Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Bersilaturrakhiem Dengan Para Kyai

Hari Sabtu, tanggal 17 Oktober 2009, saya mendapatkan undangan dari Pondok Pesantren Tremas, Pacitan. Pondok pesantren itu menyelenggarakan kegiatan pertemuan Majlis Muwashollah bainal Ulama yang berada di daerah wilayah Mataraman. Hadir pada pertemuan itu para kyai pengasuh pesantren salaf, sejumlah tidak kurang dari 400 an orang. Sekalipun lokasi pondok pesantren Tremas, Pacitan cukup jauh, ternyata banyak kyai yang hadir. Saya lihat para kyai dari Pasuruan, Mojokerto, Kediri, Tulung Agung, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Magetan, Surabaya, Trenggalek, Blitar, Rembang, Solo, dan tidak ketinggalan hadir juga para kyai dari wilayah Pacitan sendiri. Dari Solo saya lihat Habib Sheleh al Jufri, dan dari Pasuruan Habib Abubakar. Dari Mojokerto, saya lihat hadir KH.Mahfudz. Dari Surabaya, Dr.KH. Dhiyauddin dan juga Ustadz Yusuf Mansyur hadir dalam acara itu. Dalam kesempatan itu, sebagaimana biasanya dalam pertemuan majlis Muwashollah di tempat-tempat lain, saya ditugasi menyampaikan berbagai hal terkait pandangan saya tentang pengembangan pendidikan Islam ke depan, termasuk pendidikan pesantren. Sekalipun para Kyai tahu bahwa saya bukan orang pesantren, tetapi selalu diharapkan ikut meramaikan pembicaraan tentang ke pesantrenan. Sudah beberapa kali saya mengikuti pertemuan Majlis Muwashollah seperti itu, di antaranya di Samarinda, Balikpapan, Malang, Situbondo, Lumajang, Batu, Semarang dan lain-lain. Bahkan saya juga pernah mengikuti kegiatan bersama para kyai tersebut di Tarim, Hadramaut, Yaman dan juga di Makkah dan Madinah. Melalui kegiatan itu saya mendapat banyak keuntungan, di antaranya bisa berdialog dan juga memahami sedikit banyak tentang pandangan-pandangan Kyai terkait dengan dakwah dan pendidikan. Pertemuan para kyai dalam majlis itu biasanya diisi dengan acara dialog dan berdiskusi terbuka di antara para Kyai. Di sela-sela acara pertemuan itu biasanya juga diselingi dengan membaca sholawat dan doa. Saya biasanya diminta berbicara tentang pesantren dan pengembangan pendidikan Islam. Saya merasa bersyukur bahwa pikiran-pikiran sederhana yang saya sampaikan, ternyata mendapatkan perhatian yang saya rasakan cukup dari para Kyai dan juga dari mereka yang hadir lainnya. Dalam kesempatan yang baik ini, di sela-sela pertemuan yang bersifat agak formal, saya selalu melakukan dialog informal dengan beberapa kyai. Dalam pertemuan terakhir ini hal yang saya rasakan menarik, artinya sesuatu yang baru bagi saya, adalah komentar kyai tentang penempatan santri di pesantren. Semula saya menyampaikan hasil pengamatan sementara, bahwa penghuni kamar yang jumlahnya lebih banyak, maka ternyata prestasi dan tingkat kedewasaannya lebih baik jika dibanding dengan mereka yang menempati kamar dengan jumlah penghuni yang lebih sedikit. Secara spontan hasil pengamatan saya tersebut ditanggapi oleh kyai, bahwa dengan jumlah penghuni yang lebih banyak maka artinya, masing-masing santri berpeluang mengenal lebih banyak orang dengan segala kharakternya. Selain itu juga para santri tersebut berkesempatan untuk bersaing dan bekerjasama dengan orang-orang yang jumlahnya lebih banyak. Lebih dari itu, mereka juga sekaligus secara langsung belajar atas kekurangan dan kelebihan teman-temannya yang banyak itu itu. Pesantren, kata kyai pada hakeketnya bukan saja belajar tentang isi kitab dan ilmu dari kyai dan ustadznya, tetapi juga belajar tentang kehidupan bersama. Kyai juga menambahkan bahwa, para santri tatkala kelak keluar dari pesantren terjun di tengah masyarakat akan bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki aneka ragam kharakter, tidak saja sebagaimana di pesantrennya, melainkan lebih beragam lagi. Para santri lulusan pesantren harus mampu berkomunikasi dengan siapun di tengah masyarakat. Kata kyai, tugas pesantren menyiapkan para santri agar mereka mampu hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam watak dan perilakunya itu. Selain itu, Kyai selalu kaya akan kata-kata arif dan bijak. Banyak saya dapatkan kalimat-kalimat itu dari setiap pertemuan dengan para Kyai. Dalam pertemuan terakhir di pesantren Tremas ini, saya dibisiki oleh kyai sepuh. Beliau mengatakan bahwa, agar hidup tidak terlalu terbebani, maka hendaknya jangan mengangkat sesuatu yang tidak bisa diangkat. Saya merasakan kalimat kyai sepuh ini memiliki makna yang sedemikian dalam. Kalimat arif ini, rasanya sulit saya lupakan begitu saja. Sementara ini saya memaknainya bisikan itu, bahwa agar selalu hati-hati dengan amanah. Amanah harus ditunaikan, dan jika diperkirakan tidak bisa dijalankan, maka lebih baik amanah itu tidak perlu diterima, apalagi dikejar-kejar. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *