Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan orang Arab yang baru saja mengunjungi beberapa madrasah, pondok pesantren dan bahkan juga perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dia merasa senang sekali, bahwa di seluruh lembaga pendidikan yang dikunjunginya itu mengajarkan Bahasa Arab. Sebagai orang Arab melihat kenyataan itu, sangat membanggakannya. Namun di balik itu, dia mengaku merasa sangat sedih tatkala melihat bahwa, ternyata banyak guru Bahasa Arab yang tidak bisa berbahasa Arab dengannya. Seorang yang sehari-hari mengajar Bahasa Arab, tatkala ketemu dengan orang Arab, ternyata tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Arab. Sehingga dirasakan ada sesuatu yang aneh, dan tidak masuk di akalnya. Sesuatu yang dianggap aneh oleh orang Arab ini, ialah orang yang sehari-hari dalam waktu yang sekian lama mengajar Bahasa Arab, tetapi tidak bisa berbahasa Arab. Orang Arab tersebut menyebut bahwa, ada kekeliruan mendasar dari metode mengajar yang diterapkan. Guru tersebut ternyata hanya mengajar kalimat-kalimat berbahasa Arab, kemudian menunjukkan kepada murid-muridnya tentang kedudukan masing-masing kata, misalnya mana mubtada’ atau subyeknya dan mana khobar atau predikatnya, dan seterusnya. Masih menurut penjelasan orang Arab tersebut, bahwa semua komunikasi pengajaran Bahasa Arab antara guru dan murid yang dilaksanakan di semua lembaga pendidikan menggunakan Bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah setempat. Bahkan sedikitpun di antara mereka di kelas itu tidak menggunakan Bahasa Arab. Pengajaran seperti ini, menurut orang Arab, sampai kapan pun, dan dengan biaya berapapun, tidak akan banyak membawa hasil yang memuaskan. Jangankan muridnya, gurunya saja tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa yang diajarkannya. Orang Arab tersebut kemudian menjelaskan bahwa, semestinya belajar bahasa dimulai dari yang kecil dan sederhana. Kata demi kata yang sederhana diajarkan, dan bahkan pada fase awal, seorang guru harus memberikan toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat oleh murid-muridnya. Salah dalam belajar berbahasa tidak mengapa. Dia mengatakan bahwa anak-anak kecil orang Arab pun pada awalnya juga tidak mengucapkan kata dan bahkan kalimat secara benar. Tokh kata yang diucap secara salah itu masih bisa dipahami, dan akhirnya lama kelamaan anak-anak orang Arab bisa berbahasa Arab secara benar. Merespon pandangan itu, saya juga mengatakan, bahwa tidak saja orang Arab, orang Indonesia pun dalam belajar bahasanya sendiri juga demikian. Anak-anak kecil di Indonesia pada awalnya, tatkala menyebut kata durian dengan kata dulian, menyebut kata lebar dengan kata lebal, menyebut kata makan dengan kata akan, dan bahkan hanya kata kan, kan, kan. Dengan bahasa seperti itu, orang tuanya juga tahu apa yang dimaksud oleh anak kecil tersebut, dan tidak perlu menyalah-nyalahkan. Dalam pembicaraan itu, saya juga mengaku bahwa memang banyak kekeliruan yang dilakukan selama ini, termasuk dalam memilih metode mengajarnya. Kekeliruan itu tidak saja dalam pengajaran Bahasa Arab, tetapi juga bahasa asing lainnya. Lagi-lagi, dengan maksud untuk menghilangkan kegelisahannya, orang Arab mempertanyakan lagi, mengapa dalam belajar tidak memulai saja dari yang kecil dan sederhana, sehingga segala sesuatunya menjadi enak, tanpa terasa ada beban yang berat, tokh akhirnya akan menjadi bisa. Melihat kebingungan orang Arab seperti itu, saya sengaja tidak menambah kebingungannya lagi. Umpama saya juga menjelaskan, bahwa banyak anak-anak Indonesia yang hafal di luar kepala isi buku qowaid, yakni buku tentang tata Bahasa Arab, tetapi mereka tidak paham isinya, mungkin orang Arab ini akan tambah bingung lagi. Karena itu, saya tidak tambahkan informasi itu, khawatir dianggap lebih lucu lagi. Sesungguhnya, memang masih banyak hal di negeri ini yang harus diperbaharui, tidak saja dalam pengajaran Bahasa Arab dan juga bahasa asing lainnya, melainkan juga dalam berbagai bidang lainnya. Hanya saja, memperbaiki itu semua tidak mudah, karena juga belum tentu disadari bahwa apa yang dilakukan selama ini keliru. Membenarkan orang yang tidak merasa salah, maka sulitnya juga bukan main. Tetapi dari pembicaraan tersebut, saya sangat setuju terhadap pandangan orang Arab dimaksud, bahwa dalam belajar apa saja, seharusnya memulai dari yang kecil, sederhana, dan diulang-ulang, maka akhirnya akan menjadi bisa dan terbiasa. Melakukan kesalahan dalam belajar juga tidak perlu dihindari dan apalagi disesalkan. Sebab, berangkat dari kesalahan itu, para siswa akan meraih sesuatu yang benar dan lebih sempurna. Prinsip tersebut sesungguhnya tidak saja berlaku dalam hal belajar bahasa asing, tetapi juga dalam usaha-usaha lainnya yang lebih besar dari itu. Banyak orang sukses dalam hidupnya, selalu memulainya dari ukuran kecil dan sederhana. Dan memang, apa saja yang dilakukan secara tekun, ulet, dan istiqomah, akhirnya akan berhasil dan menjadi besar. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
