Sunday, 31 May 2026
above article banner area

Kaya Bahasa, tapi Miskin Kosa Kata

Tak satu pun dari kita yang menyangkal bahwa kita memiliki kekayaan budaya yang demikian besar. Belum lagi kekayaan bahasanya hingga mencapai lebih dari 742 bahasa daerah. Karena itu, Indonesia merupakan penyumbang 12% dari seluruh bahasa yang ada di dunia yang berjumlah kurang lebih 6000 buah. Tak mengherankan jika para ahli bahasa menyebut Indonesia sebagai laboratorium bahasa raksasa dunia. Kita hanya kalah dengan Papua New Guinea yang memiliki bahasa lokal lebih banyak daripada Indonesia. Sebagai laboratorium bahasa raksasa, Indonesia merupakan lahan paling subur bagi para pengkaji bahasa untuk berbagai keperluan ilmiah.

Siapapun orang yang mengunjungi Indonesia juga sangat terkesan dan kagum terhadap aneka ragam budaya dengan warna-warni nilai-nilai lokal yang memberikan nilai tambah sebagai bangsa multikultur dan multietnik. Dalam hal kekayaan budaya, Indonesia juga tidak tertandingi oleh negara-negara tetangga di kawasan negara-negara ASEAN. Belum lagi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, sehingga menarik perhatian banyak investor untuk mengolah sumber alam yang kita miliki. Semuanya menjadikan Indonesia sebagai negeri subur dengan keanekaragamannya warisan nenek moyang kita. Begitu subur dan indahnya negeri ini, hingga Kompas (2/1/2011) membuat tulisan “Tuhan sungguh sedang tersenyum saat menciptakan Indonesia. Negeri indah yang subur dengan segala keanekaragaman budaya dan warisan nenek moyang”. Yang lain, dalam hal politik, misalnya, Indonesia saat ini dianggap sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Malah ada yang menilai sistem demokrasi Indonesia mengadopsi total sistem demokrasi Amerika Serikat. Wujudnya tidak ada rasa takut bagi orang untuk berbeda pendapat dengan penguasa, kebebasan hak politik individu dijamin, media bisa begitu bebas mengungkap berita dan seterusnya. Malah kadang-kadang berlebihan. Lambang negara ‘Garuda’ pun dianggap sebagai lambang negara paling indah karena syarat-syarat estetikanya sangat lengkap. Orang yang memandangnya akan terkesima dengan bentuk lambang negara kita tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa negeri yang sangat kaya budaya dan masuk dalam jajaran negara dengan sistem demokrasi terbesar di dunia ini tidak masuk dalam barisan pemain inti dalam percaturan global, baik di bidang politik, ekonomi, maupun budaya? Dalam tiga bidang itu, Indonesia tidak begitu diperhitungkan. Kalau pun diperhitungkan, hanya dalam bidang ekonomi perdagangan yang menjadikan Indonesia merupakan pasar potensial barang-barang impor karena jumlah penduduknya saat ini mencapai lebih dari 237 juta, nomor empat terbesar di dunia setelah Cina, India, Amerika Serikat. Dalam diplomasi internasional, Indonesia kalah dari negara jiran tetangga kita, Malaysia. Hilangnya dua pulau Sipadan dan Ligitan merupakan bukti konkret lemahnya diplomasi internasional kita. Dalam hal kepercayaan masyarakat internasional di bidang perbankan, kita jauh berada di bawah negara pulau, Singapura. Dalam hal produk-produk pertanian, kita juga tidak bisa mengimbangi Thailand yang produk pertaniannya membanjiri pasar Indonesia. Dalam hal harga diri bangsa, warga — terutama para TKI dan TKW —  diinjak-injak oleh bangsa lain, beberapa di antaranya mengalami siksaan fisik, diperkosa, malah ada yang meninggal dunia. Dalam hal olah raga, kita sulit menandingi Thailand di berbagai cabang. Bahkan dalam hal sepak bola, kita baru saja kalah dengan Malaysia dalam final piala AFF. Padahal, sebelumnya sudah sangat yakin bisa mengalahkan tim Malaysia, sehingga beberapa pemain tiap hari tampil di media untuk diwawancarai. Nah, kalau begitu kekayaan alam dan budaya tidak selalu berjalan linier dengan kekuatan di bidang-bidang lain, seperti politik, ekonomi, dan budaya. Padahal,  selama ini kita sering mendengar dalil bahwa kekayaan budaya merupakan salah satu kekuatan sebuah bangsa. Jika demikian, di mana kekuatan kita? Atau dengan pertanyaan lain apa artinya kekayaan budaya dan kehebatan sistem politiknya yang dimiliki itu jika ternyata kita begitu miskin dalam berbudaya? Buktinya belakangan perilaku masyarakat kita begitu beringas, mudah marah, emosional, suka melakukan perusakan, dan beretika tampaknya menjadi tindakan aneh. Perampokan bersenjata, kekerasan, terorisme, dan konflik antar-etnis silih berganti terjadi. Satu persoalan belum selesai, masalah baru  muncul. Kekerasan di suatu daerah masih berlangsung, konflik terbuka di tempat lain terjadi. Belum lagi bencana alam yang terus melanda beberapa daerah. Tentu semua itu menambah jumlah persoalan di negeri ini. Lebih aneh lagi, kampus juga tidak luput dari tindakan anarkis warganya. Perusakan terhadap sarana belajar mengajar sering kali terjadi. Padahal, kampus adalah lembaga akademik yang tugas utamanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencari kebenaran untuk selanjutnya dapat dipakai dalam kehidupan dengan perilaku arif. Jadi kita tidak bisa memahami perilaku seperti itu karena bertentangan dengan nalar logis yang berkembang selama ini. Sikap arif tampaknya menjadi barang mahal, sehingga masyarakat kita sejatinya terjangkit penyakit ‘kemiskinan kultural’. Jika dalam berperilaku sosial digambarkan seperti itu, maka dalam berbahasa pun masyarakat kita sangat miskin. Miskin kata, ragam, logika berbahasa, latah, miskin nuansa dan ceroboh berbahasa adalah sebagian bukti kemiskinan berbahasa masyarakat kita. Tampaknya,  dalil “bahasa menunjukkan bangsa” yang selama ini berkembang tidak lagi relevan. Sebab, bahasa kaum elit dan terpelajar tidak jauh berbeda dengan bahasa rakyat jelata. Ikuti saja dialog para elit politik kita di media cetak dan elektronik. Jika dicermati, akan tampak terjadinya kemiskinan berbahasa mereka. Padahal, semakin tinggi status sosial seseorang mestinya  diikuti dengan semakin kaya dan santunnya dalam berbahasa. Orang tidak merasa risih mengatakan kata-kata jorok dan vulgar. Padahal, bentuk kata yang diucapkan dan kalimat yang diproduksi  menggambarkan siapa penuturnya. Menggunakan perspektif ilmu neuropsikolinguistik, sebuah cabang ilmu bahasa yang mencakup kejiwaan dan fungsi otak dalam produksi bahasa, bisa digambarkan bahwa mungkin otak kiri orang-orang Indonesia lemah. Sebagaimana diketahui bahwa dalam perspektif neuropsikolinguistik, otak manusia terdiri atas dua bagian: kiri dan kanan. Otak kiri merupakan hemisphere atau wilayah kerja bahasa, yang meliputi kemampuan menulis, membaca, berpikir rasional dan analitis. Sedangkan otak kanan  merupakan kawasan tempat ideasi di luar bahasa. Jika demikian,  patut dipertanyakan apakah otak kiri masyarakat kita tidak banyak berfungsi. Anehnya lagi, kemiskinan berbahasa (linguistic poverty) ini belum dianggap sebagai masalah, karena masih tertutup dengan bentuk kemiskinan lain yang lebih substansial, seperti ekonomi. Berdasarkan data pemerintah, hingga kini masih terdapat kurang lebih 40 juta orang miskin. Di antara mereka ada yang makan nasi aking, dan nasi tiwul. Peristiwa beberapa hari lalu ada keluarga miskin di sebuah daerah yang 6 anggotanya meninggal satu demi satu setelah makan nasi tiwul sungguh memprihatinkan. Mereka terpaksa makan nasi tiwul karena tidak mampu membeli beras. Tragis ! Jika kita tidak segera mengatasi kemiskinan bahasa, maka kita tidak akan menjadi bangsa yang berkarakter kuat. Sebab, pemilihan kata yang tepat dan kalimat yang logis memancarkan karakter penuturnya yang kuat, dan itu mampu mempengaruhi para pembaca dan pendengarnya. Banyak peristiwa sejarah berawal dari pemilihan kata dan susunan kalimat yang tepat yang dapat menggerakkan dan menggetarkan denyut masyarakat untuk melawan kedholiman. Bung Tomo mengusir tentara sekutu yang mencoba masuk lagi untuk menjajah Indonesia dengan pekikan kata “Allahu Akbar”, yang mampu membakar semangat warga Surabaya untuk melakukan perlawanan. Bung Karno juga melakukan hal yang sama dengan memilih kata “Mati atau Merdeka’ sebagai pekik perjuangan yang mampu mengantarkan kemerdekaan Indonesia yang saat ini kita nikmati bersama. Kalau begitu, para pendiri negara ini sungguh orang-orang hebat dengan karakter yang kuat yang ditujukkan lewat pemilihan kata yang tepat dalam perjuangannya. Kendati saat itu mereka masih miskin harta, tetapi sudah memiliki kekayaan kata. Dan,  itu jauh lebih tinggi nilai kemanusiaannya. Karena itu, kepada mereka kita patut berbangga dan berterimakasih. Kepada mereka pula seharusnya kita mau belajar bagaimana agar tidak menjadi bangsa yang miskin kata dalam berbahasa. _______________ Malang, 9 Januari 2011  

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *