisis yang solid. Merupakan salah satu cara untuk merepresentasikan pengetahuan mengenai suatu subjek (Anonim, 2009). Menurut Doran dkk (2002), diagram vee merupakan diagram yang dibuat sebagai usaha untuk membantu siswa memahami pekerjaan laboratorium mereka berdasarkan pandangan konstruktivisme. Pemerolehan pengetahuan merupakan sesuatu yang bergantung konteks, bergantung pada pemahaman awal siswa, teori, kepercayaan dan prinsip yang siswa gunakan untuk melihat dan memahami dunia. Diagram Vee berguna untuk merencanakan dan melaksaakan studi atau eksperimen dan untuk mengevaluasi laporan. Dengan diagram Vee langkah atau informasi yang hilang menjadi terlihat jelas (Anonim, 2009). Bahkan Vee heuristic menurut penelitian Canas dkk (2008) juga dapat digunakan untuk menginduksi timbulnya higher level thinking.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Sketsa Vee Heuristic dengan komponen-komponen yang harus diisi (sumber: Anonim, 2009)

Vee heuristic merupakan salah satu organisasi grafik, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 8 yang menggunakan pengetahuan awal dan keterampilan dengan cara memberikan pertanyaan:

        1. Apa permasalahan dalam percobaan?

        2. Apa konsep kunci yang membantu untuk menjawab permasalahan?

        3. Metode inkuiri apa yang dapat menyediakan jawaban terhadap pertanyaan?

        4. Pengetahuan apa yang sudah diperoleh yang dapat membantu menjawab permasalahan?

        5. Apa yang harus dilakukan untuk membantu menjawab permasalahan?

Bentuk Vee sangat berguna dalam investigasi laboratorium karena berfokus pada pertanyaan spesifik. Seperti halnya organisasi grafik lainnya, Vee Heuristic cocok diterapkan untuk mengatasi siswa yang memiliki kemampuan bahasa yang kurang, dan memberikan kebebasan pada siswa yang lebih senang menggunakan teknik peta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan (Doran dkk, 2002).

Dalam menggunakan diagram Vee, siswa berfokus pada pengidentifikasian permasalahan pada bagian atas bentuk “V”, informasi teoritis dan konseptual pada bagian kiri “V”, ekperimen konkret, studi atau pengalaman pada bagian “V”, dan analisis dan evaluasi eksperimen dalam kaitannya dengan fokus permasalahan diletakkan pada bagian kanan “V” (Anonim, 2009). Meskipun ada penyajian bentuk lain seperti yang diberikan oleh Doran dkk (2002) (lihat Gambar 2.10), namun secara umum penyajian Vee heuristik dapat dibedakan menjadi 3 bagian. Fokus pertanyaan/permasalahan pada “ujung atas” Vee, bagian knowingyang menyediakan kemungkinan bagi siswa untuk menetapkan bagaimana teori, pengetahuan awal, dan keterampilan berkaitan dengan fokus permasalahan pada bagian kiri “V”, dan bagian doing, yang berisi rekaman data dan observasi, interpretasi data, dan kesimpulan untuk memecahkan permasalahan. Apabila ada komponen yang dapat ditambahkan adalah komponen “what am I doing?” pada bagian bawah Vee. Sebagai tambahan, peta konsep dapat pula dimasukkan pada bagian kiri, yang memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan pemahaman konseptual mereka dan untuk menunjukkan bagaimana konsep-konsep saling berhubungan. Format asesmen alternatif ini secara alamiah merupakan kegiatan instruksional yang konstruktivis, dan sangat cocok digunakan untuk asesmen diagnostik, formatif dan sumatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Vee Huristic. Roth and Verecake, 1993

 

Untuk menilai kemampuan siswa dengan menggunakan asesmen Vee heuristic, terlebih dahulu harus dikembangkan sistem penskoran. Sistem penskoran ini berfokus pada 4 komponen utama Vee: fokus permasalahan, deskripsi objek atau peristiwa, identifikasi konsep dan prinsip, dan perekaman/transformasi (lihat Tabel 1). Skor 3 dari 4 point yang tersedia untuk tiap komponen, bervariasi untuk tiap jumlah informasi atau detail yang disediakan siswa dalam diagram Vee-nya. Setelah sekelompok guru menggunakan sistem penskoran, modifikasi yang relevan dapat membuatnya lebih berguna.

 

Tabel 1. Sistem Penskoran Vee Heuristic yang diadaptasi dari Novak dan Guwin, 1984 (sumber: Doran dkk, 2002)

Angka yang lebih besar mengindikasikan informasi yang lebih kompleks

Fokus pertanyaan

  1. Tidak ada fokus pertanyaan yang teridentifikasi

  2. Ada fokus pertanyaan, tapi tidak berfokus pada konsep yang diidentifikasi pada sisi kiri Vee

  3. Ada fokus pertanyaan, termasuk konsep, tapi tidak membicarakan objek/perisitiwa, atau objek dan peristiwa yang salah

  4. Ada fokus pertanyaan yang jelas, termasuk konsep-konsep yang digunakan, dan membicarakan tentang peristiwa atau objek tertentu

Point

0

1

2

 

3

Objek/peristiwa

  1. Tidak ada objek atau peristiwa yang teridentifikasi

  2. Ada peristiwa besar atau objek, dan konsisten dengan fokus permasalahan, atau ada peritiwa atau objek namun tidak konsisten dengan fokus permasalahan

  3. Ada peristiwa besar dan objek teridentifikasi, dan konsisten dengan fokus permasalahan

  4. Sama dengan di atas, tapi juga menyarankan bagaimana dan data akan dikumpulkan

Point

0

1

 

2

3

Prinsip dan Konsep

  1. Tidak ada informasi yang dihadirkan pada sisi konseptual

  2. Ada beberapa konsep, tapi tanpa prinsip dan teori, atau prinsip yang ditulis adalah klaim pengetahuan yang didapat melalui investigasi

  3. Konsep dan paling tidak satu tipe prinsip (konseptual atau metodologi) atau ada konsep dan teori yang relevan

  4. Konsep dan ada 2 tipe prinsip, atau konsep, 1 tipe prinsip dan ada teori yang relevan

  5. Konsep, 2 tipe prinsip dan ada teori yang relevan

Point

0

1

 

2

 

3

4

Perekaman/Transformasi

  1. Tidak ada rekaman dan transformasi

  2. Ada rekaman, tapi inkonsiten dengan fokus permasalahan peristiwa utama

  3. Ada salah satu rekaman dan transformasi, namun tidak ditemukan keduanya

  4. Ada rekaman untuk peristiwa utama, transformasi konsisten dengan baik permasalahan utama maupun kemampuan dan kelas siswa

Point

0

1

2

3

 

 

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *